Kolom

Kebutuhan Dimensi Lahir dan Batin Manusia (bagian dua)

Ilustrasi

Oleh Ustadz Fauzih Spdi

Fisik manusia memerlukan makanan sebagaimana dijelaskan pada tulisan ini dibagian satu, begitupun dengan batin kita sejatinya lebih memerlukan makanan, makanan yang buruk yang masuk kedalam fisik kita akan membuat fisik kita menjadi lemah dan merasakan sakit, begitupun juga dengan batin kita apabila tidak diberikan makanannya akan lemah tidak berdaya dan merasakan sakit, tetapi banyak dari manusia yang hanya memikirkan makanan fisik saja, tanpa memperdulikan makanan batin yang juga tidak kalah pentingnya.

Jika jasad lahir tadi memerlukan makanan yang baik dan banyak kandungan nilai gizinya, maka batin juga memerlukan makanan yang sama atau hiburannya yang baik untuk membina batin atau memberi kekuatan kepada batin. Makanan yang baik dan bersih untuk batin ialah dzikir, tasbih, tahmid, tahlil, sembahyang, puasa, baca Al Quran, doa, selawat, tafakur, mendapatkan ilmu yang memberi manfaat, memahami dan merasakan tentang kebesaran dan kehebatan Allah, memahami kenapa Allah datangkan ujian, memahami hikmah segala ketentuan Allah ( qodo dan qodar) baik yang baik dan buruk. Juga berjuang dan berjihad, berdakwah dan mengajar karena keridhaan Allah, berkhidmat dengan manusia dengan ilmunya, tenaganya, hartanya, dengan memahami dan menghayati serta dengan hati yang penuh ikhlas.

Salah satu makanan batin adalah zikir ( mengingat Allah), sebab dengan dzikir hati menjadi tenang sebagaimana firman Allah SWT:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berdzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).

Ibnu al-Qayyim dalam salah satu buku karyanya menulis, fadilah dzikir itu ada 80 macam. Semuanya penting kita ketahui. Namun dalam tulisan sederhana ini penulis ingin menyampaikan beberapa fadilah dzikir sebagai makanan batin manusia.

Berdasarkan hadits Rasulullah SAW, fadilah zikir dapat menghapus dosa, walaupun dosa tersebut sebanyak buih dilautan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barang siapa membaca:

Subhanallahi Wabihamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya)

seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”

Mengenai makna buih di lautan. Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan,

أي ولو كانت ذنوبه في الكثرة مثل زبد البحر الزبد محركة ما يعلو الماء وغيره من الرغوة

“Walaupun sangat banyak dosanya dalam jumlah, semisal buih-buih bergerak yang berada di permukaan air, bisa juga yang lainnya misalnya jamur (plankton).”

Selanjutnya Ibnul Qayyim menjelaskan fadilah zikir sebagai makanan batin adalah dzikir dapat menghilangkan kesusahan, kesedihan, dan kegundahan dari hati. Dzikir dapat menghadirkan kesenangan, kegembiraan, kekuatan, dan kehidupan ke dalam hati. Ibnu al-Qayyim berkata, “Dzikir bagi hati seperti air bagi ikan. Anda dapat bayangkan, bagaimana kondisi ikan itu bila tanpa air”.

Dalam pendapat yang lain Imam Al Ghazali dalam Kitab ihya nya menjelaskan fadilah dzikir yang kita panjatkan adalah untuk menghadirkan hati dan untuk merasakan kesenangan dan kelembutan dengan Allah SWT, dan ini bisa dicapai dengan berdzikir secara mudawwamah ( terus menerus ) disertai kehadiran hati, dengan demikian paling tidak manusia dapat berlindung dari kematian yang su’ul khotimah.

Selanjutnya fadilah dzikir terakhir dalam tulisan yang sederhana ini adalah Allah akan memberikan ketenangan dalam kehidupuan sehari-hari, seolah-olah permasalahan dunia sudah ada jalan keluar yang dipersiapkan Allah swt. Sebagaimana firman Allah SWT :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berdzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).

Demikianlah penjelasan dimensi kebutuhan manusia, baik lahir maupun batin, jiwa dan raga, kedua-duanya mesti seimbang dalam memberikan asupan konsumsi (makanan).

Semoga Allah terus menjaga kesehatan kita baik fisik dan batin kita sehingga kita bisa memanfaatkan untuk ibadah dan semakin dekat dengan Allah SWT. Jangan sampai kita termasuk golongan orang yang tertipu, yang sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Hasbunallah wani’mal wakil.

Prepedan-Ponpes Safinatul Mubaroq
30 Oktober 2019

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top