Kabar

Tidak Seperti Biasa; Ada Fildok dalam Rutinan PADASUKA

Padasuka.id – Tangerang Selatan. Tidak seperti biasanya, dalam rutinan Minggu ke-4 DPP Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) bulan ini (Minggu, 24/11/2019) diisi pula dengan pemutaran film dokumenter (fildok). Sebuah film yang mengangkat upaya pengangkatan air bersih dari ‘sungai purba’ yang penuh resiko –bahkan harus bertaruh nyawa– di sebidang jurang yang termasuk ke dalam bagian Taman Bumi Dunia (Global Geopark UNISCO). Pemutaran film yang digelar di aula Pondok Pesantren Ummul Qura, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, ini diikuti dengan seksama oleh para jamaah.

KHR Syarif Rahmat RA, saat memberikan pengajian umum

Sebelum pemutaran film dokumenter, acara digelar seperti biasanya, yaitu dimulai dengan pelaksanaan shalat Dhuha dan shalat Tashbih berjamaah. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan “Kitab Munajat Kumpulan Wirid dan Doa-doa Al-Qur’an,” secara berjamaah pula. Munajatan rampung, dilanjutkan dengan pengajian umum oleh Ketua Umum PADASUKA, KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA. Di antara uraian yang disampaikan adalah tentang rasa persaudaraan yang harus benar-benar utuh, serta semuanya dilandasi dengan niat ibadah karena Allah SWT. Sebab, demikianlah yang diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Saat pemutaran film dokumenter

Setelah pengajian diakhiri, kiai yang kerap disapa Kanjeng Sunan, ini memberi sekilas ulasan menuju pemutaran film dokumenter. Selanjutnya, pemutaran film dimulai yang dipandu oleh Kiai Mohammad Wiyanto, Ketua DPW PADASUKA Jawa Tengah. Gus Yayan, sapaan akrabnya, memberi kata pengantar mulai dari proses awal aksi kemanusiaan di wilayah Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, hingga kemudian diupayakan proses pengangkatan air dari perut bumi yang didokumentasikan dalam bentuk film pendek yang sedang diputar tersebut.

Dok. Korlap Tim TDP saat menyalurkan bantuan air bersih di Paranggupito

Kegiatan ini bermula dari bulan Agustus (2019) lalu; berawal dari laporan Gus Asrori Idris yang memang sering melakukan kegiatan dakwah di sana. Beliau menyampaikan pada kami bahwa warga wilayah Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, terdampak musibah kekeringan yang sangat parah. Laporan itu direspon positif oleh guru kita bersama, Romo Kiai Syarif Rahmat. Kaulo, sebagai Ketua DPW PADASUKA Jawa Tengah, ditugasi oleh beliau untuk datang langsung ke sana. Kemudian kaulo bersama rombongan ceking ke lokasi, menemui beberapa tokoh masyarakat setempat dan yang lainnya. Dari hasil pantauan kami di lapangan, diketahui bahwa delapan desa di wilayah kecamatan itu semuanya terdampak musibah kekeringan dengan dua wilayah yang terparah yaitu Desa Gendayakan dan Dusun Pelem,” ungkap Gus Yayan.

Tim saat turun ke dalam Gua Jomblang Ngejring

Dari langkah awal yang dilakukan, lanjut Gus Yayan, lalu dibentuk Tim Tanggap Darurat PADASUKA (TDP) untuk musibah kekeringan di dana, yang antara lain bertugas membantu pengadaan air bersih melalui jasa penyedia air tangki serta penyaluran sembako. Secara teknis, pendistribusian bantuan dipusatkan di Posko Bantuan untuk Paraggupito yang sebelumnya sudah ada, dan dikelola oleh Ansor-Banser setempat. Namun demikian, penyaluran bantuan dari PADASUKA tetap dikoordinasikan dengan Gus Asrori sebagai koordinator lapangan Tim TDP.

