Kabar

Heboh Novel Karya Dean Koontz Terkait Covid-19

Padasuka.id – Jakarta. Setelah heboh berita tentang virus corona (Covid-19) yang mewabah di Wuhan, ibu kota provinsi Hubei, Tiongkok (China) beberapa waktu lalu, muncul informasi yang dikaitkan dengan nama kota tersebut yang diangkat dari sebuah novel karya Dean Koontz, penulis asal Amerika Serikat, berjudul “The Eye of Darkness.” Ketika wabah Covid-19 menjalar ke berbagai negara termasuk ke Indonesia, salah satu isi dari halaman novel itu semakin ramai diperbincangkan, baik di media sosial ataupun di aplikasi percakapan WhatsApp (WA). Yang intinya adalah bahwa kemumculan virus yang dilaporkan ke WHO pada 31 Desember 2019 itu, sejak lama (1981) telah disebutkan oleh Dean Koontz dalam novel karyanya. Sebaran informasi itu ada yang dilengkapi dengan foto sampul depan dan salah satu halaman buku novel tersebut, serta ada pula yang disertai dengan kiriman buku format PDF-nya.

Tangkapan layar informasi tentang novel “The Eye of Darkness” dan kiriman PDF-nya yang beredar di beberapa grup WhatsApp

Dalam novel karangan Dean Koontz (1981), disebutkan bahwa tahun 2020 akan mewabah virus yang berasal dari Laboratorium Biologi di Wuhan,” demikian salah satu informasi yang beredar di beberapa grup WA dengan menyertakan format PDF novel tersebut.

Kemudian, dalam salah satu lembar halaman novel yang difoto dan beredar di grup-grup WA, berisi cerita adanya senjata biologis bernama Wuhan-400 yang dibawa seorang ilmuwan China bernama Li Chen saat ia pindah ke Amerika Serikat. Berikut ini kutipannya:

“It was around that time that a Chinese scientist named Li Chen defected to the United States, carrying a diskette record of China’s most important and dangerous new biological weapon in a decade. They call the stuff ‘Wuhan-400’ because it was developed at their RDNA labs outside of the city of Wuhan, and it was the four-hundredth viable strain of man-made microorganism created at that research center.” (Sekitar waktu itu seorang ilmuwan China bernama Li Chen membelot ke Amerika Serikat, membawa catatan disket senjata biologis baru paling penting dan berbahaya dalam satu dekade. Mereka menyebut barang-barang ‘Wuhan-400’ karena dikembangkan di laboratorium RDNA mereka di luar Kota Wuhan, dan itu adalah strain mikroorganisme buatan keempat ratus yang dibuat di pusat penelitian itu.)

Tangkapan layar foto sampul novel “The Eye of Darkness” dan salah satu halamannya yang beredar di beberapa grup WhatsApp

Dari imajinasi Dean Koontz yang dituangkan dalam naskah novel itu oleh si penyebar informasi di medsos dan WA dianggap bahwa ia telah memprediksi akan munculnya virus mematikan dari Wuhan, sejak 1981 yang silam.

Lantas, apakah benar karya fiksi ilmiah berjudul “The Eye of Darkness” karya Dean Koontz itu telah memprediksi kemunculan virus corona atau yang oleh WHO kemudian diberi nama Covid-19 itu sebagai senjata biologis dari Kota Wuhan?

Melansir dari cek fakta Tempo.Co (18/3/2020) diungkapkan bahwa anggapan atau klaim tersebut telah diverifikasi sekaligus dibantah oleh sejumlah media dan organisasi pemeriksa fakta. Sebagaimana dikutip dari situs media asing CNN, dalam edisi perdana “The Eyes of Darkness” yang terbit pada 1981, senjata biologis yang disebut dalam novel itu diberi nama Gorki-400 dan diciptakan oleh Rusia –belum bernama Wuhan-400.

Seperti dikutip dari South China Morning Post, saat itu novel tersebut diterbitkan dengan nama samaran Dean Koontz, Leigh Nichols. Dijelaskan, nama senjata biologis itu dirubah menjadi Wuhan-400 dari Gorki-400 ketika novel itu dirilis ulang pada 1989 dengan nama asli Dean Koontz sebagai pengarangnya. Dan, tahun rilis ulang novel ini bersamaan dengan berakhirnya masa perang dingin dan runtuhnya Uni Soviet.

Sejak 1986, hubungan Amerika Serikat dengan Uni Soviet mulai membaik,” kata Jenny Smith, pendiri toko buku indie Bleak House Books di Hong Kong sekaligus akademisi sejarah Rusia.

Dalam kondisi itu, tidak bijak rasanya jika penulis dari AS menggambarkan kembali Rusia sebagai tokoh jahat, sehingga novel “The Eye of Darkness” butuh penjahat baru dari negara lain.

Sementara itu, sejumlah negara yang memiliki fasilitas laboratorium senjata biologis, seperti Prancis, Inggris, dan Jepang, adalah sekutu AS. “China adalah satu-satunya tempat yang terlintas dalam pikiran saya yang akan memiliki program aktif, dan kemungkinan ada kecurigaan yang mendalam (di AS) terhadap China soal banyak hal dalam periode ini,” ujar Smith.

Pada 1989, memang terjadi demonstrasi mahasiswa besar-besaran di Lapangan Tiananmen, Beijing, China, yang berujung pada kekerasan oleh aparat. Ketika itu, berkembang pula sejumlah rumor tentang adanya fasilitas senjata biologis. Menurut Smith, AS bakal menyadari rumor-rumor tersebut.

Perubahan dari Gorki-400 menjadi Wuhan-400 dalam novel itu pun benar-benar hanya “cut-and-paste”. Namun, tidak diketahui apakah Koontz sendiri yang meminta perubahan nama itu, atau penerbitnya yang membuatnya. Surat elektronik yang dikirim oleh South China Morning Post ke Koontz, agen sastra, maupun penerbit novel “The Eye of Darkness” tidak dijawab.

Menurut laporan CNN, gagasan bahwa virus corona (Covid-19) dibuat di sebuah laboratorium di Wuhan, China, hanyalah teori konspirasi yang telah dibantah oleh ilmuwan, baik dari China maupun dari Barat. Hingga saat ini, para ahli masih mencari tahu sumber pasti virus itu. Sejauh ini, penelitian menunjukkan bahwa virus itu kemungkinan berasal dari kelelawar dan ditransmisikan ke hewan perantara sebelum melompat ke manusia.

Ringkasnya, sesuai berbagai fakta seperti diulas di atas, klaim bahwa novel “The Eye of Darkness” telah memprediksi kemunculan Covid-19 sebagai senjata biologis dari Wuhan, tidak ada data yang mendukung. Dalam kata lain, informasi atau klaim yang beredar hanya dikait-kaitkan saja, karena terdapat satu kesamaan mengenai nama kota asal senjata biologis yang disebut dalam novel dengan nama kota di mana Covid-19 pertama kali dilaporkan dan mewabah, yakni di Wuhan, China.

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    awang bachtiar

    22 Maret 2020 at 2:00 am

    Semoga ada jalan keluarnya, anti virus corona

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top