Kabar

Dari Jonggol Bergema Doa Para Nabi untuk Warga Negeri

Padasuka.id – Bogor. Para Nabi dan Rasul tentu memiliki kalimat doa yang banyak dalam masa hidupnya. Namun demikian, hanya sedikit yang diabadikan dalam Kitab Suci Al-Qur’an yang diturunkan ke Rasulullah Muhammad SAW. Dari yang sedikit itu tentu saja memiliki latar belakang sejarah yang luar biasa, hingga sebagian ulama menyebutnya sebagai “Mutiara Al-Qur’an.” Sebagai mutiara yang merupakan kalam suci-Nya maka sangat memungkinkan doa-doa itu menyimpan ‘tuah’ jika diamalkan. Hampir dari semua doa para Nabi yang diabadikan dalam kitab suci itu, sejak beberapa tahun lalu sudah dirangkum oleh KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA, menjadi satu kesatuan dalam bentuk kitab yang diberi nama “Munajat.” Bukan hanya kumpulan doa para Nabi, Dosen Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ) Jakarta ini juga melengkapinya dengan ‘awrad’ atau kumpulan wirid yang juga dipetik dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Minggu malam, 13 Oktober 2019 bertempat di kediaman almarhumah Ibu Suhaemi, Kampung Menan, Desa Sukamaju, Jonggol, Bogor, Jawa Barat, doa para Nabi yang terangkum dalam Kitab Munajat itu digemakan. Tidak banyak memang yang terlibat, hanya ada 11 orang. Tapi dari yang sedikit ini, semua memiliki tujuan yang sama, kukuh dalam simpuh untuk menyinari kampungnya dengan mutiara Al-Qur’an. Sebagaimana beragam untaian doanya yang antara lain untuk kemaslahatan penduduk negeri, dari Jonggol doa itu dipancarkan ke se antero negeri.

 

Malam itu adalah malam pertama mereka membuka Majelis Munajat di wilayah tersebut. Menurut putra Ibu Suhaemi, Ust. Awang Bachtiar, pembacaan Kitab Munajat di majelis yang baru dibuka itu, nantinya akan dirutinkan setiap malam Senin.

Disampaikan oleh Ustadz Awang, walau yang dijadikan Majelis Munajat tetap adalah kediaman almarhumah ibundanya, namun terbuka juga bagi masyarakat sekitar yang ingin ketempatan.

Ustadz Awang Bachtiar (Tengah)

Apabila jamaah ada yang ingin ketempatan, kita semua bisa hadir dan melaksanakan Munajat di rumah yang bersedia. Pelaksanaannya tetap Minggu malam Senin,” terangnya lalu melanjutkan.

Dalam pembukaan ini jamaah berjumlah 11 orang. Saya sampaikan bahwa untuk sebuah perjalanan panjang bukan ditentukan kuantitas tetapi kualitas, istikomah itu harus diperjuangkan. Insya Allah tetap kita istikomah dengan hal yang kecil, suatu saat akan besar,” paparnya.

Mengenai ibunda Ustadz Awang yang juga akrab disapa Mak Nyai, semasa hidupnya, almarhumah termasuk orang yang banyak kawannya. Selain berdagang masakan jadi di pasar, ia juga aktif di pengajian kaum ibu pada umumnya. Ia termasuk ibu yang memiliki kepribadian yang tegar dan sabar. Sejak ditinggal wafat sang suami pada tahun 1991, ia tampil sebagai pejuang keluarga. Ia harus bekerja keras untuk membesarkan anak-anaknya, antara lain adalah Awang Bachtiar.

Atas ketegaran sang ibu, Awang yang kini terlibat dalam pergerakan sosial dalam bidang dakwah, yakni Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) menyadari betul, bahwa sebagai anak, apapun yang ia raih selama ini tentu atas jasa dan perjuangan orang tuanya terutama sang ibunda. Karenanya, mengingat di PADASUKA yang diikuti sampai saat ini terdapat amaliah Kitab Munajat yang merupakan doa terbaik di seluruh dunia, sebagai wujud bakti kepada orang tuanya yang sudah tiada, di rumah masa kecilnya itu, terhitung sejak Minggu malam, 13 Oktober 2019 dijadikan Majelis Munajat.

Pernah juga saya mimpi ketemu ibu saya. Saya lihat di dinding rumah itu ada tulisan, ‘Laqad Jaakum…,’ sampai 2 ayat. Ibu saya bilang, ‘Kalau mau lihat Rasulullah, itu,” sambil menunjukkan ayat itu. Kemudian, besoknya saya mimpi juga, dalam tengah lautan ada ibu saya, ada juga Pak Kiai Syarif, saya disuruh wudhu’ dulu. Pak Kiai yang mimpin shalat. Entah, apakah itu mimpi bunga tidur atau memang ada maknanya saya kurang paham,” pungkas Awang saat berbincang dengan Padasuka.id. (AF)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top