Kabar

Institusi Langgar dan Tradisi Islam Nusantara

Padasuka.id – Madura. Dalam seminar nasional yang digelar oleh Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 12 Maret 2015 lalu, salah seorang pembicara, Drs H Ridwan Saidi mengungkapkan tentang tradisi langgar sebagai institusi masyarakat Nusantara. Budayawan Betawi ini mempertegas pendapatnya, bahwa sejak abad ke-2 Masehi, sejumlah muballigh dari Palestina telah datang ke Nusantara dan menyebarkan ajaran tauhid dengan langgar sebagai institusinya. Dari satu langgar ke langgar di daerah yang lain, mereka memperkenalkan tentang keesaan Tuhan. Dijelaskan pula, saat itu langgar bukan hanya dijadikan tempat ibadah segaimana umumnya, melainkan juga sebagai ruang serbaguna, mulai dari tempat menerima tamu, musyawarah, kumpul keluarga, dan lain sebagainya. Tradisi lama ini ternyata masih lestari di sebagian besar wilayah Pulau Madura. Sehingga di sana, dikenal adanya satu rumah atau satu lingkup keluarga yang berdampingan rumah, dengan satu langgar sebagai bangunan yang “wajib” ada. Meskipun antara satu rumah dengan rumah yang lain saling berdekatan, umumnya warga masyarakat sama-sama memiliki langgar. Sebab, secara umum masyarakat di pulau garam ini menjadikan langgar sebagai institusi dengan fungsi seperti disitir di atas.

Para kiai dan para sepuh duduk di atas langgar dalam acara aqiqahan

Masih seputar fungsi langgar di pulau Madura, Kamis malam, 17 Oktober 2019 di langgar milik keluarga Muhammad Hasan (almarhum) yang beralamat di Kampung Benyek, Desa Serabi Barat, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, Madura, digelar acara aqiqahan salah seorang cicitnya. Adalah Rafiansyah Althaf Hasan yang memasuki usia 40 hari kelahirannya tengah diaqiqahi dengan prosesi cukur rambut secara simbolis oleh para kiai sambil diiringi bacaan shalawat berirama –yang umum disebut “Srakalan.” Prosesi sakral ini dimulai dengan membawa si anak ke atas langgar untuk dicukur sebagian rambutnya serta didoakan oleh para kiai dan para sepuh.

Bayi Rafiansyah saat dibacakan doa oleh salah seorang kiai di atas langgar

Setelah dari atas langgar, bayi Rafiansyah yang merupakan putra kedua pasangan Riko dan Munawaroh itu kemudian dibawa ke halaman rumah untuk dididoakan oleh para tetangga dan tamu undangan yang hadir. Dengan diiringi tabuhan rebana bercampur alunan shalawat, suasana tampak begitu indah. Areal rumah yang berada di perkampungan desa ini mendadak jadi semarak. Satu sama lain tampak guyup mendoakan generasi penerus bangsa dan agama tersebut.

Diiringi shalawat dan tabuhan rebana, Rafiansyah dibawa keliling untuk di doakan

Selain aqiqahan yang menjadi acara inti, momentum ini juga dimanfaatkan sebagai haul para sepuh keluarga tersebut yang diisi dengan pembacaan Surat Yasin dan kalimat thayyibah lainnya serta doa arwah yang umum disebut “Tahlilan.” Dari semua rangkaian acara dan tempat acaranya, tampak masih lestari tradisi keagamaan yang menjadi ciri khas dari Islam Nusantara. Lebih dari itu, prosesi ini sebagai bukti bahwa pemanfaatan langgar sebagai institusi yang merupakan warisan tradisi asli Nusantara sejak ribuan tahun silam, di wilayah ini ternyata masih lestari.

Suasana di halaman rumah di depan langgar saat Srakalan

Sebagai catatan tambahan, dalam menyebut bangunan khusus itu, secara umum masyarakat Madura masih menamainya dengan “Langgar.” Tampaknya mereka masih mempertahankan dari sisi penamaannya walau sebagian masyarakat Indonesia mulai bergeser menggunakan kata Arab, “Mushalla,” untuk kata Langgar yang juga berfungsi sebagai mushalla : kata tempat dari kata kerja shalla yang secara harfiyah berarti tempat shalat. Sebab sejatinya, langgar bukan hanya mushalla melainkan juga sebuah institusi warisian tradisi lama. (AF)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top