Kabar

Kisah H Nasir Selamatkan Rhoma

Istimewa

Padasuka.id – Jakarta. Seperti telah diberitakan di media ini, pemain mandolin kawakan Soneta Group H M Nasir (73 tahun), telah berpulang ke rahmatullah di Rumah Sakit Pondok Kopi, Jakarta Timur, Senin 3 Februari 2020 yang lalu. Menurut pimpinan Soneta, Rhoma Irama, Haji Nasir sapaan akrab almarhum, merupakan personil Soneta formasi awal, yakni sejak grup musik dangdut itu dibentuk pada 1970.

Sementara itu, kepada awak media, Ketua Umum Fans of Rhoma and Soneta (Forsa) Surya Aka menjelaskan bahwa personil Soneta formasi awal sudah banyak yang telah wafat. Terangnya lagi, almarhum Nasir menyusul sejumlah rekan seangkatannya di Soneta yang lebih dahulu berpulang ke haribaan Tuhan. Mereka adalah Kadir (gendang), Ayub (timpani dan tamborin), Herman (bass), dan Riswan (keyboard). Adapun personil Soneta formasi awal yang masih ada adalah Rhoma Irama sendiri (melodi – vokal), Wempy (rithem), dan Abdul Hadi (seruling) –namun kondisi kesehatan Hadi sejak lama menurun.

Personil Soneta (Foto: Alief Satria)

Mengenang kiprah almarhum Nasir di Soneta, Surya lalu mengisahkan peristiwa lama berkenaan dengan keselamatan Rhoma dari upaya pembunuhan. Menurutnya, alamrhum pernah menyelamatkan nyawa Rhoma ketika terjadi keributan ketika konser di Ancol, Jakarta Utara, pada 1974 silam. Kala itu, lanjut Surya, Rhoma sempat akan dibunuh oleh seorang penonton, namun berkat kesigapan Nasir, upaya pembunuhan itu dapat digagalkan.

Melansir dari TEMPO.CO, peristiwa puluhan tahun silam yang disampaikan Surya, juga sempat dikisahkan sendiri oleh Rhoma kepada Tempo yang menemuinya di sebuah hotel di kawasan Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Sabtu malam, 28 Desember 2013 yang lalu. Dikisahkan, menurut Rhoma, kala itu (1974) Soneta sedang menggelar konser sekaligus berdakwah di Ancol.

“Zaman segitu dakwah di musik hal baru. Penonton sinis, ucapan salam saya tidak ada yang membalas,” tutur Rhoma kepada Tempo yang mewawancarainya. Kala itu, Rhoma mulai mencium gelagat buruk. Benar saja, seperti dikomando, para penonton melempari personil Soneta dengan batu, lumpur, dan sandal.

“Kami mencoba tetap bertahan di atas panggung meski suasananya kacau,” ujar Rhoma mengenang.

Di sela-sela keadaan semerawut itu, lanjut Rhoma, seroang penonton berteriak, “Islam taik!” Mendengar teriakan itu, emosi Rhoma langsung tersulut. Tanpa pikir panjang ia meletakkan gitarnya dan meloncat dari panggung mengejar penonton tersebut.

“Saya dihina, dihujat, dilempari, oke. Tapi kalau agama yang dihina, saya enggak bisa nahan emosi,” tutur Rhoma.

Upaya Rhoma mengejar penonton itu gagal. Di bawah panggung ia justru disambut oleh para pemuda yang sudah siap akan mengeroyoknya. Tanpa diketahui Rhoma, seorang penonton lainnya hendak menikamnya dari belakang menggunakan sebilah pisau.

Namun dengan cekatan, Nasir melompat dari panggung dan menghantam penonton bersenjata tajam itu menggunakan tiang mikrofon. Rhoma pun selamat dan kericuhan itu berhasil dikendalikan aparat keamanan.

“Tiap mengingat kejadian itu, saya terharu sama Haji Nasir,” kata Rhoma.

Demikian sekelumit kisah heroik seorang pemain mandolin Soneta yang kini telaj tiada. Jika saat itu sang mandolis itu tidak mengambil tibdakan cepat, dapat dibayangkan apa yang akan menimpa pada sang Raja Dangdut itu.

Kembali pada dedikasi Nasir di dunia musik, walau di tahun 2010 ia ‘istirahat’ dari Soneta, namun sebagai pemusik sejati ia tetap bergelut dengan dunia seni yang telah melambungkan namanya itu sampai akhir hayatnya. Bersama beberapa orang rekannya sesama personil Soneta formasi awal yang sama-sama istirahat dari Soneta, ia kemudian membentuk grup “Soneta Legend.”

Awalnya, personel Soneta Legend terbilang lengkap; mulai dari Nasir sendiri sebagai pemetik mandolin, Riswan pada keyboard, Herman pada bass, dan Wempy pada rhytm –keempat musisi ini adalah personil Soneta sejak awal didirikan yang kerap disebut sebagai ‘the legend’-nya Soneta. Dari empat personil ini ditambah dua pemain saksofon yang pernah bergabung dengan Soneta, yakni Anto G dan Aziz. Dari sejumlah nama tadi ditambah lagi dengan personil muda yang piawai dalam memainkan musik-musik Soneta. Sementara itu, pemain seruling Soneta, Abdul Hadi, tidak bergabung dalam Soneta Legend karena dalam kondisi sakit.

H Nasir dan H Herman saat tampil bersama Soneta Legend dalam acara pengajian umum di PP Ummul Qura Tangsel, asuhan KHR Syarif Rahmat RA

Bersama Soneta Legend, sejumlah senior Soneta itu kerap tampil bersama Ketua Umum Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) KHR Syarif Rahmat RA di panggung dakwah. Kolaborasi penampilan seorang kiai bersama musisi kawakan ini dalam mengisi acara-acara pengajian umum memiliki sentuhan tersendiri. Selain tampil di dalam kota, dalam pantauan Padasuka.id, kolaborasi antara Kiai Syarif dengan Soneta Legend, beberapa kali, juga pernah tampil di luar kota.

Kini, sejumlah the legend Soneta itu telah berpulang ke haribaan Tuhan. Selamat jalan, semoga Allah SWT menempatkan pada posisi terbaik di sisi-Nya. Al-Fatihah. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top