Kabar

Siapa Ken Arok dalam Penjatuhan Gus Dur

Padasuka.id – Jakarta. Di penghujung 2019 lalu, publik dihentak oleh terbitnya sebuah buku yang membongkar dugaan sekenario di balik penjatuhan Presiden Republik Indonesia ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Menjerat Gus Dur,” demikian judul buku karya Virdika Rizky Utama yang cukup menghebohkan tersebut.

Buku yang diterbitkan hampir bersamaan dengan peringatan haul ke-10 Gus Dur itu, segera habis di pasaran beberapa waktu setelah diluncurkan. Namun begitu, terkait isi buku yang berasal dari dokumen rapat para petinggi partai tertentu saat itu, tidak habis-habis jadi bahan perbincangan. Selain isi bukunya yang seolah menjawab pernyataan Gus Dur sendiri tentang siapa yang berada di balik penjatuhan dirinya, sang penulis juga tergolong ‘nekad’ mengangkat nama-nama tokoh besar yang diduga telah ‘menjerat’ Gus Dur untuk dijatuhkan. Mengenai siapa yang menjatuhkan dirinya, dalam berbagai kesempatan Gus Dur kerap mengatakan, “Biarlah sejarah yang nanti akan membuktikan.”

Verdi (tengah) saat memberikan uraian

Sambil menunggu terbitan berikutnya, diskusi buku “Menjerat Gus Dur” beberapa kali digelar di bulan pembuka 2020 ini. Bahkan, Minggu siang, 12 Januari 2020, diskusi tentang isi buku itu digelar di kompleks kediaman almarhum Gus Dur, yakni di Pesantren Luhur Ciganjur, Jl Al-Munawaroh, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Acara yang dimulai dari pukul 14.30 WIB tersebut mendatangkan penulis bukunya, Virdika Rizky Utama, dan Khatibul Umam Wiranu (Anggota DPR RI periode 2000-2004) sebagai penanggap. Kegiatan yang didukung oleh Yayasan KH Abdul Wahid Hasyim dan Gusdurian Ciputat ini cukup memantik antusias masyarakat untuk menghadirinya. Hal ini, terlihat dari sesaknya ruang diskusi.

Atas permintaan peserta, Verdi yang sebelumnya tidak ingin menceritakan ulang kronologi penemuan dokumen yang menjadi dasar penulisan bukunya itu –karena sudah sering disampaikan– akhirnya ia pun menceritakan ulang. Menurutnya, dokumen penjatuhan Gus Dur itu ia temukan di Kantor DPP Partai Golkar pada Oktober 2017 silam.

Saat itu, saya masih menjadi reporter di Majalah Gatra untuk meliput satu tahun perkembangan renovasi kantor Golkar yang dihadiri Setya Novanto. Setelah acara peresmian; kami, para wartawan, biasa melakukan door stop dan lanjut membuat transkrip serta laporan. Saat saya melakukan transkrip, saya melihat beberapa tumpukan kertas teronggok, dibuang,” ungkap Verdi memulai kisahnya.

Kemudian, Verdi menghampiri petugas kebersihan untuk meminta ijin apakah boleh melihat apa saja yang dibuang, atau tidak. Ketika diijinkan lalu membaca beberapa dokumen usang itu, ia menemukan dokumen tersebut. Ia pun menanyakan pada si petugas, apakah dokumen lama itu boleh diambil, atau tidak? Mungkin karena tidak tahu, petugas itu memperbolehkan Verdi membawanya.

Ambil saja, Mas, ini juga mau dikiloin,” kata petugas itu seperti ditirukan Verdi.

Setelah mendapatkan dokumen itu Verdi kemudian mendiskusikan dengan teman-temannya di Lembaga Pers Mahasiswa. Sebagai alumni jurusan sejarah, pertama, ia mendiskusikan tentang keabsahan dokumen tersebut. Hingga berikutnya, diskusi berlanjut sampai pada sikap yang akan ia tempuh.

Teman-teman menanyakan kesiapan saya tentang kemungkinan terburuk terjadi, karena tokoh-tokoh utama dalam dokumen tersebut masih hidup dan berpengaruh,” kenang Verdi.

Suasana peserta diskusi

Setelah melakukan pertimbangan dalam bebera waktu, akhirnya ia siap melakukan penelitian. Dan, hal pertama yang ia lakukan dalam meneliti adalah mencari sumber sekunder, yakni koran-koran periode Gus Dur memerintah, serta membaca buku-buku yang berkaitan.

Saya tidak mau langsung melakukan wawanacara, sebab saya tidak mau terlihat bodoh di depan narasumber dengan hanya mengiyakan saja. Terlebih mereka semua adalah politisi senior yang berpengalaman dan jauh lebih pintar dari saya,” ucapnya lalu melanjutkan.

