Kabar

Seorang Komandan di Pamekasan Bawa Celurit ke Inspekturnya

Padasuka.id – Pamekasan. Celurit yang merupakan senjata tajam khas Madura ternyata banyak variannya. Selain yang bentuknya melengkung semua seolah tanda tanya, ada juga yang lurus memanjang namun di bagian atasnya terdapat lengkungan. Celurit yang ini umumnya disebut “Clannong.” Celurit Clannong setidaknya ada dua jenis, ada yang bergagang pendek dan ada yang bergagang agak panjang. Kedua jenis ini konon memiliki filosofi berbeda dengan fungsi yang berbeda pula. Sebagai senjata tajam, celurit tidak boleh dibawa semabarangan karena berkaitan dengan undang-undang, apalagi dibawa tanpa sarung yang umumnya dibuat dari bahan kulit. Lantas apa jadinya jika seorang komandan dengan bebasnya membawa sebilah clannong tanpa sarung menghadap seorang inspektur? Peristiwa ini terjadi pada Senin (04/11/2019) di halaman Kantor Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Pemandangan yang tak umum itu berlangsung begitu saja, malah menjadi perhatian serius sederet orang yang tengah berdiri di halaman Kantor Pemda Pamekasan. Para petugas keamanan yang sedang berjaga di lokasi, tidak ada satu pun yang berani mencegahnya. Lantas kenapa perbuatan itu dibiarkan; apakah karena pemembawanya adalah seorang komandan? Tidak! Melainkan karena sang pembawa adalah seorang komandan upacara yang sedang melaporkan kesiapan barisannya terhadap inspektur upacara dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Pamekasan yang ke-489. Ya, penggunaan clannong tersebut adalah pengganti dari tongkat komando sang komandan upacara. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari menghormati senjata khas daerah Madura.

H Raja’e SHI

Tidak terbatas pada penggunaan clannong sebagai salah satu jenis senjata khas Madura, para peserta upacara yang terdiri dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta Camat se-Kabupaten Pamekasan, semuanya mengenakan busana khas Madura. Begitu pula bahasa yang digunakan oleh komandan dan inspektur upara adalah Bahasa Madura.

Terkait dengan bahasa Madura yang digunakan dalam upacara tersebut, kepada awak media, Wakil Bupati Pamekasan, H Raja’e, SHI, yang bertindak sebagai inspektur upacara, mengatakan bahwa bahasa daerah adalah warisan budaya yang harus tetap dipertahankan.

Kita ngemodin (mengingatkan) karena Bahasa Madura ini kan merupakan budaya atau bahasa keseharian kita, sehingga perlu rasanya sewaktu-waktu di setiap Hari Jadi Kabupaten Pamekasan menggunakan Bahasa Madura,” tutur Raja’e seraya menghimbau agar dalam keseharian juga menggunakan Bahasa Madura yang baik.

Acara Kirab Budaya Pamekasan 2019 untuk Merayakan Hari Jadi Kab. Pamekasan ke-489 Tahun. – Instagram.com/@rifkikadafi

Lebih lanjut, Raja’e mengatakan, jika dalam keseharian berkomunikasi menggunakan Bahasa Madura, hal itu sebagai bentuk penghargaan kepada nenek moyang yang sudah menanamkan nilai-nilai budaya Madura. Atas dasar inilah, pihaknya mengajak kepada seluruh warga Pamekasan untuk terus menjaga kelestarian Bahasa Madura dan melestarikan seni dan budaya Madura sebagai khasanah kekayaan bangsa Indonesia.

Dalam perayaan Hari Jadi Kabupaten Pamekasan yang ke-489 tahun ini juga dineriahkan dengan acara Kirab Budaya Pamekasan, mulai dari pentas musik tradisional, pagelaran tari, pameran batik khas, dan lain sebagainya. (*)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top