Kabar

Dari Wudhu’, Baitul Maqdis, hingga Masa Berbalik

Padasuka.id – Tangerang Selatan. Kondisi dunia yang kini sedang diguncang oleh wabah penyakit yang disebut Covid-19 juga menjadi bahasan dalam acara Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Ummul Qura, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Minggu, 22 Maret 2020. Di antaranya adalah tentang cara mengantisipasi virus yang sampai saat ini masih belum jelas penyebab tetapi sudah jelas korbannya itu. Selain antisipasi dengan cara yang rasional seperti yang dianjurkan dunia kedokteran juga antisipasi secara spiritual, serta perpaduan antara keduanya. Untuk yang disebut terakhir, antara lain bisa dilakukan dengan cara melanggengkan wudhu’.

Ust. Abdul Hakim Abu Bakar

Bahasan tentang wudhu’ disampaikan oleh Ustadz Abdul Hakim Abubakar, S.Pd.I, penceramah ke-4 dalam acara peringatan Isra’ Mi’raj di Ummul Qura. Menurutnya, sejak merebaknya Covid-19 di tanah air, anjuran untuk cuci tangan dan yang lainnya seolah menjadi sebuah gerakan yang mesti ditaati. Padahal, urusan cuci tangan adalah sesuatu yang sudah lumrah dilakukan. Terlebih lagi bagi orang yang berwudhu’. Jika dilakukan sesuai anjuran dalam kitab-kitab fikih, cuci tangan bukan hanya menjadi bagian dari rukun wudhu’ melainkan juga menjadi langkah penyempurna sebelum seseorang melaksanakan ritus agar suci dari hadats kecil tersebut.

Maka dari itu, lanjut Ustadz Hakim, usahakan selalu punya wudhu’. Dalam kata lain, jika wudhu’ kita batal, berwudhu’lah lagi. Dengan demikian kita akan cuci tangan lagi dan seterusnya. Kecuali itu ia juga mengurai keutamaan wudhu’ dengan merujuk pada Hadits yang mengisahkan tentang kebiasaan sahabat Nabi SAW, Bilal bin Rabah dalam berwudhu’. Terkait Covid-19 ia menyarankan agar kita tetap bersikap sewajarnya.

Berikutnya, sebagai penceramah ke-5, Ustadz Ahmad Faujih, S.Pd.I, mengupas tentag hikmah Isra’ Mi’raj dan keutamaan Baitul Maqdis.

Ust. Ahmad Faujih S.Pd.I

Kenapa Rasulullah Muhammad SAW Isra’ Mi’raj berangkat dari Masjidil Haram di Mekkah harus ke Baitul Maqdis dulu di Palestina, baru naik ke Shidratul Muntaha? Kenapa tidak langsung saja dari Mekkah ke Shidratul Muntaha? Syaikh Nawawi dalam ‘Tafsir Al Munir Marah Labid’ menjelaskan hikmah Isra’ Mi’raj yang dilakukan Rasulullah SAW ke Baitul Maqdis adalah agar Rasulullah dapat naik ke langit dengan tegak lurus tanpa berputar. Karena, menurut riwayat yang bersumber dari Ka’ab menyebutkan bahwa pintu langit yang disebut ‘Tempat naiknya para Malaikat’ berhadapan dengan Baitul Maqdis. Dia pun mengatakan bahwa Baitul Maqdis merupakan bagian bumi terdekat dengan langit,” demikian salah satu uraian Ustadz Fauzi, sapaan akrabnya, di samping bahasan lain seputar peristiwa menakjubkan sepanjang sejarah itu.

Sesi parade penceramah lalu dilanjutkan dengan ulasan yang disampaikan oleh Ustadz H Rifqi Maula, Lc, MA. Sarjana S-2 lulusan Perguruan Tinggi di Maroko ini setelah mengupas kandungan makna kata “Bi’abdihi” dalam surat Al-Isra, kemudian memberikan rangkuman dari beberapa bahasan penceramah sebelumnya. Ia juga sedikit menyitir persoalan Covid-19 yang digambarkan sebagai tahun kesedihan (‘amul hazn) di masa sekarang. Yang menurutnya, bulan-bulan mendekati hari peringatan Isra’ Mi’raj, ummat Islam di dunia dilanda kesedihan akibat berbagai persoalan termasuk wabah covid-19 yang memghenohkan. Hal ini, lanjutnya seakan-akan Allah SWT mengingatkan ummat Islam akan tahun kesedian yang menimpa Nabi SAW hingga kemudian diganjar dengan satu keindahan luar biasa, yaitu Isra’ Mi’raj –yang dengan ini Nabi lalu diangkat ke Shidratul Muntaha dan “bertemu” dengan Allah SWT.

Ustadz H Rifqi Maula, Lc, MA

Oleh sebab itu, Ustadz Rifqi menandaskan, “Saya yakin, ini merupakan ‘amul huzni kita yang nanti akan Allah ganjar dengan Isra’ Mi’raj. Loh, kita bisa Isra’ Mi’raj? Bisa! Karena dari Isra’ Mi’raj itu Nabi menerima perintah shalat. Itulah Isra’ Mi’raj kita. Itulah Mi’raj kita kepada Allah. Maka, tujuan kumpul kita di sini tidak lain adalah sebagai ikhtiar…. Ikhtiar dengan Munajat. Bermunajat kepada Allah untuk kesembuhan kita, keluarga, sekitar kita, dan juga bangsa Indonesia.

Dari uraian di atas, jika tahun ini digambarkan sebagai tahun kesedihan, yang seakan-akan menjadi masa berbalik pada ‘amul huzni Nabi SAW, 15 abad silam, agaknya memang demikian adanya. Dalam artian, kesedihan bukan karena persoalan virusnya semata, melainkan karena dampak yang ditimbulkannya, yang antara lain telah menyebabkan peribadatan ummat Islam dibatasi. Bahkan, sebagiannya ditiadakan.

Merujuk pada simpulan Ustadz Rifqi, semoga peringatan Isra’ Mi’raj ini dapat meraih rahmat Allah SWT. Sehingga, apa yang menjadi tujuan utama dari acara ini dikabulkan oleh-Nya; Tuhan “Alladzii Asraa Bi’abdihi Laylan…” (AF)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top