Kabar

Inilah ‘Manhaj Cinta’ dalam Taushiyah Syaikh Zakaria Mesir

Padasuka.id – Tangerang Selatan. Memilih calon pasangan dan menikah adalah hal yang penting, karena Allah SWT menjadikan pernikahan sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Dan, Nabi Muhammad SAW juga melakukan hal tersebut. Demikian, antara lain Syaikh Zakaria Marzuq Al-Husaini Al-Azhari, Mesir, mengawali taushiyahnya dalam resepsi pernikahan Wardatun Hamra, Lc (putri kedua KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA) dengan H Rifqi Maula, Lc, MA (putra pertama almarhum KH Ade Chaerul Maula), Minggu pagi (10/11/2019). Acara yang digelar di komplek Pondok Pesantren Ummul Qura, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, ini berlangsung begitu sakral dan sangat meriah. Sederet ulama dan sejumlah tokoh pun turut menghadirinya.

Syaikh Zakaria Al-Azhari saat menyampaikan taushiyahnya

Kembali pada uraian Syaikh Zakaria, ia menuturkan bahwa pada suatu ketika sejumlah orang dari kalangan sahabat mendatangi Nabi Muhammad SAW dan saling menuturkan mengenai ibadah mereka masing-masing. Orang yang pertama mengatakan, ia selalu puasa selama satu tahun dan tidak pernah berbuka. Orang kedua berkata, ia selalu shalat malam dan tidak pernah tidur. Sedangkan orang yang ketiga mengatakan bahwa dirinya menghindari wanita dan tidak menikah. Mendengar penuturan mereka, Nabi SAW lalu bersabda: “Aku adalah orang yang paling bertakwa dan paling takut kepada Allah SWT di antara kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat malam dan tidur, dan aku juga menikahi wanita. Ini adalah sunnahku. Barang siapa yang tidak menyukai dari sunnahku maka ia bukan golonganku.”

Setelah mengurai hal di atas, Syaikh Zakaria menyampaikan, bahwa Nabi SAW telah memberikan cara (manhaj) untuk memilih calon suami berikut juga untuk memilih calon istri. Dari sini Syaikh lalu mengutip sabda Nabi SAW yang menjadi hak bagi seorang lelaki untuk dinikahi, yakni:

إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

Syaikh Zakaria kemudian menegaskan, bahwa memilih kriteria calon istri adalah hal yang sangat penting. Sebab darinya nanti akan melahirkan keturunan; yang mana ia juga nanti yang akan merawat serta mendidiknya terkait akhlak dan agamanya. Dari sini, Syaikh lalu menuturkan Hadits Nabi SAW mengenai kriteriai calon istri yang baik untuk dinikahi, yakni:

تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (keislamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.”

Dari penjelasan Hadits di atas, Syaikh Zakaria lalu mengelaborasi dengan kisah seorang Imam, yaitu Syaikh Hasan Basri. Ketika seseorang bertanya, “Wahai Imam, putrimu akan dinikahkan pada siapa?” Sang Imam menjawab, “Aku akan menikahkan putriku terhadap seorang lelaki yang bertakwa. Seorang lelaki yang bertakwa! Meskipun ia sedikit harta, tidak masalah! Meskipun ia tidak punya jabatan, tidak masalah! Karena sesungguhnya ketakwaan adalah hal yang penting. Sebab dengan takwa, jika ia mencintai maka ia akan memuliakannya. Jika ia membencinya, maka ia tidak akan menzaliminya…”

Setelah menyampaikan uraiannya, Syaikh Zakaria lalu meminta kepada semua yang hadir dalam resepsi pernikahan tersebut untuk memohon keberkahan Allah SWT bagi kedua mempelai, Wardatun Hamra dan Rifqi Maula. Dan selanjutnya, Syaikh Zakaria mendoakan kedua mempelai yang disambut dengan kata “Amin,” oleh semua yang hadir. Kemudian kalimat, “Barakallahu lakuma wabaraka alaikuma wajama’a baynakuma fil khair,” pun bergema berulang dalam panduan Syakih Zakaria.

Demikian satu kilasan taushiyah seorang ulama Al-Azhar Mesir terkait “manhaj cinta” dalam memilih pasangan hidup. Sesuai dengan mahhaj atau cara yang ditentukan oleh Nabi SAW, semua harus dilandasi karena faktor agama dan ketakwaannya; bukan karena harta, kedudukan, atau pun parasnya. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top