Kabar

Misteri Berdirinya Masjid Agung Demak (2)

Padasuka.id – Demak. Pada edisi sebelumnya telah diungkap bahwa dalam sumber hasil penelitian, setidaknya ada empat angka tahun –bahkan lebih– yang diperkirakan sebagai tahun berdirinya Masjid Agung Demak. Yang pertama, seperti telah diungkap, didirikan pada tahun 1401 Saka dengan merujuk pada gambar bulus yang dinilai sebagai candra sengakala.

Gambar bulus di tembok mihrab (Foto: Ist.)

Disebutkan, bahwa Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan masjid dengan memberi gambar serupa bulus. Hal itu dikatakan sebagai candra sengkala memet, dengan arti “Sarira Sunyi Kiblating Gusti” yang bermakna angka tahun 1401 Saka. Perinciannya adalah: gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak didirikan pada tahun 1401 Saka. Namun begitu, keterangan yang tertera dalam situs Wikipedia tersebut tidak mencantumkan di mana letak gambar bulus yang dimaksud.

Kemudian, dari hasil penelusuran Padasuka.id di lokasi masjid, gambar bulus itu ternyata ditatah pada tembok mihrab (paimaman) Masjid Agung Demak –lihat gambar. Sedangkan angka tahun Saka 1401 setara dengan 1479 Masehi.

Pintu Petir yang disimpan di museum masjid

Merujuk pada sumber Depdikbud RI (1997) dalam, “Kota Demak Sebagai Bandar Dagang di Jalur Sutra,” mengenai tahun berdirinya Masjid Agung Demak, selain angka tahun Saka seperti diurai di atas terdapat beberapa angka tahun yang lain lagi, di antaranya:

a-Masjid Agung Demak diperkirakan dibangun pada tahun 1428 (1506 M). Hal ini didasarkan pada prasasti yang tertulis di sebuah panil kayu yang berbunyi: “Hadeging Masjid Yasanipun Para Wali, Nalika Dinten Kamis Kliwon Malem Jum’at Legi Tanggal 1 Dulkaidah Tahun 1428” (Berdirinya Masjid Ini atas Jasa Para Wali, Pada Hari Kamis Kliwon Malam Jum’at Legi Tanggal 1 Dulkaidah 1428). Prasasti ini sekarang disimpan di museum masjid, sedangkan sebelumnya terletak di dinding sebelah dalam di atas pintu utama.

b-Didirikan pada tahun 1466 M. Hal ini didasarkan pada candra sengkala yang terdapat di ‘lawang bledek’ (pintu petir) yang memadukan unsur kebudayaan Majapahit (gambar stupa di bagian atas) dengan kebudayaan Cina (gambar naga di bagian bawah) yang dapat dibaca: “Naga Mulat Salira Wani,” yang mengandung makna angka tahun 1388 Saka (1466 M). Pintu ini aslinya dibuat oleh Ki Ageng Selo –yang sekarang adalah replikanya saja, yang asli disimpan di museum masjid.

c-Merujuk pada Babad Demak karya Atmodarminto, disebutkan bahwa pembangunan Masjid Agung Demak ditandai dengan candra sengkala yang berbunyi, “Lawang Trus Guna ning Jalmi,” yang mengandung makna angka tahun 1399 Saka (1477 M). Sayangnya, tidak ada penjelasan rinci terkait candra sengkala yang dimaksud berada di sebelah mana.

d-Dalam buku “Nukilan Sedjarah Tjirebon Asli,” tulisan P.S. Sulendraningrat (1968) yang dikatakan sebagai naskah tradisi asli Cirebon, disebutkan bahwa Masjid Agung Demak dibangun oleh para wali di tahun yang sama dengan Masjid Agung Cirebon yaitu pada 1498 M.

Dari semua angka tahun tersebut memang masih misteri mana yang benar. Namun jika merujuk pada keterangan dalam Serat Kandha yang menginformasikan, “…seorang Raja Demak pada tahun Jawa 1429 (1507 M) tahun ketiga pemerintahannya telah hadir pada peresmian Masjid Raya di Demak,” agaknya ada korelasinya denga prasasti kayu yang menyebut angka tahun 1428 Saka (1506 M) –lihat item a. (SM)

 

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top