Kabar

Jinbun; Sultan yang Jadi Langganan Fitnah (2)

Padasuka.id – Demak. Pada edisi yang lalu telah diurai sekilas kisah tentang Raden Patah (ada yang menulis: Raden Fatah) yang kemudian bergelar Senopati Jinbun (Jin Bun), atau dalam “Babad Tanah Jawi,” ditulis: Senopati Jimbun Ningrat Ngabdulrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Dia adalah putra Prabu Kertawijaya (Maharaja Majapahit yang memerintah pada 1447 — 1451 M) dengan istri selir bernama Siu Ban Ci –putri saudagar yang juga seorang ulama berdarah Tionghoa asal Gresik, Jawa Timur, bernama Tan Go Hwat. Demikian, antara lain seperti diungkap Agus Sunyoto dalam “Atlas Wali Songo” serta catatan yang tertera dalam “Carita Purwaka Caruban Nagari.”

Ilustrasi wajah Raden Patah alias Senopati Jinbun (Istimewa)

Perjalanan karier Raden Patah dimulai saat ia menjalankan perintah gurunya, Sunan Ampel, untuk membuka padukuhan (di daerah yang disebut Glagah Wangi) hingga kemudian mampu membangun daerah Demak (Jawa Tengah) menjadi daerah yang maju. Berikutnya, Raden Patah diangkat oleh ayahnya (Kertawijaya – Brawijaya V) menjadi salah satu pejabat dalam tataran “panca tandha,” lalu menduduki jabatan sebagai Adipati Bintoro. Selanjutnya, ia dapat menyatukan Demak dan Bintoro menjadi satu kesatuan wilayah. Sampai puncaknya, Raden Patah menjadi raja muslim pertama di Kerajaan Demak Bintoro.

Raden Patah mendirikan Kerajaan (ada yang menyebut Kesultanan) Demak Bintoro pada sekitar 1481 Masehi, atau candra sengkala, “Geni Mati Siniram Janmi” : 1403 Saka. Di mana, peristiwa ini hampir bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit pada sekitar 1478 Masehi, atau yang dikenal dengan candra sengkala, “Sirno Ilang Kertaning Bumi.”

Dari dua peristiwa berbeda yang hampir bersamaan itu, yakni antara berdirinya Kerajaan Demak (Islam) dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit (Hindu), kelak dijadikan bahan fitnah yang dikaitkan dengan isu SARA. Anehnya, rentetan fitnah itu muncul ratusan tahun kemudian. Jika Raden Patah dikatakan wafat pada sekitar 1518 M (awal abad ke-16 M) maka fitnah itu tersebar pada abad ke-20 M –empat abad kemudian.

Fitnah yang dimaksud bukan hanya dari mulut ke mulut melainkan disusun rapi dalam bentuk buku. Setidaknya, ada dua buku yang sangat dikenal dalam upaya mendiskreditkan Raden Patah, yaitu Serat Darmogandul dan sebuah naskah yang disebut, “Kronik Sam Po Kong.”

Serat Darmagandul adalah naskah yang sebagian besar mengisahkan tentang keruntuhan Kerajaan Majapahit dan berdirinya Kerajaan Demak Bintoro. Dalam versi Darmagandul, Majapahit runtuh akibat serangan dari Adipati Demak bernama Raden Patah yang saat itu pula Raja Majapahit adalah ayahnya sendiri.

Darmogandul juga menyebut, para ulama yang dipimpin Sunan Giri dan Sunan Benang (Bonang) yang tergabung dalam dewan dakwah Wali Songo, memprovokasi Raden Patah agar merebut tahta kerajaan dari ayahnya yang dikatakan masih kafir. Bujukan para wali berhasil, sehingga pada akhirnya Majapahit dapat dibumihanguskan dan Prabu Brawijaya berhasil meloloskan diri.

Naskah Darmogandul juga berupaya merendahkan Wali Songo yang menurutnya, para ulama itu oleh Prabu Brawijaya diberi kebebasan untuk berdakwah di wilayah Majapahit, namun ketika Islam menjadi besar malah berbalik melawan Majapahit dan melupakan budi baik sang raja. Kecuali itu, naskah ini juga berupaya membanguan sentimen anti ras tertentu yang dihubungkan dengan latar belakang orang tua Raden Patah. Untuk yang disebut terakhir, agaknya sampai hari ini masih mengakar di sebagian kalangan masyarakat.

