Kabar

Saat Nabi Membongkar Pemalsuan Sejarah Diungkap dalam Haul Sunan Giri

Padasuka.id – Gresik. Sejarah adalah hal yang sangat penting untuk melegitimasi suatu hal. Bahkan, dapat pula dijadikan media untuk menaikkan martabat suatu golongan. Karenanya, pemalsuan sejarah demi kepentingan tertentu kerap terjadi sejak masa lampau. Maka dari itu pelurusan sejarah menjadi satu keharusan untuk dilakukan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW..

Terkait dengan pelurusan sejarah yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW tersebut adalah salah satu materi ceramah KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA, saat mengisi pengajian umum dalam haul Sunan Giri yang ke-514, Kamis malam (21 November 2019). Acara yang digelar di halaman Masjid Ainul Yaqin, Komplek Pemakaman Sunan Giri, Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, ini dimulai dari pukul 20.00 WIB hingga pukul 00.00 WIB. Dari pantauan di lokasi, para jamaah tampak begitu antusias mengikuti berlangsungnya pengajian hingga akhir acara.

Kembali pada bahasan ceramah Kiai Syarif, diungkapkan, bahwa kaum “ahlul kitab” telah melakukan pemalsuan sejarah dengan mengatakan: rumah ibadah yang pertama didirikan di dunia adalah Baitul Maqdis. Sejarah palsu ini dikemas dengan rapi sehingga dipercaya oleh masyarakat luas selama bertahun-tahun, bahkan dari generasi ke generasi. Sampai akhirnya, Rasulullah SAW mendapat wahyu dari Allah SWT untuk meluruskannya, seperti keterangan ayat berikut ini:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِيَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS: Ali Imran 96)

Lantas apa buktinya jika Baitullah adalah rumah yang pertama, tentu bukan hanya menyampaikan keterangan secara naratif, melainkan juga diikuti dengan pembuktian secara faktual di lapangan.

“Sebab bicara sejarah itu bukan hanya bicara ‘katanya’ tetapi bicara fakta,” tegas Kiai Syarif lalu melanjutkan ayat berikutnya:

فيه آيات بينات مقام إبراهيم ومن دخله كان آمنا ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا ومن كفر فإن الله غني عن العالمين

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) Maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS: Ali Imran 97).

Maqam Ibrahim itu adalah tempat berdirinya Kanjeng Nabi Ibrahim ketika menyeru orang naik haji. Kenapa Maqam Ibrahim jadi bukti lebih tua (nya Baitullah) dari Baitul Maqdis? Karena Baitul Maqdis dibangun oleh Nabi Dawud atau Nabi Sulaiman; sedangkan Maqam Ibrahim itu tapak kakinya Nabi Ibrahin. Antara Kanjeng Nabi Ibrahim dengan Nabi Sulaiman itu, tidak kurang dari sepuluh generasi…” ungkap Kiai Syarif menggambarkan betapa lebih lampau masa Nabi Ibrahim ketimbang masa Nabi yang membangun Baitul Maqdis –sebagai fakta yang pertama.

Adapun yang kedua, seperti diungkap dalam ayat, “Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia,” yang itu menunjukkan adanya penghormatan luar biasa atas sejarah besar tempat itu –dan hal lainnya yang berkaitan dengan masalah jaminan keamanan di Baitullah. Sedangkan yang ketiga, fakta bahwa diwajibkannya beribadah haji bagi yang mampu adalah ke Baitullah, bukan ke Baitul Maqdis.

Dari keterangan ayat di atas, Kiai Syarif lalu menegaskan betapa pentingnya menjaga atau melestarikan situs sejarah, termasuk di antaranya situs peninggalan Wali Songo yang di dalamnya terdapat Sunan Giri. Sebab, menjaga keberadaan situs adalah bagian dari menjaga autentisitas sejarah.

Kiai Syarif juga menegaskan bahwa semakin hari semakin sering terjadi pemalsuan sejarah dalam segala hal. Maka itu, Ketua Umum Padepokan Dakwah (PADASUKA) ini menghimbau agar kita semua turut merawat serta melestarikan peninggalan sejarah. Terutama sejarah Islam dan sejarah Indonesia. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top