Bersamaan dengan pendistribusian bantuan tersebut, Gus Yayan timbul gagasan untuk mencari sumber air di perut bumi –sebagai solusi jangka panjang– mengingat wilayah Paranggupito masuk dalam bentang karst Gunung Sewu yang karakteristiknya berpotensi memiliki sungai perut bumi. Singkat cerita, dari gagasan ini, bersama Gus Asrori, Gus Yayan lalu menemui Kiai Slamet, tokoh masyarkat Gendayakan yang dari muda sudah terbiasa mencari air ke berbagai gua. Dari keterangan Kiai Slamet didapat informasi akan adanya sejumlah gua vertikal (luweng) yang dimungkinkan menyimpan kandungan air. Satu dari sejumlah gua itu adalah Luweng Jomblang yang terletak di Dusun Ngejring, Desa Gendayakan –selanjutnya disebut “Gua Jomblang Ngejring.”

Proses pemasangan pipa

Setelah posisi luweng diketahui, langkah selanjutnya adalah melakukan survei untuk memastikan keberadaan air di dalamnya. Nah, untuk melakukan survei ke dasar gua vertikal diperlukan tim khusus dengan peralatan yang khusus pula. Dari sini, Gus Yayan kemudian menggandeng tim dari Gapadri Mapala Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY). Dan, isi dari film yang sedang diputar dalam acara Minggu ke-4 tersebut adalah dokumentasi proses penemuan air di Gua Jomblang Ngejring, mulai dari proses survei pertama sampai menemukan sungai perut bumi pada kedalaman sekitar 180 meter, survei kedua untuk memastikan kelayakan air untuk dikonsumsi dan eksplorasi, survei teknis pemipaan dan engginering untuk pengangkatan air ke atas gua dan seterusnya.

Menyaksikan isi film tersebut tergambar betapa kerja keras semua anggota tim. Sebab, selain posisi air yang berada di kedalaman 180 meter di perut bumi, rongga guanya sebagian tidak mudah untuk dimasuki. Bahkan untuk bisa sampai pada posisi sungai bawah tanah itu, harus melalui rongga kecil dengan cara memiringkan badan. Padahal, saat proses pemipaan, tim yang turun sambil membawa mesin pompa yang berat. Begitu juga ketika akan memasang mesin pompa yang harus dikaitkan pada dinding gua di atas ‘sam’ (genangan) sungai bawah tanah yang ternyata batu dinding guanya sangat keras. Dibutuhkan ketelatenan sekaligus kekuatan fisik untuk dapat menancapkan sejumlat baut agar mesin pompa bisa dipasang. Tudak kalah susahnnya, ketika menurunkan tandon air berukuran 2000 liter ke dalam gua.

Proses penurunan tandon ke dalam Gua Jomblang Ngejring

Secara global dapat dikatakan, bahwa isi film tersebut adalah dokumentasi aktivis Mapala yang sedang bekerja keras bertaruh nyawa demi membantu masyarakat yang dari tahun ke tahun selalu menjadi langganan musibah kekeringan. Satu aksi kemanusiaan yang luar biasa besar resikonya berikut juga mafaatnya. Namun di sisi lain, secara keindahan alam, film itu juga menampilkan betapa keunikan alam bawah tanah yang menyimpan catatan geologi terkait suatu proses alam semesta jutaan tahun silam. Dinding batu beku yang beragam lekuk itu adalah juga buku pelajaran yang disimpan Tuhan di perut bumi-Nya.

Proses pemasangan pompa di dinding bawah Gua Jomblang Ngejring

Kembali pada proses lanjutan dari upaya pengangkatan air sungai perut bumi Gua Jomblang Ngejring, sampai saat ini, lanjut Gus Yayan, masih terus dikerjakan berbagai hal yang diperlukan. Yakni, pembuatan bak penampungan di bagian atas sisi luweng, pembuatan landasan tandon di atas bukit sebagai bak penyalur ke rumah-rumah warga, dan beberapa hal lainnya, termasuk penambahan bak tandon di dalam gua. Untuk itu Gus Yayan memohon dukungan dari semua jamaah PADASUKA demi lancarnya upaya tersebut, termasuk pula dukungan doa, secara khudus doa Munajat. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top