Kabar

Mangulosi di Sisi ‘Ka’bah’: Sisi Unik Resepsi Wardah-Rifqi

Padasuka.id – Tangsel. Mungkin tidak semua orang tahu jika Ketua Umum Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA), KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA, memiliki marga Batak, yakni Naibaho. Karena memang, nama marga ini tidak tertera dalam penulisan nama pada buku-buku karyanya. Kecuali itu, dalam biografinya, kiai yang kerap disapa Kanjeng Sunan ini diketahui berdarah campuran Jawa-Sunda –sama sekali tidak ada darah Bataknya. Lantas dari mana marga Batak itu didapat? Di sinilah buah dari pola dakwahnya yang kultural serta dekat dengan semua kalangan. Sehingga, pertemuannya dengan Opung Kartika, warga Simalungun, Sumatera Utara dan keluarga besarnya –beberapa tahun lalu– menjadikan kiai yang juga dosen di dua Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an ini didaulat menjadi keluarga dari marga Naibaho. Yang itu artinya ia berhak untuk memakai nama marga tersebut.

Perwakilan Naibaho saat menyampaikan kata pengantar

Pengangkatan sebagai marga Naibaho bukan sekedar formalitas semata, melainkan berlanjut sebagaimana keluarga besar pada umumnya. Mulai dari hubungan silaturahmi sampai pada yang bersifat tradisi resmi. Untuk yang disebut terakhir ini, terbukti di saat Kiai Syarif dua kali menikahkan putrinya, di bagian acaranya terselip satu prosesi yang disebut “Mangulosi.” Yaitu sebuah prosesi memakaikan ikat kepala khas Batak serta menyelendangkan kain ulos oleh pihak keluarga Naibaho kepada putri Kiai Syarif dan suaminya, beberapa saat setelah aqad nikah berlangsung.

Setelah dipakaikan ikat kepala khas Batak lalu dipakaikan kain ulos

Minggu pagi (10/11/2019) Kiai Syarif menikahkan putri keduanya, Wardatun Hamra, Lc dengan H Rifqi Maula, Lc, MA, yang dilangsungkan di komplek Pondok Pesantren Ummul Qura, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. Dalam rangkaian acara resepsi pernikahan yang dihadiri oleh para ulama, sejumlah tokoh, seorang syaikh dari Mesir, dan masyarakat umum, itu dilengkapi pula dengan prosesi Mangulosi. Dalam prosesi ini dihadiri oleh warga Naibaho dari Simalungun serta sejumlah perwakilan Naibaho yang tinggal di Jabodetabek. Saat menyampaikan kata pengantar, perwakilan Naibaho mengatakan, prosesi ini sebagai bukti bahwa mereka bersaudara.

Saat memakaikan penutup kepala kepada mempelai wanita

Dengan diiringi lagu Batak, mempelai pria dipakaikan ikat kepala khas Batak lalu diselempangkan kain ulos –selendang khas Batak. Sedangkan mempelai wanita ditambahkan penutup kepala khas Batak pada bagian atas jilbabnya, kemudian dililitkan kain khas Batak sebagai rangkapan sebagian busana pengantin yang sebelumnya sudah dikenakan. Selain tampak sakral, prosesi ini terlihat unik serta membuat sebagian undangan sempat bertanya-tanya, mungkin karena tidak biasa serta tidak tahu asal muassalnya. Lebih uniknya lagi karena prosesi ini berlangsung di lokasi resepsi pernikan yang bersetting bagian tengah Masjidil Haram yang dilengkapi dengan replika Ka’bah.

Kepada Padasuka.id, perwakilan marga Naibaho, Ir Hj Doyan Naibaho mengatakan, prosesi Mangulosi ini dilakukan sebagai tanda, bahwa putri dan menantu Kiai Syarif adalah juga bagian dari keluarga besar Naibaho.

Karena Abi (Kiai Syarif, red.) dulu sudah diangkat jadi anak atau marga Naibaho oleh Mamak (Opung Kartika, red.) maka Mbak Wardah sebagai putri Abi, serta suami Mbak Wardah, menjadi cucu dari Opung Kartika. Karenanya, Opung memiliki kewajiban untuk mangulosi cucunya itu di saat hari sakralnya, yaitu pernikahan ini,” ungkap Doyan Naibaho, salah seorang putri Opung Kartika.

Foto bersama Syaikh Zakaria Marzuq Al-Husaini Al-Azhari

Menyaksikan prosesi ini secara utuh, tentu bukan hanya pada sisi uniknya semata. Melainkan banyak hal yang dapat diserap sebagai pelajaran. Mulai dari begitu kayanya ragam budaya di Nusantara, serta betapa kentalnya satu jalinan persaudaraan yang diikat pula dengan sebuah prosesi di saat pernikahan. Kecuali itu, hal ini juga sebagai bukti bahwa eratnya jalinan kekeluargaan ternyata bukan hanya karena pertalian darah tetapi karena eratnya jalinan batin dalam membina persaudaraan. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Mbah Sastro

    14 November 2019 at 4:37 pm

    Barokalloh

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top