Kabar

Mengenal ‘Keluarga’ Allah

Padasuka.id – Jawa Barat. Meskipun diketahui bahwa Allah SWT, difirmankan dalam Al-Qur’an, “Berbeda dengan ciptaan-Nya,” namun Dia juga memiliki ‘keluarga.’ Hanya saja, kata keluarga di sini bukan berarti sama dengan pengertian kata keluarga pada ciptaan-Nya.

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

( إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنْ النَّاسِ ) قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ : ( هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ ) وصححه الألباني في “صحيح ابن ماجة”

Artinya:
“Sesungguhnya Allah memiliki orang khusus (Ahliyyin) dari kalangan manusia. Mereka (para shahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah siapakah mereka?” Beliau menjawab, “Mereka adalah Ahlu Al-Qur’an, Ahlullah dan orang khusus-Nya.” (Shahih Ibnu Majah)

Hadits di atas dibaca oleh Ust. Ahmad Faujih, S.Pd.I dalam acara pengajian rutin di Istana Munajat, Perumahan Harvest City, Bekasi, Jawa Barat, Minggu pagi, 9 Februari 2020.

Ustadz Fauzi (tiga dari kanan), Ustadz Awang (dua dari kanan) dan sejumlah jamaah foto bersama di depan pintu Istana Munajat seusai acara

Ulasan Hadits di atas berkenaan dengan wirid dan doa yang dibaca dalam acara tersebut, yakni “Kitab Munajat.” Yang mana, kitab kumpulan wirid dan doa-doa susunan KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA, itu seluruhnya berisi untaian kalimat Al-Qur’an. Dan ternyata, keutamaan ahli Al-Qur’an (pengamal Al-Qur’an) sungguh sangat luar biasa, sampai-sampai Allah SWT yang ‘mukhalafatu lilhawaditsi,’ menyatakan bahwa ahli Al-Qur’an adalah keluarga-Nya.

Dalam acara tersebut, pihak Istana Munajat, melalui pimpinannya, Ust. Awang Bachtiar, juga menyerahkan wakaf keranda kepada DKM setempat. Terkait dengan hal ini, masih seputar fadhilah (keutamaan) ibadah, diungkap tentang keutamaan sedekah jariyah.

Dikatakan, bahwa wakaf keranda adalah masuk dalam katagori sedekah jariyah sebagaimana dalam Hadits dijelaskan, ”Apabila anak Adam mati, maka terputuslah amalnya, kecuali (amal) dari tiga ini: sedekah jariyah (yang berlaku terus menerus), ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan dia.”

Dari uraian di atas, Ustadz Fauzi, sapaan akrab Ahmad Faujih, kemudian mengutip sebuah keterangan:

الصدقة الجارية محمولة عند العلماء على الوقف كما قاله الرافعي ، فإن غيره من الصدقات ليست جارية

Artinya:
“Sedekah jariyah dipahami sebagai wakaf menurut para ulama, sebagaimana keterangan Ar-Rafi’i. Karena sedekah lainnya bukan sedekah jariyah.” (Mughni al-Muhtaj, 3/522).

Dalam kata lain, wakaf keranda akan terus mengalirkan pahala meski pewakafnya sudah meninggal dunia selama keranda wakaf itu masih bermanfaat.

Selain diisi dengan penyerahan wakaf keranda, pihak Istana Munajat juga menyerahkan santunan kepada anak yatim. Kembali lagi pada bahasan fadhilah ibadah, berkenaan dengan hal ini dikupas tentang keutamaan menyantuni anak yatim serta cara mengusap rambutnya.

Untuk memotivasi para jamaah agar gemar dan ikhlas dalam menyantuni anak yatim, Ustadz Fauzi, mengupas Hadits berikut ini.

عَنْ سَهْلِ بَْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم : أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئاً

Arinya:
“Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya.” (HR al-Bukhari)

Kemudian Ustadz Fauzi melanjutkan dengan Hadits yang menerangkan keutamaan dan cara mengusap rambut yatim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Barang siapa yang mengusap kepala anak yatim, dan dia tidak mengusapnya kecuali karena Allah semata, maka baginya setiap helai rambut yang diusap oleh tangannya menjadi pahala kebaikan-kebaikan” (HRAhmad dan lainnya dari Umamah)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Anak kecil yang memiliki ayah (orang tua) diusap kepalanya dari depan kebagian belakang (kepalanya), sementara anak yatim diusap kepalanya ke arah depan.” (HR.Al-Bukhari dalam kitab Tarikh-nya)

Pada bagian akhir, tidak luput juga dari uraian Ustadz Fauzi tentang kewajiban istri terhadap suami. Hal ini dibahas, menurutnya, karena dalam acara tersebut bayak kaum emak-emak yang hadir.

Adapun kewajiban yang dimaksud antara lain:

1.Menyambut kedatangan suami
2.Menjawab dan mendatangi suami saat dipanggil.

أَيُّمَا رَجُلٍ دَعَا زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ فَلْتَأْتِهِ …..

Artinya:
“Suami mana saja yang memanggil istrinya untuk memenuhi hajatnya, maka si istri harus/wajib mendatanginya (memenuhi panggilannya) ……” –seperti diriwayatkan oleh Abu Hatim dalam Shahihnya dan At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan.”

Suasana santai susai pengajian

Rangkaian acara pengajian ini rampung ketika memasuki waktu Dhuhur yang kemudian dilanjutkan dengan shalat Dhuhur berjamaah.

Secara terpisah, menurut pimpinan Istana Munajat Ustadz Awang Bachtiar, dalam acara ini anak-anak yatim yang diundang terdiri dari dua desa, yakni Desa Cikarageman dan Desa Ragemanunggal yang letaknya berada di sekitar Istana Munajat.

Acara pengajian sekaligus santunan ini, lanjutnya, dilaksanakan setiap satu bulan sekali yakni setiap hari Minggu yang ke-2. Adapun angkaian acaranya dimulai dari pagi sampai waktu Dhuhur tiba. Untuk acara pengajiannya, lanjutnya lagi, berlaku untuk umum.

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top