Saya membutuhkan waktu satu tahun untuk hal itu sepanjang tahun 2018, dari Januari sampai Desember. Pada saat itu pula saya mulai membuat kerangka tulisan dan daftar pertanyaan untuk narasumber,” tuturnya lagi.

Verdi lalu menceritakan tentang siapa saja yang ia wawancarai termasuk respon mereka. Saat menceritakan hal ini, ia membahas kilasannya saja, mungkin karena sudah sering ia ceritakan. Cerita yang lebih rinci pernah ia tulis sendiri dalam artikelnya yang dimuat di alif.id. Berikut ini, antara lain tulisan Verdi saat mewawancarai Amin Rais yang ia tulis dengan initial AR.

Begitu saya rasa sudah memiliki cukup pengetahuan dan ‘amunisi,’ saya mulai melakukan wawancara pada Januari 2019. Tokoh pertama yang saya wawancara adalah AR. Saya membuat janji wawancara selama 4-5 bulan untuk meyakinkan AR agar bersedia diwawancara,” tulis Verdi di alif.id (19/8/’19) lalu melanjutkan.

Wawancara AR dilakukan di rumahnya, bilangan Gandaria, Jakarta Selatan. Saya melakukan wawancara selama satu jam lebih. Menariknya, ketika saya mulai mengonfirmasi data, AR langsung mematikan rekaman saya.”

Semua itu tidak ada. Kami semua sudah ingin perubahan yakni mengganti Gus Dur. Karena Gus Dur banyak melakukan hal-hal konyol,” kata AR.

Tak cukup sampai di situ, AR melanjutkan, “Kamu dapat info ini dari siapa? Kamu harus beri tahu, kalau tidak ya kamu belum tentu bisa keluar dari rumah ini.

“Saya awalnya menolak untuk memberi tahu dengan alasan jurnalistik memiliki kesepakatan dengan narasumber kalau namanya tak mau disebut. Tapi karena AR mendesak, saya berpikir cepat dengan menyebut mantan Kapolri R.

Musabanya, Kapolri R juga tercatat hadir dalam rapat penjatuhan Gus Dur. Setelah itu, AR langsung menjabat tangan saya dan menyatakan bahwa wawancara sudah selesai, karena sudah satu jam dan ia harus bertemu dengan tamu lainnya.

Kecuali dengan AR, Verdi juga mewawancarai sejumlah tokoh yang namanya tertera dalam dokumen tersebut. Singkat cerita, akhirnya buku itu pun rampung ditulis kemudian diterbitkan.

Kembali lagi pada diskusi buku tersebut di Pesantren Ciganjur. Menarik di sini, saat Khatibul Umam memberikan komentar atas isi buku tersebut. Ia mengatakan bahwa apa yang diulas dalam buku karya Verdi itu hanyalah bagian pinggirannya saja soal sekenario penjatuhan Gus Dur; belum masuk pada pusaran yang lebih dalam lagi.

Khatibul Umam (paling kanan) saat memberikan tanggapan

Kemudian, dari isi buku itu Umam menganalogikan dengan peristiwa pembunuhan terhadap Tunggul Ametung yang oleh masyarakat diyakini pelakunya adalah Kebo Ijo. Sebab, sejak keris buatan Empu Gandring itu jadi, oleh Ken Arok dipinjamkan kepada Kebo Ijo. Dan, Kebo Ijo yang berkarakter ‘narsis’ sempat memamerkan keris tersebut di hadapan masyarakat. Sehingga, masyarakat mengira bahwa keris itu adalah milik Kebo Ijo. Maka ketika Tunggul Ametung gugur akibat hujaman keris yang sempat dipamer-pamerkan oleh Kebo Ijo, tentu saja orang inilah yang dianggap sebagai pelaku pembunuhan atas penguasa Tumapel tersebut. Padahal, di balik itu ada tokoh utama sebagai pemilik keris yang memang bernafsu untuk menjadi penguasa. Dialah tokoh yang bernama Ken Arok (Ang Rok). Lantas, siapa Ken Arok dalam peristiwa penjatuhan Gus Dur, tandas Umam, hal ini juga yang mesti diungkap.

Namun begitu Umam mengatakan, meskipun uraian buku tersebut belum masuk pada Ken Aroknya, tetapi sudah mendekati. Yang mana, untuk ke depanya, kata dia, biarlah para aktivis sejarah yang akan meneruskannya. Umam yang termasuk bagian dari orang yang melobi parlemen untuk tidak terjadi penjatuhan atas Gus Dur, mengatakan bahwa ada kelompok dalam dan luar negeri yang menjadi aktor penjatuhan Gus Dur. Dan, di masing-masing kelompok itu ada Ken Aroknya. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top