Kabar

Peristiwa Aneh Saat Bermunajat Redam Covid-19 di Sragen

Padasuka.id – Soloraya. Sesuai seruan dari Ketua Umum Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA, Kamis Wage malam Jum’at Kliwon, 19 Maret 2020, jamaah dan penggerak Majelis Munajat PADASUKA Soloraya menggelar pembacaan Kitab Munajat secara berjamaah yang diikuti lebih dari 70 orang pembaca. Gelaran ini bertujuan agar wabah virus corona baru (Covid-1) yang telah merambahi negeri ini tidak semakin meluas hingga menjadi bencana nasional. Kegiatan ini dilaksanakan di kediaman Bapak Didik, Blagungan, Donoyudan, Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah.

Suasana jamaah kaum bapak seusai pembacaan Kitab Munajat

Alhamdulillah, pembacaan Kitab Munajat berjamaah malam ini berjalan lancar. Kali ini, pembacaan Kitab Munajat dilaksanakan sesuai dengan instruksi dari PADASUKA Pusat yang disampaikan oleh Romo Kiai Syarif Rahmat, bahwa seluruh jaringan PADASUKA supaya membaca Kitab Munajat minimal 70 orang pembaca dengan niatan semoga wabah penyakit virus corona yang melanda negeri Indonesia khususnya, dan umumnya di dunia, dengan berkah Munajat semoga Allah SWT mencabut semua wabah penyakit virus corona ini dan diganti dengan kedamaian, aman sentosa, dan gemah ripah loh jinawi,” tutur Ustadz Muhammad Hadi, salah seorang penggerak Majelis Munajat PADASUKA Soloraya seusai acara.

Lebih lanjut, Ustadz Hadi menceritakan kejadian aneh saat awal pembacaan Kitab Munajat untuk meredam pandemi Covid-19 itu dilangsungkan. Menurutnya, terdapat dua orang jamaah yang merasakan kehadiran penyusun Kitab Munajat, KHR Syarif Rahmat RA, serta sejumlah sosok yang lainnya.

Cerita sedikit, pada saat pembacaan Kitab Munajat ada yang merasakan lain dari biasanya. Yakni, ada dua orang jamaah yang katanya merasakan kehadiran Romo Kiai Syarif Rahmat, Kanjeng Sunan Kalijaga, dan para auliya. Menurut dua orang jamaah tersebut, beliau-beliau itu hadir di majelis pada saat awal pembacaan doa Munajat dilansungkan. Subhanallah… Pertanda apa, kami tidak faham. Tapi yang pasti dua orang jamaah itu merasakan hal yang sama. Semoga saja hal itu menjadi pertanda kebaikan bagi kita semua,” terang Ustadz Hadi mengisahkan.

Setelah selesai pembacaan Kitab Munajat acara dilanjutkan dengan ceramah singkat oleh Ustadz Hadi. Yang intinya, adalah agar kita tetap bersyukur apa pun yang menimpa pada diri kita, baik dalam keadaan senang atau pun dalam kondisi susah. Sebab menurutnya, semua itu pasti ada hikmah yang tersembunyi.

Sedangkan terkait dengan mewabahnya virus corona (Covid-19) ia menyarankan para jamaah agar mereka tetap tenang, tidak panik, serta tidak takut. Sebab, tandasnya, yang mesti ditakuti hanyalah Allah SWT.

Suasana jamaah kaum ibu seusai pembacaan Kitab Munajat

Kita tidak boleh takut pada virus corona tapi takutlah pada Allah SWT. Kita berdoa setiap waktu, setiap saat, tapi juga mesti menjaga kebersihan setiap harinya. Dan yakinlah, Allah SWT menjadikan suatu penyakit pasti ada obatnya,” tandas Ustadz Hadi di hadapan jamaah.

Hal menarik lainnya dalam pembacaan Kitab Munajat di majelis ini, sebagian besar jamaahnya adalah kaum sepuh, baik yang lelaki atau pun yang ibu-ibu. Oleh karena itu, seusai pembacaan rangkaian doa se-Qur’an yang cukup panjang itu, di antara mereka ada yang langsung menjulurkan kakinya ke depan alias selonjoran. Namun demikian, semangat kebersamaan mereka dalam memohon kemurahan Tuhan demi wabah pandemi Covid-19 segera berlalu dari negeri ini layak diacungi jempol. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top