Kemudian, dalam Kronik Sam Po Kong tidak kalah dahsyatnya. Karena, penyebar naskah ini adalah seorang yang dikenal sebagai ahli sejarah, Mangaraja Onggang Parlindungan, melalui buku karyanya, “Tuanku Rao.” Dari buku ini lalu dikutip oleh penulis sejarah terkemuka di masanya, Slamet Muljana, dalam buku, “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara.”

Buku/Serat Darmogandul (Ist.)

Kronik Sam Po Kong dikatakan berasal dari naskah temuan seorang sinolog yang juga seorang detektif sejarah bernama Resident Poortman saat terjadi penggeledahan di Klenteng Sam Po Kong, Semarang, Jawa Tengah, pada 1928. Dikatakan, bahwa saat penggeledahan itu ditemukan tiga cikar naskah berusia 400 @ 500 tahun berbahasa Tionghoa yang semunya membahas tentang Jin Bun. (Jin Bun: versi penulisan dalam kronik tersebut).

Dikatakan pula, sebagai seorang sinolog, Poortman mengetahui, arti kata Jin Bun dalam Bahasa Tionghoa dialek Yunan, berarti “Orang Kuat.” Nah, dengan naskah-naskah temuannya itu kemudian dibuat rangkaian kisah sesuai tahun peristiwa (kronik) yang kemudian dikenal sebagai “Kronik Sam Po Kong Semarang.” Kronik yang disebut sangat rahasia itu, oleh Poortman konon hanya dicetak sebanyak lima buku, yang satu di antaranya disimpan di arsip Gedung Negara di Rijswijk Den Haag, Belanda. Sedangkan Parlindungan mengaku mendapatkan satu buku, langsung dari tangan Poortman.

Salah satu inti dari isi kronik tersebut adalah: bahwa runtuhnya Kerajaan Majapahit atas konspirasi antara Kerajaan Tionghoa (Dinasti Ming) dengan jajaran Wali Songo, melalui putra Raja Majapahit yang berdarah Tionghoa bernama Jin Bun. Menurut kronik tersebut anggota Wali Songo adalah muslim Tionghoa bermadzhab Hanafi. Nama-nama para wali itu pun menggunankan nama Tionghoa. Satu misal, Sunan Ampel bernama Tionghoa, Bong Swi Hoo yang dikatakan sebagai cucu dari Haji Bong Tak Keng di Cempa –selain dalam dua buku yang disebut di atas, terkait hal ini dapat dibaca dalam “Sejarah Sunan Ampel,” Sjamsudduha (2004).

Lantas, benarkah paparan dua “pakar sejarah” yakni MO Parlindungan dan Slamet Muljana, terkait Kronik Sam Po Kong? Sejumlah sejarawan menolaknya. Bahkan, sejarawan NU Agus Sunyoto yang melacak langsung ke Rijswijk Den Haag, Belanda, tidak menemukan apa yang disebut dengan kronik tersebut. Termasuk sang resident, sosok Poortman itu pun sampai saat ini masih fiktif keberadaannya.

Hujan fitnah terhadap Raden Patah alias Jinbun tidak berhenti hanya sampai saat itu. Di abad ke-21 ini, tepatnya di paruh akhir tahun 2019 lalu, seorang tokoh yang disebut sebagai ahli sejarah, dengan lantang mengatakan bahwa Raden Patah adalah seorang “Yahudi Barbar.” Memang, dia katanya menggunakan data sejarah, tapi data sejarah yang dibuat oleh musuh Kerajaan Demak itu sendiri, yakni Portugis. Dia menyebut nama Ferdinand Mendespito, utusan Kerajaan Portugis yang dia jadikan sebagai dasar rujukan. Serta, hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan ulang.

Masjid Agung Demak salah satu peninggalan Raden Patah (Foto: sebelum tahun 1870 M / Ist.)

Beralih pada sisi lain, di salah satu situs sejarah peninggalan Raden Patah alias Jinbun, yakni di Masjid Agung Demak, Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) akan menggelar “Nusantara Bermunajat 3.” Perhelatan akbar ini akan digelar pada Minggu, 19 Januari 2020 dari pukul 09.00 WIB sampai waktu Dhuhur.

Apakah gelaran akbar bernuansa qur’ani itu akan mengulas tentang badai fitnah atas pendiri masjid agung tersebut? Kita lihat saja nanti. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

 

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    R. Syarif Rahmat RA

    11 Januari 2020 at 7:37 pm

    Saatnya sejarah diluruskan. Berdosalah orang yang tahu kebenaran tetapi tak berani meruntuhkan kesalahan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top