Kabar

Inilah Teks Resolusi Jihad NU yang Disiarkan Surat Kabar Pada 1945

Padasuka.id.- Peristiwa diserukannya Resolusi Jihad NU yang sejak 15 Oktober 2015 lalu oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia, Ir H Joko Widodo (Jokowi) ditetapkan sebagai tanggal dan bulan Hari Santri Nasional (HSN), walau sempat dipinggirkan dari peta sejarah Nasional Indonesia, secara faktual tidak dapat dibantah. Terbukti, beberapa surat kabar pada saat itu (1945) turut menyiarkannya. Bahkan, satu di antaranya mengutip teks Resolusi Jihad tersebut secara lengkap. Yakni, surat kabar Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, Edisi No. 26, Tahun ke-I, Jum’at Legi, 26 Oktober 1945.

Resolusi Jihad itu sendiri dikeluarkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam rapat dua hari di Surabaya, antara lain untuk merespon pertanyaan Presiden Soekarno terhadap Rais Akbar PBNU, KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Merujuk dari berbagai sumber, sejak Indonesia diproklamasikan kemerdekaannya (17 Agustus 1945) sampai pada Oktober 1945 belum ada satu pun negara di dunia yang mau mengakui kemerdekaan Indonesia atau mengakui Indonesia sebagai sebuah negara. Hal itu terjadi karena propaganda Pemerintah Belanda yang menyebarkan berita ke seluruh dunia, bahwa Republik Indonesia yang dipimpin Soekarno dan Hatta, dikatakan sebagai negara boneka buatan fasisme Jepang. Sebagai seorang pemimpin, tentu hal ini sangat menggelisahkan hati Soekarno. Maka dari itu mesti ditemukan cara bagaimana meyakinkan dunia bahwa Republik Indonesia bukan negara boneka bikinan Jepang, melainkan Negara Kebangsaan yang didukung oleh seluruh rakyatnya.

Kemudian, pada pekan kedua bulan Oktober 1945, Presiden Soekarno mengirim utusan khusus ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, menemui Kiai Hasyim Asy’ari untuk meminta arahan terkait dengan hal tersebut di atas. Salah satu pertanyaan presiden yang akrab disapa Bung Karno itu adalah tentang hukum membela negara yang sudah merdeka, sekalipun negara tersebut bukan negara Islam. Dari sini, atas intstruki dari Kiai Hasyim, PBNU lalu mengundang seluruh konsul NU se-Pulau Jawa dan Madura untuk menggelar rapat besar yang dimulai dari 21 Oktober 1945 di Kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama), Jl Bubutan VI/2, Surabaya, Jawa Timur. Berdasarkan rapat para kiai yang saat itu dipimpin oleh KH Abdul Wahab Chasbullah, pada hari kedua (22 Oktober 1945) menghasilkan amanat berupa pokok-pokok tentang kewajiban ummat Islam dalam berjihad mempertahankan bangsa dan negaranya yang disebut, “Resolusi Jihad NU.” Seruan Resolusi Jihad itu disampaikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari.

Teks Resolusi Jihad NU di surat kabar Kedaulatan Rakyat

Berikut ini adalah isi Resolusi Jihad NU yang dimuat harian Kedaulatan Rakyat edisi Jum’at Legi, 26 Oktober 1945 sebagaimana disitir di atas –yang aslinya ditulis menggunakan ejaan lama. Untuk mempermudah para pembaca, salinannya di bawah ini disesuaikan dengan Ejaan yang Disempurnakan (EYD).

RESOLUSI NAHDLATUL ULAMA
Seluruh Jawa/Madura

Bismillahirrahmanirrahim

Resolusi:
Rapat besar wakil-wakil daerah (Konsul-konsul) Perhimpunan Nahdlatul Ulama Seluruh Jawa dan Madura pada tanggal 21–22 Oktober 1945 di Surabaya.

Mendengar:
Bahwa di tiap-tiap daerah di seluruh Jawa-Madura ternyata betapa besarnya hasrat ummat Islam dan alim ulama di tempatnya masing-masing untuk mempertahankan dan menegakkan AGAMA, KEDAULATAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA MERDEKA.

Menimbang:
a.Bahwa untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum AGAMA ISLAM, termasuk sebagai suatu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam

b.Bahwa di Indonesia ini warga negaranya adalah sebagian besar terdiri dari ummat Islam.

Mengingat:
a.Bahwa oleh pihak Belanda (NICA) dan Jepang yang datang dan berada di sini telah banyak sekali dijalankan banyak kejahatan dan kekejaman yang mengganggu ketenteraman umum.

b.Bahwa semua yang dilakukan oleh semua mereka itu dengan maksud melanggar kedaulatan Republik Indonesia dan agama, dan ingin kembali menjajah di sini, maka di beberapa tempat telah terjadi pertempuran yang mengorbankan beberapa banyak jiwa manusia.

c.Bahwa pertempuran-pertempuran itu sebagian besar telah dilakukan ummat Islam yang merasa wajib menurut hukum agamanya untuk mempertahankan kemerdekaan negara dan agamanya.

d.Bahwa di dalam menghadapi sekalian kejadian-kejadian itu belum mendapat perintah dan tuntutan yang nyata dari Pemerintah Republik Indonesia yang sesuai dengan kejadian-kejadian tersebut.

Memutuskan:
1.Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap fihak Belanda dan kaki tangan.

2.Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat “sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam. 
….

Demikian isi seruan Resolusi Jihad NU seperti dimuat di surat kabar Kedaulatan Rakyat. Namun dalam penyampaiannya –mungkin sesuai perkembangan kondisi– di lapangan seringkali terjadi penekanan dengan mencantumkan kalimat “fardhu ‘ain” dan sebagainya. Satu misal, seperti diungkap Agus Sunyoto dalam, “Resolusi Jihad NU dan Perang 4 Hari di Surabaya” (2016) yang menyertakan kalimat: “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)…

Kantor PBNU pertama di Jl Bubutan Surabya tempat rapat besar NU yang menghasilkan Resolusi Jihad (Foto: Istimewa)

Setelah itu, melalui konsul-konsul NU yang hadir dalam rapat besar NU di Jl Bubutan tersebut, seruan Resolusi Jihad disebarkan ke seluruh warga NU khususnya, dan terhadap ummat Islam pada umumnya, di seluruh pelosok Jawa dan Madura.

Dampak dari seruan itu ternyata memiliki pengaruh yang luar biasa dalam memompa semangat ummat Islam khususnya, untuk berjuang mengangkat senjata melawan kedatangan Belanda yang membonceng pada pasukan Inggris (Sekutu) selang beberapa hari setelah diserukannya Resolusi Jihad –yakni pada 25 Oktober 1945. Pondok-pondok pesantren dan kantor-kantor NU dari tingkat Cabang sampai Ranting segera menjadi markas Hizbullah yang menghimpun para pemuda, terutama kaum santri yang rela berjuang dengan semangat tinggi meski dengan persenjataan yang sangat terbatas. Di antaranya juga, dampak dari Resolusi Jihad ini telah menyebabkan perang rakyat selama 4 kali di Surabaya sebelum akhirnya pecah pertempuran paling mengerikan pada 10 November 1945 sebagai dampak dari terbunuhnya Jenderal Inggris, AWS Mallaby. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top