Kolom

Tasawuf di Masa Rasulullah (2)

Oleh: Muh. Saharuddin Mangngasa

Jika ada yang berkata: “Mengapa tidak ada riwayat yang mengabarkan bahwa Nabi saw. mengajar tasawuf? Atau mengapa tidak ada kata “tasawuf” dalam banyak hadis Nabi saw.?” Izinkan saya (penulis) bertanya balik kepadanya: “Mengapa tidak ada riwayat yang mengabarkan bahwa Nabi saw. mengajar ilmu tajwid, ilmu hadis, ilmu qiraat, ulumul quran, nahwu, sharaf, balaghah dan ilmu-ilmu lainnya kepada para sahabat ra.?” Kira-kira apa jawabannya? Bukankah ilmu-ilmu tersebut sangat penting dipelajari bagi umat muslim untuk memahami agamanya? Tetapi mengapa Nabi saw. tidak mengajarkan itu?

Ilmu-ilmu tersebut hanyalah merupakan jalan (tharîq) atau sebab yang bisa mengantarkan seorang muslim kepada tujuan (ghâyah) berupa agama itu sendiri atau tujuan akhir yaitu Allah swt. Dengan kata lain, ilmu-ilmu tersebut hanyalah perantara yang bisa mengantar manusia untuk bisa memahami ajaran Islam yang terkandung di dalam Alquran dan Sunnah secara benar. Nabi saw. memang tidak mengajarkan ilmu-ilmu itu karena memang pada saat itu ilmu-ilmu tersebut tidak atau belum dibutuhkan. Para sahabat ra. mampu memahami ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasulullah saw. tanpa melalui ilmu-ilmu tersebut. Mereka mampu membaca Alquran dengan benar tanpa belajar kaidah tajwid, mampu memahami Alquran tanpa melalui ulumul quran dan kaidah tafsir, mampu memahami keindahan bahasa Alquran meski tanpa belajar nahwu, sharaf dan balaghah, dan begitu seterusnya.

Mengapa mereka mampu demikian? Selain karena jumlah mereka yang belum begitu banyak, juga karena kebersihan hati dan kedalaman iman mereka yang tidak diragukan, dan masih kurangnya halangan dan rintangan bagi mereka dalam belajar dan memahami, tidak seperti zaman kita sekarang ini. Selain itu, tentu juga karena keberkahan, kemampuan dan kehebatan Rasulullah saw. sebagai guru dalam menyampaikan ilmu agama kepada para sahabatnya yang membuat ilmu itu begitu jelas dan terang di dalam hati dan pikiran mereka.

Dengan kata lain, meski tanpa belajar ilmu tajwid, mereka mampu membaca Alquran dengan benar seperti yang diturunkan. Meski tanpa belajar ulumul quran dan kaidah tafsir, mereka mampu memahami Alquran sebagaimana yang diajarkan. Apalagi ilmu bahasa Arab, tentu lebih-lebih mereka tidak butuh, wong mereka orang Arab yang ahli bahasa bahkan ahli syair dan sastra. Termasuk mereka tidak butuh terhadap ilmu hadis dan ilmu rijâl al-hadîts, wong mereka masih bersama Rasulullah saw. sehingga bisa bertanya langsung kepada beliau. Nah, demikian pula ilmu tazkiyah atau ilmu tasawuf, mereka tidak membutuhkan karena hati mereka yang masih bersih dan jauh dari kotoran dan pengaruh dunia.

Pertanyaannya kini, apakah ilmu-ilmu tersebut masuk dalam kategori bid’ah karena tidak diajarkan oleh Rasulullah saw.? Apakah belajar ilmu tajwid bid’ah? Belajar ulumul quran bid’ah? Belajar ilmu hadis dan ilmu rijâl bid’ah? Belajar bahasa Arab, nahwu, sharaf, balaghah, mantiq dan seterusnya bid’ah dan sesat yang pelakunya masuk neraka karena tidak pernah diajarkan Rasulullah saw.?

Atau, apakah kita sekarang mampu membaca Alquran tanpa belajar ilmu tajwid? Apakah kita mampu memahami kandungan Alquran tanpa belajar bahasa Arab, nahwu, sharaf, ulumul quran, kaidah tafsir dan ilmu-ilmu dasar lainnya? Apakah kita mampu memahami dan menyeleksi dan mengklasifikasi hadis-hadis Nabi saw. tanpa belajar ilmu hadis? Demikian pula apakah kita mampu mencapai maqam-maqam seperti jujur, ikhlas, khauf, raja’, sabar, ridha, syukur dan sebagainya, serta menjauhi sifat-sifat tercela seperti dusta, riya, sum’ah, ujub, cinta dunia, berharap pujian makhluk dan sebagainya sebagaimana para sahabat tanpa belajar dan mengkaji tasawuf?

Kalaulah ilmu-ilmu tersebut dibutuhkan dan boleh bahkan harus dipelajari meskipun tidak diajarkan oleh Rasulullah saw. karena ilmu-ilmu tersebut penting untuk memahami ajaran agama, maka demikian pula halnya ilmu tazkiyah atau tasawuf.

Sebagaimana ilmu-ilmu lainnya, ilmu tasawuf penting agar seorang muslim mampu memahami akan hakikat dirinya sendiri, lapisan-lapisan kalbunya, gerak-gerik hawa nafsunya dan segala yang berhubungan dengan kebersihan kalbu, jiwa, akal dan ruh, serta bagaimana membentengi diri dari serangan musuh, baik musuh dari luar berupa setan, maupun musuh dari dalam berupa hawa nafsu. Dan kita semua tahu bahwa satu-satunya tujuan musuh menyerang kita ialah agar kita jauh dari Allah swt., sehingga kita terjatuh dalam jurang Jahannam. Na’ûdzu billâh.

————-
Penulis: Ust. Muhammad Saharuddin Mangngasa, SQ, M.Ag, adalah Imam dan Khatib Masjid Besar Kota Ruwais, Abu Dhabi, UEA

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top