Munajat

Mengenal Alamat dan Keajaiban Munajat

Pewarta: Agus Arif Adha *)

Alhamdulillah, malam Minggu, 16 November 2019, Majelis Munajat kami (di Pulogadung) dikunjungi beberapa keluarga sekaligus guru (Ust. Awang Bachtiar bersama Ust. Amrullah) yang datang dari kediamannya yang cukup jauh (Harvest City), Bekasi, Jawa Barat.

Ust. Awang Bachtiar (pegang mik)

Alhamdulillah beliau berbagi pengalaman dan nasihat supaya kita tetap istiqamah dalam menjalankan rutinitas bermunajat. Ust. Awang Bachtiar yang biasa dipanggil Panglima kumbang memaparkan: ” Untuk sampai pada suatu tujuan harus ada alamat yang jelas beserta kendaraannya, dan Munajat alamatnya sangat jelas (al-Qur’an) adapun majelis sebagai kendaraannya.” Beliau juga menghimbau agar kita fokus pada amalan Munajat dengan perumpamaan: “Ketika kita hendak mencangkul di sawah maka fokuslah mencangkul! Adapun ketika ternyata dalam pencangkulan kita mendapatkan belut misalnya, itu adalah tambahan, kita tidak usah berfikiran mencangkul supaya dapat belut, karena jika tujuaannya demikian, mencangkulnya nggak beres, belutnya belum tentu dapat, yang ada kemungkinan jempol kita yang kena cangkul. Artinya jika kita membaca Munajat, fokuslah kepada-Nya, adapun jika ternyata dalam perjalanannya ada yang mendapatkan keajaiban keajaiban atau linuwih itu sebagai bonus, yang penting kita fokus kepada-Nya jangan fokus pada linuwih tadi. Jika kita membaca Munajat ditujukan supaya mendapatkan linuwih, maka tidak bertahan lama, linuwih pun belum tentu dapat. Sedangkan dalam Kitab Munajat banyak yang lebih besar daripada linuwih tadi.


Adapun Ust. Amrullah menceritakan pengalamannya, pernah dalam majelisnya hanya ada tujuh orang, tapi ketika pembacaan Munajat, terdengar suara ke delapan yang sangat fasih tapi tidak terlihat sumbernya, kejadian seperti ini bukan hanya sekali. Akhirnya beliau menukil pengibaratan yang pernah dipaparkan oleh Shahibul Munajat KHR. Syarif Rahmat RA, SQ, MA. “Ketika lagu kebangsaan pada upacara 17 Agustus dilantunkan, para veteran pada datang ikut melantunkannya. Munajat adalah kumpulan do’a para Nabi, ketika kita membaca do’a Nabi Sulaiman AS maka para pembantu Nabi Sulaiman pada zamannya ikut datang dan mengamininya, begitu juga ketika do’a Nabi-Nabi yang lain dibacakan, maka pasukannya ikut datang dan mengamininya.” Walaupun kita hanya berlima tetaplah berjalan! Karena bisa jadi jama’ah yang tidak terlihat malah ratusan.

Ust. Ahmad Amrullah (pegang mic)

Hadir pula saudara dari dekat klender, Ust. Faruki.

*) Koordinator Majelis Munajat Kalong

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top