Kolom

Untuk Kawan yang Memiliki Semangat Terbarukan dan Tabarrukan

Oleh: Muhammad Ali Rahman

Penampilannya sederhana, atau lebih cenderung apa adanya, alias tanpa ada apa-apanya. Padahal dia seorang sarjana yang sudah mengantongi ijazah S-1 Fakultas Ilmu Tafsir dan Al-Qur’an, Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta. Dia memiliki selera humor yang cukup berlebih; suka bercanda dengan siapa saja, termasuk dengan para santri yang menjadi muridnya di pesantren tempat dia mengabdi, yaitu Pondok Pesantren Ummul Qura, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten –asuhan KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA. Walau menjadi seorang pengajar, tetapi dia lebih sering dijumpai di koprasi pesantren; meladeni para santri yang berbelanja –termasuk juga murid-muridnya. Di koprasi inilah agaknya ia lebih banyak mencurahkan waktu untuk mengabdi dengan selalu meluangkan waktu untuk tetap mengaji dan belajar, atau “muthala’ah” dalam istilah pesantrennya. Seringkali jika penulis masuk koprasi untuk ‘numpang ngopi’ menjumpainya sedang ber-muthala’ah.

“Sedang apa, Gus?” Tanya penulis. “Iya nih, iseng buka-buka; kayak orang-orang, hahaha,” jawabnya disertai derai tawa sambil merapikan kitab yang baru saja dibacanya.

Foto Gus Arif seusai wisuda yang diunggah temannya di WAG

Nampaknya dia tidak ingin tampak kalau sedang muthala’ah untuk karya tulis ilmiah (tesis) S-2-nya di PTIQ. Entah penelitian apa yang sedang digarapnya, tidak pernah cerita. Entah kapan dia menyelesaikan tesisnya, sepertinya hanya dia, Tuhan, dan Malaikat Rokib yang mengetahuinya. Tidak banyak cerita, tidak banyak bertanya, dan tidak banyak pula yang tahu. Tahu-tahu, Sabtu siang (30/11/2019) dalam salah satu WhatsApp Grup (WAG), salah seorang teman mengunggah foto dia usai diwisuda. “Subhanallaah… Kapan kawan ini menyelesaikan tugas-tugas kampusnya, kok tahu-tahu sudah diwisuda,” gumam penulis sambil mengirim ucapan selamat melalui WAG tersebut yang dijawab datar, “Terima kasih, Pak.”

Iya. Kawan itu bernama Agus Arif Adha asal Tegal, Jawa Tengah, atau penulis kerap memanggilnya Gus Arif. Selain panggilan Gus Arif terasa lebih nyaman; agaknya ia pun pantas dipanggil “Gus” dalam pengertian “Kiai Muda.” Pasalnya, sikap hidup dan perjuangannya di dunia pendidikan dan dakwah memang seperti kiai muda yang selalu hangat dengan semangat yang terbarukan serta dibarengi semangat tabarrukan. Tentu saja dunia dakwah yang dimaksud di sini, bukan seperti pengertian yang umum dipahami sebagian orang, yakni dunia panggung ceramah yang menyesuaikan selera pasar jamaah.

Ada kisah menarik di satu malam Minggu saat penulis menyertai Gus Arif bersama rekannya, Fatihul Birri, untuk mengistikomahi pengajian Kitab Munajat rutinannya yang diberi nama “Majelis Munajat Kalong.” Yaitu suatu pengajian yang digelar rutin setiap malam Minggu dalam setiap bulannya bagi warga kampung Gus Arif (Srengseng, Tegal, Jawa Tengah) yang merantau di Jakarta dengan sistem digilir dari rumah ke rumah sesuai tempat tinggalnya masing-masing. Sebagaimana namanya, “Kalong” pengajian ini dilaksanakan tengah malam ketika jamaahnya sudah pulang kerja. Saat itu, rutinaan dilaksanakan di daerah Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dari Pondok Cabe, seusai shalat Isya’ kami naik angkot, lalu beralih ke Trans Jakarta dengan dua kali ganti armada. Setelah berjam-jam lamanya, sampailah kami ke sebuah halte di Tanjung Priok. Dari sini, kami harus naik kendaraan lagi menuju tempat pengajian. Karena tidak paham betul alamatnya, kami pun berhenti di ujung gang untuk kemudian dijemput menggunakan sepeda motor. Selanjutnya, tibalah kami di tempat tujuan dengan selamat. Tak lama berselang, pengajian pun dijelang. Lantas, apa menariknya? Pertama, sebelum mengaji penulis bisa jalan-jalan menikmati malam Minggu kota Jakarta dengan menaiki kendaraan rakyat, meskipun bukan Wakil Rakyat. Kedua, bisa merasakan langsung, betapa istikomah itu tidak mudah. Ketiga, jika dilandasi dengan niat tulus betapa tautan hati saat mengaji di kampung tetap dapat dirawat ketika sama-sama di rantau. Dan, di sinilah nilai subtansinya.

Walah, kepanjangan kayaknya saya nulis ini, tetapi semoga ada manfaat yang dapat dipetik. Intinya, selamat ya Gus Arif atas capaianmu menyelesaikan studi S-2 di PTIQ. Semoga ilmu yang kauraih bermafaat bagi lingkungan, bangsa, dan negara. Semoga pula, tak lama lagi dirimu menjadi yang kau mau.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top