Kabar

Inilah Inti Pesan dari Perintah Khusus dalam Isra’ Mi’raj

Padasuka.id – Tangerang Selatan. Seperti telah umum diketahui, ketika Nabi Muhammad SAW melakukan Isra’ dan Mi’raj turun perintah Allah SWT secara langsung terhadap hamba dan Rasul-Nya itu, yakni shalat lima waktu. Dari semua ritual ibadah, hanya perintah shalat yang disampaikan secara khusus, hingga Allah SWT mendatangkan langsung Nabi Muhammad SAW. Atas dasar ini menunjukkan betapa shalat memiliki makna khusus dan teramat penting dalam peribadatan serta kehidupan ummat Islam.

Berkenaan dengan perintah mendirikan shalat, Ketua Umum Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA, memberikan ulasan mendasar dari berbagai sisi, termasuk dari sisi pilihan kata yang digunakan dalam Al-Qur’an maupun Hadits. Ulasan tersebut disampaikan dalam acara Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Ummul Qura, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Minggu, 22 Maret 2020.

Yang saya bahas di sini, ‘As-Shalaah,’ pasangannya adalah ‘Al-Iqaamah.’ ‘Iqaamatus shalaah; Aqiimus shalaah.’ Artinya apa? Mendirikan. ‘Qaama’ : Berdiri. ‘Aqaama’ : Mendirikan. ‘Iqaamah’ : Pendirian. Jadi, bukan ‘Yushalluun,’ tapi ‘Yuqiimuunas shalaah…’ Nanti, kalau kita berbicara shalat biasanya menemukan Hadits: ‘As-Shalaatu ‘Imaaduddiin.’ Shalat itu tiang agama,” ulas Kiai Syarif lalu memberikan analogi sebagai gambaran.

Dianalogikan, sebatang kayu akan disebut sebagai tiang ketika ia sudah berdiri, bertumpu di atas pondasi, dan menyangga bagian atas rumah atau bangunan. Kemudian, Kiai Syarif mengutip Hadits tentang rukun Islam yang menggunakan struktur kalimat “Buniyal Islaam” (Islam dibangun). Dari sisi ini, ulasnya, rukun Islam itu diumpamakan sebagai bangunan, dan shalat menjadi tiangnya. Maka, dari sisi ini pula, shalat menjadi sangat penting. Sebab tidak akan bisa berdiri satu bangunan jika tanpa adanya tiang. Walaupun juga, tiang tidak akan bisa berdiri jika tidak ada pijkan pondasinya. Bahkan dapat pula diperkirakan, seberapa kuat tiang itu bisa berdiri tergantung seberapa kuat pula pondasinya.

Dari uraian analogis di atas, masih seputar pentingnya shalat; bagi orang yang mengerjakan shalat pun ternyata masih mendapat ancaman, “Fawaylul lil mushalliin : Celakah bagi orang-orang yang mengerjakan shalat.” Kenapa celaka? Dijelaskan pada ayat berikutnya: “Alladziinahum ‘an shalaatihim Saahuun.” Nah, dalam memaknai ayat ini, Kiai Syarif menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah: mereka mengerjakan shalat, namun tidak seperti orang shalat. Dalam kata lain, walaupun orang itu shalat namun perbuatannya tidak mencerminkan sebagai orang yang shalat. Maka dari sini lalu diibaratkan, bahwa shalat itu seumpama kampus; satu sarana untuk memperbaiki diri.

Pada bagian berikutnya dijelaskan tentang berbagai hal terkait gerakan dan bacaan dalam shalat sebagai sarana pendidikan untuk memperbaiki diri. Satu misal, kalimat ‘Allahu Akbar.’ Ketika kalimat ini dibaca, semestinya ada pengakuan bahwa diri kita ini kecil tidak berarti, sebab kebesaran hanya milik Allah SWT semata. Selanjutnya rasa atau pengakuan diri itu terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita akan menjadi orang yang selalu rendah hati.

Dari uraian kalimat Allahu Akbar dilanjutkan pada bagian lainnya dalam shalat yang semestinya pula diterapkan dalam kehidupan diri sebagai individu ataupun sebagai bagian dari satu kelompok dan lain sebagainya.

Sederhananya, di antara uraian Kiai Syarif dalam acara ini, menuju pada satu titik poin penting dalam peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, yaitu perintah mendirikan shalat. Yang mana, dari perintah shalat ini dapat menentukan ‘bangunan’ agama bisa kokoh atau tidak. Begitu pun atas banguan diri pada masing-masing individu pendiri shalat. Apakah tergolong sebagai ‘saahuun’ atau menjadikan shalat sebagai kampus perbaikan diri. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top