Kabar

Sukses Jual Kartu Surga; Yusuf Ditangkap Polisi

Padasuka.id – Gowa. Warga Gowa Sulawesi Selatan diresahkan oleh ajaran menyimpang pemimpin Tarekat Tajul Khalwatiyah, Syekh Yusuf alias Puang La’lang. Di antara penyimpangan yang dilakukan oleh warga Desa Timbuseng, Kecamatan Patalassang, Kabupaten Gowa, ini adalah penjualan kartu surga terhadap para pengikutnya yang ingin dosa-dosa mereka diampuni serta langsung masuk surga. Berdasarkan bukti-bukti yang ada, lelaki berusia 74 tahun itu kemudian ditangkap aparat Kepolisian Gowa. Sampai ia ditangkap, Yusuf telah sukses menjual 317 kartu surga dengan harga yang variatif, dari Rp. 10.000 — 50.000.

Melansir dari kumparan.com (6/11/2019) sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gowa telah resmi melaporkan Yusuf ke Polres Gowa pada 11 September 2019 terkait aliran sesat yang dipimpinnya. Laporan itu dilakukan langsung oleh Ketua MUI Gowa (KH Abubakar Paka), Ketua FKUB Gowa, dan Ketua Komisi Fatwa MUI Gowa yang didampingi oleh Wakapolres Gowa Kompol Muh. Fajri Mustafa.

Pemimpin aliran kepercayaan tarekat Tajul Al Khalwatiyah Puang La’lang (dua kiri) dikawal anggota polisi saat rilis kasus aliran sesat di kantor Polres Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan, Senin (4/11). [Foto Antara/Abriawan Abhe]

Sebelum akhirnya ditetapkan sebagai tersangka, pada saat itu, Yusuf alias Puang La’lang sempat mengaku siap dibina oleh MUI, namun belakangan ia menolaknya.

Jadi memang Puang La’lang pernah mau dibina, tapi ia dua hari kemudian menolak fatwa MUI karena ajarannya itu sesat,” terang KH Abubakar Paka.

Berikutnya, Senin (4/11/2019) Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga, kepada awak media menyampaikan bahwa Yusuf sudah ditetapkan sebagai tersangka dengan sejumlah temuan di antaranya menjual kartu surga.

Dia melakukan pembaitan dan mendoktrin pengikutnya. Dia juga menjual kartu surga,” terang Shinto Silitonga kepada awak media, Senin (4/11)

Kecuali penjualan kartu surga, Yusuf juga diduga telah melakukan tindak pidana penipuan dan lain-lain, serta menarik zakat kepada para pengikutnya berdasarkan berat badan.

Sejumlah barang bukti aliran kepercayaan tarekat Tajul Al Khalwatiyah diperlihatkan saat rilis kasus aliran sesat di kantor Polres Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan, Senin (4/11). [Foto: Antara/Abriawan Abhe]

Selain kartu surga, ia juga memiliki aturan keanggotaan dengan diwajibkan bayar zakat, dimana itu sesuai ukuran berat badan, jika 1 kilogramnya Rp.50.000. Nah ini dianggap sesat juga, karena orang ini menganggap adanya Allah Pencipta, Allah Mama, Allah Bapak, Allah Iblis, Allah Jin, Allah Nafsu. Tak hanya itu, ia juga melecehkan Al-Qur’an, di mana Al-Qur’an itu diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada Syekh Yusuf kemudian ditemukan di peti jenazah Syekh Yusuf,” ungkap Shinto Silitonga di depan awak media, Rabu (6/11).

Dari hasil pemeriksaan aparat dan penggeledahan rumah Yusuf, didapati barang bukti berupa sebuah tasbih, 317 lembar kartu wifiq (kartu surga), 80 lembar kartu pelaris, selembar pemilihan malaikat, selembar ilmu kekebalan dan keselamatan, selembar ilmu kaya, dan uang tunai sebesar Rp 5 juta. Polisi juga mengamankan sebuah keris warna hitam, 57 buku Tinggi Tanpa Pinggir, tiga buku Almanak Sepanjang Xaman, dua kitab Sabar, tiga buku Nurul Iman, dan tiga buku Miftahus Sababa.

Diungkapkan pula, sebelumnya Yusuf melantik dirinya sebagai Rasul dan Maha Guru, yakni pada 9 September 1999. Ia pun diketahui membuat kitab suci sendiri yang diajarkan ke ratusan pengikutnya di daerah Patalassang, Bajeng, dan Pallangga. Ia juga diduga telah melakukan perubahan isi kitab suci Al-Qur’an. Dan, hal ini membuat pengurus MUI Gowa geram hingga menyebut ajaran Yusuf sebagai aliran sesat.

Atas sejumlah perbuatannya, Yusuf dijerat dengan pasal berlapis, yakni: Pasal 156 a KUHP dan atau Pasal 378 KUHP. Kemudian Pasal 372 KUHP dan atau Pasal 3,4,dan 5 UU No. 8 Tahun 2010 dan atau UU No. 22 tahun 1946 –dengan ancaman hukuman penjara 5 hingga 20 tahun. (*)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top