Anekdot

Cerita Mattasim Pulkam Karena PSBB di Jakarta

Akibat adanya wabah penyakit yang menurut orang-orang pintar disebabkan oleh virus, banyak pedagang kaki lima di Jakarta yang mengeluh jualannya sepi. Katanya juga, mereka pun tidak boleh berdagang terlalu malam seperti biasanya. Terlebih lagi setelah Pemda DKI Jakarta melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar alias PSBB semakin ruwetlah mereka. Namun apa daya, demi kebaikan bersama, sebagai rakyat kecil, mereka harus taat pada peraturan.

Susahnya mengais rejeki di ibu kota juga dialami oleh Mattasim, seorang perantau asal Pulau Madura. Lelaki polos yang terkadang rajin ibadah ini akhirnya memutuskan untuk pulang kampung seiring diberlakukannya PSBB di Jakarta.

“Mau mudik, Cak? Tanya Amir, tetangga Mattasim.

“Ndak lah. Saya ini kan orang taat aturan. Kata sampean dan kata orang-orang di tivi, aturannya ndak boleh mudik tahun ini. Ya ndak mudiklah saya,” jawab Mattasim sambil mengikatkan tali rafia pada kardus berisi oleh-oleh.

“Lah, itu bungkus-bungkus barang buat apa, mau dibawa ke mana, Cak?” Tanya Amir lagi.

“Ya, mau saya bawa pulkam,” jawab Mattasim santai.

“Pulkam, maksudnya pulang kampung?” Selidik Amir.

“Iya. Pulang kampung,” jawab Mattasim.

“Apa bedanya mudik dengan pulkam?” Tanya Amir penasaran.

“Ya bedalah. Kata sampean, yang ndak boleh, itu mudik. Jadi bedanya, kalau mudik itu ndak boleh. Tapi kalau pulkam, boleh. Masak mudik ndak boleh, pulkam juga ndak boleh,” jawab Mattasim rada ngedumel.

Mendengar jawaban Mattasim, Amir malah tambah bingung. Sebab setahu dia, yang namanya mudik itu artinya ya pulang kampung. Tapi Mattasim malah memilah dua istilah itu. Karena masih penasaran, Amir bertanya lagi.

“Coba Cak jelaskan lagi, apa bedanya mudik dengan pulang kampung?”

“Sampean ini ngakunya anak kuliahan, masak bedanya mudik sama pulang kampung saja ndak tahu. Dengerin ya Mas. Kalau mudik itu waktunya jelang lebaran. Kan begitu bunyinya dalam berita di tivi-tivi. Makanya ndak boleh tahun ini. Tapi kalau pulang kampung, ya kapan saja. Ndak harus nunggu lebaran. Ndak ada kan beritanya di tivi orang pulang kampung lebaran. Yang ada, mudik lebaran,” Mattasim menjelaskan.

Setelah semua barang-barang bawaannya rapi dikemas dalam kardus, Mattasim lalu siap-siap mudik, eh pulang kampung. Tidak lama berselang, tahu-tahu Pak RT datang lalu menanyakan.

“Loh, Cak Mat mau mudik nih, kok rapi banget lengkap dengan kardus-kardus segala. Sebaiknya jangan mudik dulu Cak. Saya lihat di berita, Pemda Jawa Timur menghimbau agar para perantau tidak mudik dulu tahun ini sampai nanti musim wabah selesai. Semua itu dianjurkan demi keselamatan kita agar tidak terjangkit pirus penyakit, Cak.

Belum sempat Mattasim menjawab, Pak RT menyambung perkataannya.

“Begini Cak Mat, menurut berita yang saya baca, bagi perantau asal Jawa Timur yang berani mudik, mereka bakal diisolasi…”

Mendengar keterangan Pak RT yang panjang lebar, sambil tersenyum Mattasim menjawab.

“Walah Pak RT ini pinter banget ya. Ndak rugi saya punya Ketua RT kayak sampean ini. Nanti kalau ada pilihan RT lagi, saya tetep pilih sampean Pak…”

Sadar Mattasim mengalihkan pembicaraan, Pak RT segera memotongnya.

“Ini masalahnya bukan pilihan Ketua RT Cak. Tapi ini adalah himbauan pemetintah agar warga jangan mudik dulu tahun ini demi keselamatan bersama, sebab…”

Kini giliran Mattasim yang memotong pembicaraan.

“Begini Pak RT. Saya ini kan orang yang taat aturan. Kalau memang ndak boleh mudik, ya ndak akan mudik saya.”

“Nah, itu Cak Mat bawa barang-barang dikardusin bukannya mau mudik?” Tanya Pak RT lalu dijawab oleh Mattasim.

“Oh… Kalau soal barang-barang ini, bukan untuk mudik Pak RT. Ini barang-barang pesanan ibu, kakak, adik, ponakan, tetangga, dan mertua saya. Jadi, saya ndak mudik tahun ini, cuma mau nganterin barang-barang ini ke mereka di Madura. Insya Allah nanti setelah lebaran ketupat, saya balik lagi ke Jakarta. Saya ulangi, saya ndak mudik tahun ini sesuai anjuran pemerintah, tapi cuma mau nganterin barang-barang ini ke mereka. Mohon doanya ya Pak RT…”

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top