Kolom

Tasawuf Di Masa Rasulullah

Oleh: Muh. Saharuddin Mangngasa

Di antara ungkapan yang selalu dilontarkan oleh para pengkritik tasawuf adalah ucapan yang mengatakan bahwa ajaran tasawuf tidak ada pada masa Rasulullah saw., dengan kata lain Rasulullah saw. tidak pernah mengajarkan tasawuf kepada para sahabatnya, alias bid’ah. Anggapan seperti ini memang sangat sering kita dengar dari mereka yang anti terhadap tasawuf. Mereka tidak saja membid’ahkan, tetapi bahkan menyesatkan ajaran tasawuf, sehingga mereka melarang membaca buku-buku atau kitab-kitab yang berbau tasawuf.

Jika melarang orang membaca atau mempelajari kitab-kitab tasawuf karena dianggap belum waktunya, maka ini tidak ada persoalan, karena memang ajaran tasawuf adalah ajaran yang mengandung pembahasan yang membutuhkan kesiapan akal dan batin dalam memahaminya karena pembahasannya yang cukup mendalam. Tetapi ini bukan berarti ajaran tasawuf salah atau sesat. Betapa banyak ajaran atau pembelajaran di dalam Islam yang tidak baik dipelajari oleh anak-anak atau remaja yang belum memiliki ilmu dasar yang kuat. Misalnya untuk membaca kitab-kitab tafsir, dibutuhkan ilmu-ilmu dasar seperti bahasa Arab, nahwu, sharaf, ulumul quran, kaidah tafsir dan seterusnya. Setelah ilmu-ilmu dasar itu dikuasai, barulah ia bisa membaca kita-kitab tafsir atau langsung membaca Alquran dan hadis agar mudah memahaminya dan terhindar dari kesalahan dalam memahami.

Bukan hanya dalam ilmu keislaman, dalam ilmu umum (keduniaan) pun terdapat klasifikasi atau tingkatan-tingkatan ilmu. Misalnya pelajaran matematika untuk Sekolah Dasar sangat jauh berbeda dengan pelajaran matematika di Perguruan Tinggi. Tentu saja, anak SD sebaiknya jangan dulu membaca buku pelajaran matematika yang dipelajari di Perguruan Tinggi, karena belum waktunya. Tapi bukan berarti pelajaran Perguruan Tinggi itu salah, sesat dan menyesatkan. Hanya saja, ada waktunya. Demikian pula dalam ilmu keislaman, ada tahapan-tahapannya. Ini hal yang pertama.

Hal kedua, benarkah ajaran tasawuf tidak ada pada masa Rasulullah saw.? Pertanyaan seperti ini pastilah datang dari orang-orang yang tidak memahami apa itu tasawuf. Kalaupun ia paham, pasti salah paham. Mengapa? Karena pertanyaan itu seakan mengatakan “Apakah ajaran Islam pada masa Rasulullah saw adalah ajaran Islam yang tidak bersubstansi alias lahiriah belaka?” Pertanyaan ini tentu saja sangat berlebihan dan menunjukkan sang penanya tidak mengerti substansi ajaran Islam dan tidak paham kandungan dari ajaran tasawuf.

Jawaban yang lebih tepat untuk pertanyaan tersebut ialah “Justru ajaran Islam yang dipahami dan diamalkan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya “lebih tasawuf” daripada Islam yang kita pahami dan amalkan saat ini.” Mengapa? Karena ajaran Islam yang diamalkan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat ra. adalah ajaran yang sangat identik dengan sisi kebatinan yang dihiasi dengan sifat-sifat kesucian hati seperti jujur, zuhud, qanaah, khauf, raja’, tawakkal, khusyu’, sabar, ridha, syukur dan seterusnya. Sifat-sifat tersebut benar-benar diamalkan oleh Nabi saw. dan para sahabatnya hingga bekas-bekasnya terpancar di wajah mereka. Tidakkah kita membaca sîrah bahwa Rasulullah saw. pernah ditawari gunung Uhud dijadikan emas untuknya lalu beliau menolak? Atau riwayat bahwa beliau terkadang berhari-hari menjanggal perutnya dengan batu karena menahan lapar? Atau riwayat bahwa setiap kali beliau bangun tidur tampak bekas pelapah kurma di pipinya karena tidak tertarik dengan tempat tidur yang empuk? Bukankah kalau beliau mau dunia bisa saja berada di genggamannya? Tetapi mengapa beliau sengaja menolaknya? Mungkin ada yang nyeletuk “Itu kan Nabi.”

