Kabar

Dari Bulldog Hingga Wani Piro Juarai Kontes Layangan Khas Madura

Padasuka.id – Madura. Mendengar kata Bulldog, mungkin pikiran kita akan tertuju pada salah satu anjing ras tertua di dunia yang berasal dari Inggris. Namun, kata Bulldog di sini bukanlah ras anjing serta tidak ada kaitannýa dengan dunia binatang, melainkan nama sebuah layangan yang diikutsertakan dalam kontes layangan tradisional khas Madura. Entah karena apa layangan itu diberi nama ras anjing oleh pemiliknya; yang pasti layangan Bulldog dapat “menyalak” dengan baik di udara hingga akhirnya berhasil menyabet juara satu pada klasemen A kontes layangan berukuran jumbo tersebut.

Tampak peserta tengah mempersiapkan layangannya untuk diterbangkan

Seperti telah diberitakan sebelumnya, sejak Minggu, 27 Oktober 2019 diselenggarakan kontes layangan khas Madura di sebidang tanah lapang di Kampung Pangkenong, Desa Serabi Barat, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan (Madura), Jawa Timur. Layangan khas tersebut dalam istilah setempat dinamai “Lan Bulanan.” Karena kontes layangan khas, maka semua bentuk dan modelnya sama. Selain bentuk, yang menjadi ciri khas dari layangan ini adalah “pita” penghasil bunyi yang diletakkan pada bagian atas bodi layangan –dalam bahasa Madura disebut “Sabhengan.” Pita suara tersebut berbahan rotan yang dibelah tipis dan dihaluskan lalu dibentang dengan bilah bambu khusus. Sehingga, jika pita itu tertimpa angin maka akan menghasilkan bunyi yang menderu-deru sesuai irama angin.

Detik-detik layangan mulai mengudara

Dalam kontes kali ini diikuti oleh seratusan peserta yang berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Bangkalan, semisal dari Serabi Barat (tuan rumah) Jebuneh, Longke’, Brakas, Gelbung, Pangpajung, Bulak, Langpanggang, Lombang, dan lain-lain. Karena banyaknya peserta, jalannya kontes yang semula diperkirakan selesai selama dua hari, ternyata sampai tiga hari. Yakni dari Minggu, Senin, hingga Selasa (27–29/10/2019).

Adapun teknis perlombaannya, dalam satu waktu (babak), dinaikkan empat layangan sekaligus dari masing-masing peserta sesuai nomor urut. Untuk membedakan antara satu layangan dengan yang lainnya saat penilaian, di masing-masing layangan diberi pita (slempang) berbeda warna yang diikatkan pada benang penarik di bagian atas –agak dekat dengan tali kekang. Setelah layangan mengudara, semua peserta diberi waktu tiga menit sebagai masa penilaian. Ketika waktu sudah habis, maka juri yang berada di tengah lapangan akan mengangkat bendera sesuai warna ‘slempang’ yang diikatkan pada benang layangan masing-masing peserta. Misalkan, jika layangan berslempang merah yang dinyatakan menang, juri akan mengangkat bendera warna merah, dan begitu seterusnya. Dari putusan juri di tengah lapangan lalu diteruskan ke pemandu kontes yang berada di tepi lapangan (tenda panitia) untuk kemudian diumumkan menggunakan pengeras suara, sehingga semua peserta dan penonton langsung dapat mengetahuinya. Adapun kriteria penilaian dalam kontes kali ini meluputi gerakan layangan, kelenturan sayap, serta keindahan suara yang dihasilkan oleh sabhengan.

Empat layangan tengah berlaga di udara

Secara keseluruhan kategori kontes dibagi dua klasemen, A dan B dengan penilaian sesuai kriteria yang ditentukan panitia dan juri. Dari seratusan peserta kontes, setelah melakukan penyaringan selama dua hari, pada hari ketiga menghasilkan delapan juara. Masing-masing diraih:

Klasemen A
Juara 1: Bulldog, atas nama Abdurrahman
Juara 2: Sangkolan, atas nama Kuddus
Juara 3: Gaya Baru, atas nama Nofal
Juara 4: Ombak Tsunami, atas nama Kuddusl

Klasemen B
Juara 1: Kor Bejreh, atas nama Alek
Juara 2: Edinah Neser Ekabin Enger, atas nama Topan
Juara 3: Janda Geboy, atas nama Mayu
Juara 4: Wani Piro, atas nama Hamid

Seorang juri saat mengangkat bendera sebagai tanda penilaian

Menurut keterangan panitia dan pengakuan sejumlah peserta, ajang kontes ini lebih kepada wahana silarurahmi antar sesama penggemar layangan Lan Bulanan. Kecuali itu, juga sebagai upaya pelestarian budaya dari jenis permainan tradisional yang memiliki ciri khas yang unik dan etnik. Meskipun demikian, panitia kontes tetap menyediakan sejumlah hadiah, mulai dari televisi dan lain-lainnya sebagai perangsang bagi peserta.

Saat layangan sudah diturunkan

Layangan Lan Bulanan khas Madura memang memiliki keunikan tersendiri dan sangat melegenda di pulau garam, dari masa ke masa hingga ke era serba digital seperti saat sekarang ini. Selain bentuknya, deru suara pita rotan yang mengalun terdengar sampai pada titik yang sangat jauh –apa lagi di malam hari– atau tergantung ke mana gelombamg udara memabawa alunannya. Untuk itu, sangat baik jika pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pariwisata atau Kementerian Desa, dapat mengembangkan serta mengemasnya lebih maju lagi sebagai upaya pelestarian tradisi asli anak negeri, atau sebagai ikon salah satu permainan tradisional unggulan. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top