Kabar

Selama Kekeringan Masih Mendera, Mobil Tangki Terus Menderu

Padasuka.id – Wonogiri. Kemarau panjang yang melanda negeri ini telah menyebabkan sejumlah daerah diterpa musibah kekeringan. Satu di antaranya yang terjadi di wilayah Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Delapan desa di wilayah kecamatan bagian selatan Kabupaten Wonigiri ini rata-rata warganya mengalami kelangkaan air bersih. Walau upaya pemerintah melalui PDAM digulirkan, namun tetap tidak memadai. Apalagi, saluran pipa PDAM hanya terbatas pada rumah-rumah yang dekat dengan jalan raya. Sementara, rumah-rumah yang jauh dari jalan raya, masih belum dapat sambungan pipa. Bukan hanya itu, bagi mereka yang mendapat sambungan pipa, pengalirannya terbatas hanya satu minggu sekali. Sebab, mungkin karena pertimbangan debit air yang belum memadai, maka pembagian air digilir satu hari untuk satu dusun, satu hari untuk dusun yang lain, dan begitu seterusnya.

Penampungan air yang disebut ’embung’ sudah mengering

Pembangunan tampungan air berupa kolam besar yang disebut “embung” di salah satu desa, juga disediakan oleh pemerintah. Namun, kemarau panjang menyebabkan tampungan airnya habis, hingga di salah satu sudutnya kering kerontang. Akibat dari itu semua, warga masyarakat terpaksa harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli air dari penyedia jasa melalui tangki. Satu tangki berukuran 6000 liter, harganya mencapai Rp 170.000 bahkan bisa lebih, tergantung jarak dan kondisi jalan yang dilalui. Pembelian air tangki tentu bagi mereka yang memiliki cukup uang, atau memiliki ternak untuk dijual. Sementara bagi yang tidak punya, dapat dipastikan mereka akan meradang akibat kelangkaan air.

Gus Rori (kanan) dan Slamet (tengah) saat menyalurkan bantuan air tangki

Menyadari hal tersebut di atas, seorang pemuda bernama Slamet dan rekan-rekannya dari Gerakan Pemuda Ansor dan Banser serta tokoh masyarakat setempat membentuk “Posko Peduli Paranggupito.” Posko yang dimaksud adalah rumah tempat tinggal Slamet yang separoh ruangannya dijadikan tempat (kantor) untuk mengurusi dan menyalurkan bantuaan terhadap masyarakat yang memerlukan. Letak posko tersebut berada di seberang Kantor Polsek Paranggupito, tepatnya di Dusun Parang, Desa dan Kecamatan Paranggupito.

Kunjungan Ketum PADASUKA ke Posko Paduli Paranggupito

Posko tersebut, terang Slamet, terbuka bagi siapapun yang punya kepedulian untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak musibah kekeringan. Baik itu dari organisasi, komunitas tertentu, atau pun dari perorangan. Sampai sejauh ini, sudah banyak yang menyalurkan bantuan melalui posko bentukannya itu, antara lain dari dermawan secara perorangan, Nahdlatul Ulama (NU) dan beberapa Badan Otonomnya, termasuk dari Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA). Dan, sejak dibentuknya Tim Tanggap Darurat PADASUKA (TDP) untuk musibah kekeringan di Paranggupito pada Agustus 2019 lalu, melalui posko ini dan sejumlah relawannya, bantuan berupa air tangki dan sembako disalurkan dengan tetap dipantau koordinator lapangan TDP, Gus Rori.

Sabtu malam (12/10/2019) selepas shalat Isya’ sampai jelang pukul 01.00 WIB dini hari, Slamet mengkoordinir penyaluran air tangki ke beberapa rumah warga yang sudah mulai kehabisan air. Antara lain ke rumah Mbah Marmi dan Mbah Kastor, masing warga RT 02, RW 01, Dusun Parang, serta ke rumah Ibu Nguni, warga RT 04, RW 01, Dusun Parang –ketiganya masuk wilayah Desa dan Kecamatan Paranggupito.

Slamet (kiri) dkk, menyerahkan bantuan paket sembako bagi warga di Desa Sambiharjo, Paranggupito

Penyaluran air bersih melalui tangki, menurut Slamet sampai hari ini masih dibutuhkan. Mengingat, satu tangki air rata-rata hanya cukup untuk waktu tiga minggu. Sebab, air bantuan tersebut bukan hanya untuk keperluan minum, masak, mandi, dan nyuci, melainkan mereka berbagi juga dengan ternak peliharaannya. Yang mana, minuman ternak tentu lebih banyak dari konsumsi manusia.

Slamet mengirim bantuan air bersih Desa Paranggupito, Minggu malam (12/10/2019)

Masih menurut Slamet, meskipun nanti hujan sudah turun, penyaluran bantuan air bersih tetap harus dilakukan. Malahan, pada awal-awal musim hujan umumnya menjadi puncak kebutuhan air bersih bagi masyarakat Paranggupito. Sebab, di saat-saat awal musim hujan itu, pakaian kotor setelah berladang akan tambah banyak yang otomatis akan menambah pemakaian air dalam penampungan. Di samping itu, ketika musim hujan turun, biasanya saluran air dari PDAM akan dihentikan, dengan begitu masyarakat yang sebelumnya bisa mengandalkan air dari saluran pemerintah itu, akan terhenti mendapatkan air. Sementara bak penampungan mereka belum terisi maksimal. Oleh karenanya, Slamet dan rekan-rekannya akan terus berupaya menyalurkan bantuan air bersih, sebatas dana yang tetsedia di posko, sampai bak-bak penampungan warga yang mengandalkan curahan air hujan terisi dan memadai. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top