Kabar

Semarak dan Khidmatnya Haul Sunan Giri ke-514

Padasuka.id – Gresik. Tahun ini (2019) haul Sunan Giri memasuki bilangan yang ke-514. Salah satu anggota Wali Songo yang di masanya juga menjadi seorang penguasa bergelar Prabu Satmata tersebut, makamnya terletak di areal perbukitan yang sekarang berada di wilayah administrasi Desa Giri, Kecamatan Kebonmas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Seperti makam para wali yang lainnya, makam Prabu Satmata yang di masa kecilnya bernama Jaka Samudera itu, selalu dipenuhi oleh para peziarah dari berbagai daerah.

Dalam haul Sunan Giri yang ke-514 ini, acaranya digelar selama enam hari berturut-turut. Seperti tertera dalam papan kegiatan panitia, rangkaian acara digelar dari Minggu–Jum’at, 7–22 November 2019. Secara berurutan kegiatan dimulai dari: Pawai TPQ/TPA, Tadarrus Al-Qur’an Bilghaib (putri), Tadarrus Al-Qur’an Bilghaib (putra), Tadarrus Al-Qur’an (putri) diikuti tadarrus se-Kecamatan Kebonmas, Pengajian Umum Putri, Tadarrus Al-Qur’an putra diikuti tadarrus se-Kecamatan Kebonmas, Pengajian Umum putra, Tahlil Akbar (Perhimpunan Pemangku Makam Aulia se-Jawa), Pagelaran Hadrah oleh Ishari se-Jawa Timur, dan Santunan.

Suasana jamaah dalam acara pengajian Haul Akbar Sunan Giri

Pada rangkian acara hari ke-5, Kamis malam (21/11/2019) yakni pengajian umum, panitia menghadirkan dua orang kiai sekaligus: KH Muchtar Jamil (ulama sepuh Gresik) dan KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA, Ketua Umum Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA).

Dalam uraian ceramahnya, antara lain Kiai Mukhtar mengupas silsilah dan sejarah Sunan Giri serta perkembangan Islam dari masa ke masa. Ia juga mengungkapkan, khusus untuk wilayah Gresik, orang yang pertama kali menggelar acara haul adalah putra Sunan Giri yang bergelar Sunan Giri Prapen. Semua itu dilakukan, lanjut Kiai Muchtar, selain untuk mendoakan, juga untuk mengenang jasa almarhum agar generasi berikutnya dapat melanjutkan perjuangan Sang Sunan.

KH Muchtar Jamil saat mengisi pengajian

Kiai Muchtar juga mengungkapkan, bahwa warisan ilmu dan nilai perjuangan Sunan Giri sangat banyak yang harus disyukuri serta dilestarikan. Secara tegas ia menganjurkan, sebagaimana Sunan Giri yang menjadi pengayom ummat dan para santrinya, sikap itu harus tetap tertanam pada jiwa setiap diri, terutama bagi mereka yang mencintai Sunan Giri.

Sementara itu, Kiai Syarif, antara lain mengurai betapa pentingnya menjaga otentisitas sejarah dari berbagai upaya pembelokan fakta sejarah yang ada. Kiai yang selalu lekat dengan blangkon ini, lalu memberi contoh pelurusan sejarah oleh Nabi Muhammad SAW atas sejarah Baitullah yang dipalsukan selama bertahun-tahun oleh kaum “Ahlul Kitab.” Kecuali itu, ia juga mengurai upaya sistimatis yang dilakukan rival Nabi Sulaiman AS untuk membuat berita bohong, hingga kemudian dalam sejarah yang beredar selama berabad-abad, Nabi Sulaiman dikenal sebagai ahli sihir. Pelurusan sejarah ini pun, oleh Allah SWT ditugaskan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagaimàna tertera dalam Al-Qur’an yang suci.

KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA

Peristiwa di masa lampau yang dikisahkan dalam Al-Qur’an, lanjut Kiai Syarif, bisa terulang di masa sekarang. Karenanya, sekarang banyak dijumpai adanya berita palsu untuk merusak fakta sejarah yang sebenarnya. Mulai dari sejarah Wali Songo, sejarah Indonesia, sampài sejarah Nahdlatul Ulama, tidak lepas dari upaya pemalsuan otentisitas faktualnya. Belakangan ini, tandasnya, tidak sedikit pula ditemukan adanya makam-makam palsu yang diwalikan lalu jadi obyek wisata religi serta dijadikan legitimasi bagi kepèntingan kelompok tertentu. Sebaliknya, tidak sedikit pula kelompok yang menganggap palsu sejarah para wali dengan menghilangkan fakta-fakta yang ada, termasuk perusakan situs yang menjadi bukti otentik penelusuran dan pelurusan sejarah. Oleh karenanya, pengisi acara “Damai Indonesiaku” TV One, itu mewanti-wanti agar kita selektif membaca dan menpercayai adanya cerita yang dianggap sejarah, serta senantiasa berupaya menjaga kebenaran sejarah yang ada.

Dalam haul Sunan Giri kali ini, sejumlah jamaah PADASUKA dari berbagai daerah juga turut hadir. Selain dari Jakarta yang menyertai Kiai Syarif, antara lain hadir jamaah PADASUKA dari Ngawi, Bali, dan Madura.

Jamaah Padasuka foto bersama

Seusai acara, satu sama lain, antar jamaah PADASUKA saling bertukar informasi dan sebagainya, untuk kemudian foto bersama di panggung acara. Setelah rampung semua acara di arena pengajian di halaman Masjid Jami’ Ainul Yaqin, dengan dipimpin langsung oleh ketua umumnya, para jamaah PADASUKA berziarah ke makam Sunan Giri. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top