Kabar

Di Hadapan Wisudawan PTIQ, Menag Ajukan Tiga Strategi

Padasuka.id – Jakarta. Di hadapan ratusan wisudawan Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta, Menteri Agama Fachrul Razi, dalam ceramah ilmiah bertajuk “Kedamaian Qur’ani: Nurani Rakyat untuk Mewujudkan Keunggulan Peradaban Bangsa,” mendorong lulusan Perguruan Tinggi berbasis Al-Qur’an tersebut untuk menghidupkan Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat. Menurut Menag, yang terpenting adalah bagaimana Al-Qur’an itu dapat benar-benar hidup dalam diri muslim Indonesia, sehingga dengan demikian, bangsa ini akan menjadi damai, unggul, dan beradab. Pesan ini disampaikan Menag dalam acara Wisuda Institut PTIQ Tahun 2019, di Jakarta Convention Center, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (30/11/2019) seperti dilansir kemenag.go.id (1/12/2019).

Situs resmi Kemenag itu menginformasikan, di hadapan wisudawan S-1, S-2, dan S-3 PTIQ Jakarta, Menag mengurai tiga strategi yang bisa dilakukan untuk menghidupkan Al-Qur’an dalam kehidupan muslim Indonesia.

Menag Fachrul Razi saat menyampaikan ceramah ilmiah dalam Wisuda PTIQ 2019 di JCC Jakpus (Foto: Kemenag.go.id)

Pertama, tiap muslim perlu memahami Al-Qur’an secara utuh. Hal ini, menurut Menag, menuntut peran para Sarjana Qur’an untuk dapat menghadirkan pemahaman yang utuh tersebut dalam masyarakat. Ditambahkan, bahwa dalam Al-Qur’an ada makna teks dan konteks; semuanya harus dipahami dengan baik agar tidak terjadi ekstrimitas.

Pemahaman terhadap Al-Qur’an secara tekstual itu penting, tapi jika hanya berhenti pada makna tekstual maka akan melahirkan pemahaman keagamaan yang kaku dan rigid,” urai Menag.

Fatwa-fatwa keagamaan yang ekstrim biasanya lahir dari cara pandang tekstualis literalis dengan mengabaikan pesan substantif Al-Qur’an,” sambungnya.

Kedua, strategi untuk mengidupkan Al-Qur’an, menurut Menag, dapat dilakukan dengan memahami dan mengamalkan Al-Qur’an secara moderat. Moderatisme menurutnya adalah karakter utama agama Islam sehingga ajaran Islam dapat diterima oleh masyarakat dunia, termasuk masyarakat Nusantara. Tambahnya lagi, Islam melalui ayat-ayat Al-Qur’an selalu mengajarkan pentingnya keseimbangan; antara dunia dengan akhirat, antara rasionalitas dengan spiritualitas, dan antara fisik dengan yang metafisik.

Condong terhadap salah satu, akan menjadikan seseorang tidak moderat. Di sinilah dibutuhkan bandul keseimbangan untuk menjaga moderasi Islam tersebut, ada di tangan para pengkaji Al-Qur’an,” tandas Menag, lalu melanjutkan.

Maka, jika ajaran moderasi ini berhasil diaplikasikan oleh para pengkaji Al-Qur’an, insya Allah masyarakat awam lainnya akan mengikutinya. Dan, bangsa ini akan menjadi bangsa yang unggul dan beradab.”

Wisuda PTIQ 2019 di JCC Jakpus (Foto: ptiq.ac.id)

Ketiga, strategi untuk menghidupkan Al-Quran, menurut Menag, dapat ditempuh dengan membukukan Al-Qur’an. Yang dimaksud adalah dengan mendialogkan teks Al-Qur’an dengan realitas kehidupan. Menurutnya, Al-Qur’an tidak turun dalam ruang kosong. Ia hadir sebagai respon terhadap realitas yang terjadi pada 15 abad silam. Ia adalah solusi atas problem etika.

Zaman sekarang itu mengamalkan Al-Qur’an tak cukup dirapal dan dihafal lebih dari itu Al-Qur’an harus didialogkan dan diejawantahkan dalam realitas kehidupan,” tegas Menag di hadapan ratusan wisudawan PTIQ.

Pada Wisuda PTIQ Jakarta tahun 2019 ini, tercatat ada 486 wisudawan yang berasal dari 10 program studi; mulai dari jenjang S-1, S-2, dan S-3. (*)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top