Kabar

Kiai Bagdja Tutup Usia

Istimewa

Padasuka.id – Jakarta. Kabut duka kembali menyelimuti keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU). Setelah KH Sholahuddin Wahid wafat pada Minggu (2/2) yang lalu, tadi malam (Kamis, 6/2/2020) pada sekitar pukul 01.09 WIB, KH Ahmad Bagdja, juga menghadap ke haribaan Ilahi. Kiai asal Kuningan, Jawa Barat, ini tutup usia di RS Jakarta Medical Center (JMC) Jakarta.

Semasa hidupnya, Kiai Bagdja dikenal sebagai kiai yang organisatoris. Di lingkungan NU, almarhum pernah menjabat sebagai Ketua Umum PMII periode 1977-1981. Serta, menjadi Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada periode kedua kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tahun 1989-1994.

KH Ahmad Bagdja (Foto: NU Online)

Sedangkan dalam dunia akademik, di luar NU, Kiai Bagdja pernah menjadi Ketua Umum Dewan Mahasiswa IKIP Jakarta dan Ketua Badan Koordinasi Senat-senat Mahasiswa IKIP se-Indonesia (1970).

Selain itu, Kiai Ahmad Bagdja juga dikenal dengan pemikirannya untuk memajukan NU. Melansir dari catatan NU Online, ‘Bagaimana Agar NU Menjadi Lebih Baik,’ Kiai Bagdja mengatakan bahwa pengurus dan warga NU harus mempunyai impian besar.

Dengan impian yang besar, masalah-masalah yang dihadapi akan terlihat kecil. Sebaliknya, jika memiliki impian kecil, masalah kecil pun akan terlihat besar,” ungkap Kiai Bagdja seperti dirilis ulang NU Online, Kamis (6/6/2020).

Menurut Kiai Bagdja, bila menginginkan NU menjadi lebih besar, jangan memikirkan sisi kurang baiknya, tetapi pikirkankanlah kebaikan yang ada pada NU.

Harus kita syukuri juga kita menjadi orang NU. Kita harus memikirkan bagaimana menjadi orang NU yang baik dan berupaya menjadikan NU lebih baik lagi,” katanya.

Ia pun mendorong generasi muda untuk menjadikan IPNU, IPPNU, PMII, GP Ansor, dan yang lainnya sebagai proses untuk mendidik diri. Demikian juga dengan menjadi anggota dan pengurus NU dijadikan proses mendidik diri masing-masing.

Kaderisasi itu adalah seluruh proses kita dalam berorganisasi di mana pun kita berada. Totalitas kita di situ itulah kaderisasi yang sebenarnya. Itu diwujudkan ketika misalnya menjadi panitia kita menjadi yang terbaik, mencapai yang terbaik,” terangnya.

Lebih lanjut ditegaskan, bahwa untuk mencapai suatu kemajuan adalah bagaimana diri kita memacu semangat dan berfikir maju.

Kalau kita berpikir kita ini biasa saja, seribu kali kita mendengar nasihat atau dorongan orang untuk maju, kita akan biasa-biasa saja. Yang membuat kita luar biasa adalah diri kita sendiri,” tegasnya.

Selamat jalan, Kiai. Semoga dimuliakan di sisi Allah SWT, serta dipertemukan dengan para pendiri NU dan para kiai yag telah lebih dulu menghadap ke haribaan-Nya. Al-Fatihah.

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top