Kabar

Ada SDN Setan di Jateng

Padasuka.id – Jawa Tengah. Ketika kita mendengar kata “setan” umumnya yang terbayang adalah sesuatu yang seram. Sebab, selain kata setan dipakai untuk menyebut makhluk yang sesat dan menyeru pada kesesatan, juga dipakai menyebut makhluk yang menyeramkan –umum pula disebut hantu dan sejenisnya.

Nah, kalau kata setan melekat pada sesuatu yang disebut di atas, lantas bagaimana kalau ada Dusun Setan? Apakah dusun yang dimaksud juga menyeramkan, banyak hantu, memedi, jurik, dan sebangsanya? Nanti dulu!

Dusun Setan nyata adanya, yakni salah satu dusun yang terletak di wilayah Desa Candiretno, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (Jateng). Menurut data kependudukan setempat Dusun Setan dihuni oleh kurang lebih 200 KK atau sekitar 600 jiwa.

Gapura bertuliskan Dusun Setan (Foto: TribunJogja.com)

Tentang kata ‘Setan’ yang dijadikan nama wilayah tersebut, dikatakan sudah sejak jaman dulu. Yakni, sejak dari masa penjajahan wilayah itu sudah dikenal dengan nama Dusun Setan.

Nama Dusun Setan ini sudah sejak lama. Sejak A Yasir, lurah pertama di Desa Candiretno, sejak jaman penjajahan sampai dengan 1946. Dahulu, ada dua desa; Desa Candirejo dan Desa Setan, tetapi digabung menjadi Desa Candiretno,” ungkap Slamet Trianto, (36 tahun), Kasi Pemerintahan Desa Candiretno, seperti dilansir dari TribunJogja.com (5/2/2020).

Namun demikian, menurut Slamet, kata Setan di sini ada yang mengatakan sebagai singkatan dari nama Secang Wetan.

Sebagian warga ada yang menjuluki dengan Secang Wetan (yang disingkat Setan). Jadi namanya memang seperti itu, bukan karena apa-apa,” terang Slamet yang juga Kepala Dusun Setan periode tahun 2010 –2018.

Masih menurut Slamet, pada mulanya ada dua dusun, tetapi setelah ada perampingan pada tahun 2011, kemudian menjadi satu dusun, yakni Dusun Setan.

Perampingan dan digabung, karena jumlah penduduk sedikit. Pak Sukardi, yang sekarang menjabat Kadus Setan sekaligus Dusun Tidaran,” papar Slamet.

Papan nama SDN di Dusun Setan, Candiretno, Secang, Magelang, Jateng

Lebih lanjut Slamet mengungkapkan, sejumlah warga setempat dulu sempat ada yang merasa kurang nyaman dengan nama dusunnya itu. Karenanya, bahkan sampai ada yang merubah alamat di KTP mereka; dari nama Setan menjadi Stan –membuang huruf ‘e’ setelah huruf ‘S.’ Namun setelah itu, karena alamat di e-KTP harus diseragamkan, maka kemudian mereka merubah kembali dari nama Stan menjadi Setan.

Kecuali itu, Slamet menambahkan, bahwa pelafalan nama Dusun Setan ada kekeliruan. Sebab yang benar menurutnya, pada awalan ‘Se’ mestinya dibaca ‘Sê’ yang dalam istilah Bahasa Jawa dikasih pepet. Sehingga dilafalkan dengan Sêtan, seperti ‘Se’ pada kata ‘Sekolah.’ Namun sekarang, imbuh dia, penulisannya tidak menggunakan pepet sehingga orang membaca kalimat Dusun Sêtan sebagaimana kata setan dalam pengertian hantu dan sejenisnya.

Terkait dengan penulisan kata Setan, selain alamat di e-KTP, juga dapat dilihat dari papan nama Sekolah Dasar Negeri setempat yang ditulis “SD Negeri Setan,” dan lain sebagainya. Sehingga dengan demikian, jika dilihat atau didengar sepintas akan menimbulkan keganjilan. Misalkan, jika seorang murid ditanya, “Adik sekolah di mana?” Maka akan dijawab, “Di SD Negeri Setan.” Tentu saja yang mendengar akan merasa ganjil. Namun nyatanya, kata Setan di sini adalah nama sebuah dusun yang menurut Slamet terjadi kekeliruan pelafalan akibat dibuangnya tanda pepet pada kata Setan tersebut.

Secara umum Dusun Setan adalah wilayah yang indah dengan pemandangan khas alam pedesaan di wilayah Jawa Tengah. Dalam kata lain, walau mendengar nama Dusun Setan terkesan menyeramkan namun nyatanya jauh dari kesan itu.

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top