Kabar

Bisnis; Perdaya Umat dengan Diksi Islami & Kebesaran Masa Silam

Ilustrasi

Padasuka.id- Jakarta. Setelah kasus Kampung Kurma, aparat kepolisian kemudian membongkar kasus penipuan dengan modus pembangunan perumahan syari’ah. Kepada awak media, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Gatot Eddy Pramono, menyampaikan penipuan tersebut terjadi sejak 2015 lalu. Gatot juga mengungkapkan, sejauh ini jumlah korban mencapai 270 orang.

Dalam paparan Gatot di hadapan awak media, Kamis (28/11/2019) di Jakarta, selain perumahan yang ditawarkan pengembang bermasalah itu berlabel syari’ah, terungkap pula nama-nama perumahannya pun menggunakan nama-nama yang mencerminkan kebesaran masa silam yang berkaitan dengan dunia Islam. Di antara nama-nama perumahan yang dimaksud adalah: De’ Alexandria, Bojong Gede, Bogor; The New Alexandria, Bojong Gede, Bogor; Cordova Green Living, Cikarang, Bekasi; Hagia Sophia Town House, Bandung –semuanya berada di wilayah Provinsi Jawa Barat. Serta satu lagi perumahan di daerah Sumatera, yaitu Perumahan Pesona Darusalam, Lampung.

Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono saat merilis kasus penipuan dan penggelapan perumahan syariah fiktif (Kamis, 28 November 2019) Foto: Ist.

Beberapa nama perumahan di atas adalah nama-nama yang mencerminkan kebesaran di masa silam, yakni: Alexandria, Cordova, dan Hagia Sophia.

Aleksandria, terkadang ditulis “Alexandria” adalah nama kota besar di beberapa negara dengan menggunakan nama pendirinya yaitu Aleksander, atau dikenal sebagai Aleksander Agung, hidup pada masa abad ke-4 Sebelum Masehi (SM) putra Filipus II, Raja Makedonia –Yunani Kuno. Saat menginjak dewasa ia menggantikan ayahnya sekaligus menjadi panglima perang yang ulung dan berkeinginan menguasai semua wilayah sampai ke ujung dunia. Alhasil, ia pun mampu menaklukkan beberapa negara, termasuk India, Pesrsia, Mesir, dan sebagainya. Ketika Aleksander memasuki Mesir pada 332 SM, di sana ia dipandang sebagai seorang pembebas. Ia memperoleh gelar “Penguasa Baru Alam Semesta” dan “Putra Dewa Amun” di Orakel Oasis Siwa di gurun Libya. Dalam masa tinggalnya di Mesir, ia mendirikan Kota Aleksandria (Iskandariyah), yang kemudian menjadi Ibu Kota Kerajaan Ptolemaik setelah kematiannya. Ia meninggal dunia di Babilonia pada 323 SM.

Uang perak yang menggambarkan Aleksander. Koleksi Museum Britania

Di sisi lain, tokoh Aleksander juga ada yang menganggap sebagai Dzul Qarnain (Iskandar) yang dikisahkan dalam Al-Qur’an, Surat Al-Kahfi: 83-101. Namun anggapan ini ditolak oleh para ahli tafsir, sebab Aleksander Agung dengan Iskandar Dzul Qarnain adalah orang yamg berbeda. Al-Qur’an mengisahkan, Dzul Qarnain yang berhasil menempuh ujung dunia (barat dan timur) serta memenjarakan Ya’juj dan Ma’juj adalah seorang beriman dan menerima Wahyu. Sementara itu, Aleksander dalam beberapa literatur dikatan beragama Yunani Kuno.

