Kabar

Pemuda Ngejring: Semoga Desa Kami Lepas dari Status Desa Tertinggal

Padasuka.id – Wonigiri. Nama Dusun Ngejring akan terpatri dalam sejarah pemanfaatan air perut bumi untuk kepentingan masyarakat yang terjadi di salah satu petak negeri ini. Pasalnya, kata Ngejring disandingkan pada nama gua vertikal (luweng) yang terdapat di dusun tersebut, yang awalnya oleh masyarakat disebut Luweng atau Gua Jomblang. Mengingat nama Gua Jomblang juga dipakai untuk nama luweng di lain daerah, maka sebagai unsur pembeda, nama dusun ini disandingkan sebagai nama, sehingga menjadi: “Gua Jomblang Ngejring.” Demikian kiranya latar belakang penamaan pada gua vertikal yang sudah berhasil diangkat kandungan airnya dari kedalaman 180-an meter di perut bumi tersebut.

Salah satu kegiatan di atas Gua Jomblang Ngejring

Sesuai data kependudukan, warga Dusun Ngejring memiliki 44 KK yang berada di wilayah administrasi Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Sebagaimana umumnya wilayah bagian selatan Kabupaten Wonigiri yang termasuk bagian dari bentang karst Gunung Sewu, kontur tanahnya terdiri dari perbukitan batu kapur yang apabila kemarau tiba, kekeringan kerap melanda. Tahun ini, delapan desa di wilayah Kecamatan Paranggupito semuanya terdampak kekeringan dengan dua desa yang tercatat paling parah, yaitu Desa Gendayakan dan Desa Pelem.

Seorang pengurus karang taruna di Desa Gendayakan, Eko Andrianto, kepada Padasuka.id mengisahkan bahwa kekeringan di wilayahnya menjadi bencana tahunan. Warga Dusun Ngejring ini juga mengungkapkan, sejak tujuh bulan terakhir ini warga desanya mengalami kelangkaan air bersih yang sangat parah.

Salah satu tandon air di bagian belakang rumah warga Dusun Ngejring

Untuk tahun sekarang, kurang lebih 7 bulan terakhir ini kami merasakan betul dampak kekeringan yang melanda. Namun secara umum, kami darI jaman kemerdekaan sampai sekarang belum merasakan daerah kami merdeka. Karena di setiap tahunnya selalu kekurangan air,” ungkap Eko lalu melanjutkan.

Mayoritas warga kami rata-rata menggunakan air hujan yang ditampung dalam bentuk bak berukuran besar ketika musim penghujan. Apabila nanti setelah air tampungan itu habis, warga terpaksa membeli air tangki yang harganya berkisar Rp 170.000 pertangki ukuran 6000 liter. Itu pun hanya cukup untuk tiga minggu.

Eko Andrianto (paling kanan) bersama dua warga lainnya dan Gus Yayan (paling kiri) foto bersama di sisi luweng

Ditanya apakah ada bantuan selama mengalami kekeringan, menuruntnya ada. Tahun ini, jumlah bantuan lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya.

Untuk tahun-tahun yang lalu biasanya terbatas sekali bantuan-batuan dari pemerintah maupun dari kelompok atau komunitas yang peduli kekeringan. Tapi untuk tahun ini saya bersama Bapak Kepala Dusun dan para pemuda lainnya mengemis meminta bantuan lewat sosial media FB, dan alhamdulillah ada beberapa komunitas yang sudi membantu kami dengan menyalurkan beberapa tangki air untuk warga kami. Termasuk dari Pedepokan Dakwah Sunan Kalijaga atau PADASUKA. Alhamdulillah juga, beberapa waktu lalu, sebagai pimpinan PADASUKA, Romo Kiai Syarif Rahmat, berkenan hadir ke dusun kami yang terpencil ini.

Warga mengambil air dari tandon penyimpanan air yang duangkat dari dasar Gua Jomblang Ngejring

Lebih lanjut Eko mengungkapkan, “Kekeringan berdampak pada lemahnya perekonomian warga. Yang mana, bencana kekeringan ini hampir setiap tahun terjadi, dan warga susah payah untuk dapat membeli air tangki. Padahal warga di daerah kami untuk mencukupi kebutuhan sehari-sehari saja teramat berat, apalagi harus membeli air tangki.

Terkait dengan upaya eksplorasi air perut bumi di Gua Jomblang Ngejring yang dikerjakan oleh tim dari Gapadri Mapala ITN Yogyakarta yang digandeng PADASUKA, awalnya Eko mengaku pesimis. Sebab menurutnya, gua vertikal itu hanya dianggap sebagai luweng di tengah jurang yang tidak ada airnya kecuali di musim hujan.

Pada awalnya terus terang saya agak ragu, karena sudah ada beberapa kelompok pecinta alam mencoba masuk ke dalam luweng dan hasilnya nol. Pernyataannya bahwa di dalam luweng tidak ada sumber mata air. Namun setelah tim dari Gapadri Mapala ITNY yang dinisiasi oleh PADASUKA itu masuk dengan segenap keberanian dan keikhlasan yang luar biasa, ternyata akhirnya ditemukan sumber air yang cukup besar. Dan, dengan segala upayanya alhamdulillah air itu pun bisa diangkat dan dimanfaatkan oleh warga sejak pertama kali berhasil diangkat pada Senin pagi 7 Oktober 2019 yang lalu. Termasuk kami sekeluarga telah memanfaatkan air itu untuk dikonsumsi. Alhamdulillah bagus sekali. Atas semua itu, kami atas nama pribadi, karang taruna, dan warga, sangat berterima kasih kepada tim eksplorasi dari Gapadri Mapala ITNY bersama Pak Dosen Sulaiman Tampubolon dan kawan-kawan yang bekerjasama dengan tim PADASUKA. Dan, tidak lupa untuk jasa-jada Gus Rori dan Gus Yayan yang mengawal dan selalu mensuport dari awal hingga suksesnya kegiatan tersebut.

Suasana warga saat air berhasil dingkat

Di akhir perbincangan, Eko menyampaikan, “Harapan kami ke depan, dengan adanya sumber air di luweng Jomblang semoga berkah dan bermanfaat untuk warga Desa Gendayakan dan bisa meringankan beban keluh kesah warga terkait dengan pengadaan air bersih. Smoga desa kami ini lepas dari istilah Desa Tertinggal.” (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top