Baiklah kita lirik sebagian jejak hidup para sahabat yang menunjukkan kebersihan hati dan tidak silaunya mereka dengan dunia. Bukankah kita telah membaca sejarah dan riwayat dimana ketika para sahabat diminta mengeluarkan sebagian hartanya untuk keperluan jihad, lalu Abu Bakar tanpa basa-basi langsung menyerahkan semua hartanya tanpa tersisa sedikitpun? Ketika ditanya oleh Rasulullah, “Apa yang kau sisakan untuk keluargamu wahai Abu Bakar?”
Beliau menjawab: “Aku sisakan Allah dan Rasul-Nya.”
Atau tidakkah kita membaca sejarah ketika Abu Dzar al-Ghifari diminta untuk tinggal di Madinah dengan berbagai fasilitas pada masa khalifah Utsman, lalu Abu Dzar menjawab: “Aku tidak membutuhkan dunia kalian.”? Tidakkah kita membaca sejarah bahwa ketika kaum muslimin telah meraih berbagai kemenangan dan menguasai banyak wilayah, Abu Darda ra justru menangisi kemenangan dan kejayaan itu? Dan ketika beliau sedang sakit dan hanya berbaring di atas tikar dari kulit, para sahabat menawarkan kepadanya kasur yang lebih baik dan empuk, beliau hanya menjawab:
“Negeri kita jauh di sana, kita hanya mengumpulkan bekal untuk negeri itu dan ke sanalah kita semua akan kembali.”

Sifat-sifat terpuji itulah yang dikaji, didalami, diresapi dan diperjuangkan dalam tasawuf untuk bisa diamalkan. Demikian pula sifat-sifat batin yang tercela seperti rakus, serakah, cinta dunia, riya’, sum’ah, pamer, ujub, merasa lebih baik dari orang lain dan seterusnya, yang semua itu benar-benar dijauhi oleh Nabi saw. dan para sahabatnya ra., sifat-sifat tercela itu jualah yang diperjuangkan dalam tasawuf agar bisa dihilangkan di dalam hati.

Sekarang coba kita bandingkan sifat-sifat dan keadaan kehidupan Rasulullah saw. dan para sahabatnya dengan umat Islam saat ini, termasuk diri kita sendiri. Bukankah sifat-sifat tercela tersebut masih melekat dan bergelantungan di dalam hati kita? Dan bukankah untuk menghilangkannya betapa berat dan susahnya? Karena beratnya menghilangkan sifat-sifat tercela yang seakan mendarah daging di dalam kalbu itulah maka diperlukan ilmu tersendiri yang secara khusus untuk membahas kiat-kiat bagaimana cara melawan dan menghilangkan sifat-sifat tersebut, dan ilmu itu diistilahkan dengan tasawuf. Jadi, justru tasawuf itu adalah ilmu yang bertujuan memperjuangkan agar umat Islam mengamalkan ajaran Islam sebagaimana yang diamalkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Kisah-kisah tersebut hanyalah secuplik dari segudang sejarah indah para sahabat yang menunjukkan akan kezuhudan dan kebersihan hatinya dari pengaruh dunia. Tidak cukup lembaran-lembaran ini untuk menuangkan kisah-kisah mereka yang laksana mutiara yang berkilau yang sedikitpun tidak tersentuh oleh debu duniawi. Sifat mereka yang begitu mulia serta protektif yang sangat tinggi terhadap godaan dunia memang terkesan ektrim dan tidak lazim. Itu mampu mereka lakukan karena batinnya yang benar-benar bersih. Sedangkan kita merasa itu sangat berat, bahkan kita merasa mustahil untuk sampai di maqam (derajat) itu, karena memang kita masih jauh tenggelam dalam kegerlapan dunia. Penilaian, pujian dan penghormatan dari makhluk, serta keinginan menikmati fasilitas duniawi masih menghiasi dan menyelimuti kalbu kita. Maka bagaimana mungkin bisa melakukan apa yang dilakukan oleh para sahabat? Bagaimana kita bisa menjangkau langit, jika kaki masih berpijak bahkan terikat di bumi?

Mungkin ada yang berkata: Tetapi mengapa tidak ada riwayat yang mengabarkan bahwa Nabi saw. mengajar tasawuf? Atau mengapa tidak ada kata “tasawuf” dalam banyak hadis Nabi saw.? Ini akan dibahas pada tulisan berikutnya. Sampai jumpa.

Hasbunallah

———
Penulis: Ust. Muhammad Saharuddin Mangngasa, SQ, M.Ag, adalah Imam dan Khatib Masjid Besar Kota Ruwais, Abu Dhabi, UEA

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top