Kembali pada nama perumahan “syari’ah” tersebut di atas, yang kedua bernama Cordova (baca: Cordoba). Nama ini mencitrakan nama kota di Spanyol yang pada abad ke-10 M kemajuannya melebihi kota-kota lain di Eropa. Kota yang terletak di sisi sungai Al-Wadi Al-Kabir di bagian selatan Spanyol, ini didirikan oleh bangsa Cordoba yang tunduk kepada pemerintahan Romawi dan Visigoth (Bangsa Goth). Pada tahun 93 H / 711 M, kota ini ditaklukkan oleh panglima Islam yang terkenal, Thariq bin Ziyad. Sejak saat itu kota Cordoba memulai tatanan hidup baru dan mengukir sejarah yang sangat penting dalam sejarah peradaban ummat manusia. Kecemerlangan Cordoba sebagai kota peradaban mencapai puncaknya pada tahun 138 H / 759 M, ketika Abdurrahman Ad-Dakhil mendirikan Daulah Umayyah II di Andalusia.

Situs Mezquita D Cordoba, Spanyol (es.omnidreams.net)

Masih seputar nama perumahan “syari’ah” bermasalah; yang ketiga, diberi nama Hagia Sophia (baca: Aya Sofya) sebuah bangunan megah di Negara Turki yang berawal dari gereja kemudian dirubah menjadi masjid. Pada 1453 M, Konstantinopel ditaklukkan oleh Kekhalifahan Utsmani di bawah pimpinan Sultan Mehmed II, atau yang dikenal sebagai Sultan Muhammad Al-Fatih (30 Maret 1432–3 Mei 1481 M), penguasa Utsmani ke-7 yang berkuasa dari 1444 –1446 dan 1451–1481 M. Capaiannya yang paling dikenal luas adalah penaklukan Konstantinopel pada 1453 M yang mengakhiri riwayat Kekaisaran Romawi Timur. Mehmed II adalah sultan yang memerintahkan pengubahan gereja utama Kristen Ortodoks di Konstantinopel (Istanbul sekarang) menjadi masjid dan dikenal sebagai Aya Sofya –sampai tahun 1931 M. Kemudian, bangunan ini ditutup untuk umum oleh pemerintah Republik Turki dan dibuka kembali sebagai museum pada 1935 sampai sekarang.

Hagia Sophia di Istanbul Turki (Foto: Ist.)

Agaknya, pemyematan idiom islami dengan mencatut nama-nama besar di masa silam, mejadi strategi pemasaran yang ampuh. Setidaknya, marketing dari pengembang bermasalah itu lihai menangkap peluang dengan menyematkan label islami yang oleh sebagian orang, belakangan ini tengah digandrungi.

Kembali pada paparan Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Gatot Eddy Pramono, di hadapan awak media, Kamis (28/11) mengungkapkan, polisi telah menangkap empat orang tersangka dalam kasus tersebut. Yakni, seseorang Dirut PT ARM Cipta Mulia berinisial AD, Project Manager atau Marketing berinisial MAA, Executive Project Manager atau Marketing berinisial MMD, dan General Manager, berinisial SM.

Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono saat merilis kasus penipuan dan penggelapan perumahan syariah fiktif (Kamis, 28 November 2019) Foto: Dok. Detikcom

Gatot juga mengungkapkan modus operasinya, bahwa tersangka menawarkan kepada masyarakat pembangunan perumahan syari’ah. Dalam melancarkan aksinya, lanjut Gatot, para tersangka menunjukkan lokasi-lokasi perumahan syari’ah milik PT ARM, kemudian melakukan ‘ground breaking.’ Penawaran rumah syari’ah dilakukan dengan menggunakan brosur serta iklan di website. Para tersangka juga membuat rumah-rumah contoh untuk meyakinkan korban, lalu menawarkan kepada mereka cicilan rendah tanpa bunga. Para pelaku juga menjanjikan kepada korban tidak ada pengecekan dari pihak perbankan saat pengajuan kredit.

Bayangkan tidak ada riba, kamu tidak checking bank, tidak ada bunga kredit, pasti akan sangat menarik,” imbuh Gatot.

Demikianlah pemanfaatan diksi atau idiom islami yang juga dibumbui dengan nama-nama besar di masa silam untuk dunia marketing. Menangkap fenonena sebagian orang yang belakangan ini lebih gandrung pada simbol-simbol islami, dengan cerdik dijadikan peluang bisnis oleh segelintir pelaku tindak pidana penipuan –berlabel syari’at. Masihkah akan terbuai kemasan dengan mencampakkan subtansi suatu ajaran? (AF)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top