Kabar

Giat Bangun Tandon di Dinding Bukit untuk Alirkan Air Perut Bumi

Padasuka.id – Wonogiri. Seperti telah diberitakan sebelumnya, pengerjaan lanjutan dari proses pengangkatan air Gua Jomblang Ngejring di Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, sampai saat ini masih terus dilangsungkan. Air sungai perut bumi yang berada di dasar gua sedalam 180 meter itu berhasil diangkat pada Senin pagi, 7 Oktober 2019, setelah satu bulan sebelumnya –dalam beberapa tahapan– dilakukan survei dan pengerjaan teknis dengan melibatkan para ahli di bidangnya.

Saat pengerjaan tandon di dekat luweng. Tanda panah atas adalah bukit tempat tandon untuk penyaluran ke rumah-rumah warga

Agar air yang telah berhasil diangkat itu bisa dimanfaatkan oleh warga secara mudah, selain teknik pemompaan, juga diperlukan bak penampungan (tandon), yang dari tandon inilah nanti air didistribusikan melalui saluran pipa ke rumah-rumah warga. Karenanya, proses lanjutan yang dikerjakan adalah pembuatan tandon. Yang mana, untuk di atas permukaan gua, sejak beberapa waktu lalu telah dibangun dua tandon. Pertama, tandon dibangun di sebidang tanah datar yang tidak terlalu jauh dari sisi atas mulut gua. Adapun fisik bangunannya dibuat dari bahan semen dan pasir (tembok dan cor). Selain fungsi utamanya sebagai tandon, bangunan ini dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan ruang serba guna. Sampai saat ini pengerjaannya sudah hampir rampung, tinggal menunggu pengeringan untuk memasang atapnya.

Tandon di sisi luweng tinggal menunggu pengeringan. Foto: 14 Novemer 2019

Sedangkan tandon kedua, akan diletakkan di atas dinding bukit yang berjarak sekitat 200 meter ke arah selatan dari tandon pertama dengan posisi meninggi khas tanah perbukitan. Di dinding bukit ini, telah dibangun landasan sebagai tempat tandon –lihat gambar. Dengan posisi yang lebih tinggi dari areal perkampungan, maka dari sini air tinggal dialirkan ke rumah-rumah warga. Semua pengerjaan sudah hampir rampung, hanya menunggu pengeringan bahan bangunan untuk penyempurnaannya. Setelah itu, kemudian akan dioptimalisasikan teknis pemompaan dan sebagainya agar air dari dasar gua dapat dengan lancar memenuhi tandon-tandon yang telah disediakan itu.

Proses perataan tanah di dinding bukit untuk landasan tandon

Dengan dibangunnya tandon tersebut, tidak lama lagi warga Dusun Ngejring, Desa Gendayakan akan bernafas lega. Pasalnya, wilayah ini dan sekitarnya dalam setiap tahunnya selalu terdampak musibah kekeringan. Seorang pengurus Pemuda Karang Taruna Desa Gendayakan, Eko Andrianto, kepada Padasuka.id (12/10/2019) yang lalu mengisahkan, bahwa kekeringan di wilayahnya menjadi bencana tahunan yang belum berkesudahan.

Secara umum, kami darI jaman kemerdekaan sampai sekarang belum merasakan daerah kami merdeka. Karena setiap tahunnya selalu kekurangan air,” ungkap Eko yang rumahnya tidak terlalu jauh dari Gua Jomblang Ngejring.

Mayoritas warga kami rata-rata menggunakan air hujan yang ditampung dalam bentuk bak berukuran besar ketika musim penghujan. Apabila nanti setelah air tampungan itu habis, warga terpaksa membeli air tangki yang harganya berkisar Rp 170.000 pertangki ukuran 6000 liter. Itu pun hanya cukup untuk tiga minggu,” lanjut Eko menuturkan kondisi warga desanya salama bertahun-tahun.

Landasan tandon di dinding bukit (Foto:14 November 2019)

Sebagai informasi tambahan, upaya pengangkatan (eksplorasi) air yang berada di dasar Gua Jomblang Ngejring tersebut atas inisiasi dari Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) yang sejak Agustus 2019 lalu membentuk Tim Tanggap Darurat PADASUKA (TDP) untuk membantu masyarakat di wilayah Kecamatan Paranggupito yang terdampak musibah kekeringan. Bermula dari sini yang kemudian direspon positif oleh Kelompok Masyarakat Desa Gendayakan (Pokmas Suka Tirta), Tim TDP yang diketuai oleh Kiai Mohammad Wiyanto kemudian menggandeng tim dari Mapala Gapadri Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY) sebagai pelaksana teknis –mulai dari survei keberadaan air, pemipaan, teknik pemompaan, dan lain sebagainya. Hinngga akhirnya, walau dalam taraf uji coba, pada Senin pagi, 7 Oktober 2019, air bisa dinaikkan dan langsung bisa dinikmati oleh warga.

Terkait dengan upaya eksplorasi air perut bumi tersebut, kembali pada penuturan Eko Andrianto, awalnya ia mengaku pesimis. Sebab menurutnya, gua vertikal itu hanya dianggap sebagai luweng di tengah jurang yang tidak ada airnya kecuali di musim hujan.

Eko Andrianto (paling kanan) bersama warga dan Kiai Moh. Wiyanto (paling kiri)

Pada awalnya terus terang saya agak ragu, karena sudah ada beberapa kelompok pecinta alam mencoba masuk ke dalam luweng dan hasilnya nol. Pernyataannya bahwa di dalam luweng tidak ada sumber mata air. Namun setelah tim dari Gapadri Mapala ITNY yang dinisiasi oleh PADASUKA itu masuk dengan segenap keberanian dan keikhlasan yang luar biasa, ternyata akhirnya ditemukan sumber air yang cukup besar. Dan, dengan segala upayanya alhamdulillah air itu pun bisa diangkat dan dimanfaatkan oleh warga. Termasuk kami sekeluarga telah memanfaatkan air itu untuk dikonsumsi. Alhamdulillah bagus sekali airnya. Atas semua itu, kami atas nama pribadi, karang taruna, dan warga, sangat berterima kasih kepada tim eksplorasi dari Gapadri Mapala ITNY bersama Pak Dosen Sulaiman Tampubolon dan kawan-kawan yang bekerjasama dengan tim PADASUKA. Dan, tidak lupa untuk jasa-jada Gus Rori dan Gus Yayan yang mengawal dan selalu mensuport dari awal hingga suksesnya kegiatan tersebut,” tutur Eko. (SM)

Editor : M.A.R

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top