Kolom

Mengintip Sisi Dalam Manusia

Ilustrasi/Ist.

Oleh: Muh. Saharuddin Mangngasa

Sudah sering mendengar bahwa diri manusia terdiri dari dua dimensi, yakni dimensi lahiriah dan dimensi batiniah. Sayangnya, kebanyakan orang hanya berhenti di situ, ia tidak menelusuri lebih jauh dimensi batin itu seperti apa, jenis dan lapisannya terdiri dari apa saja.

Sebagaimana dimensi lahiriah yang terbagi-bagi atau terdiri dari banyak bagian seperti kepala, leher, dada, perut, tangan, kaki, mulut, pendengaran, penglihatan dan seterusnya, maka dimensi batin pun terdiri dari banyak jenis, bermacam-macam dan berlapis-lapis.

Bahkan, pembagian organ manusia dalam dimensi batin jauh lebih banyak dan lebih luas daripada organ lahiriah, bahkan tidak terhitung jumlahnya. Sampai saat ini, belum ada ilmuan yang mampu mengungkap dan menguraikan secara utuh dan menentukan berapa jumlah organ batin yang ada di dalam diri manusia. Mengapa? Karena sisi batin manusia mengandung sisi ketuhanan atau terhubung dengan khazanah keilahian yang sungguh tidak terbatas dan tidak terjangkau ujungnya, sementara akal dan kemampuan manusia sangat terbatas. Lagi-lagi penulis mengutip ungkapan Jalaluddin Rumi yang mengatakan “Apalah arti sebuah cangkir jika harus menampung samudera?”

Adapun sisi atau bagian-bagian dari dimensi batin manusia yang akan dibahas di sini hanya bagian-bagian yang telah dikenal dan dibahas oleh para ulama dan ârifîn. Dalam membahas hal ini penulis akan menjadikan kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn karya Imam al-Ghazali sebagai rujukan utama. Al-Ghazali menyebut bahwa sisi batin manusia secara garis besar terdiri dari empat organ utama. Disebut organ utama karena organ-organ tersebut terbagi-bagi atau berlapis-lapis lagi. Keempat organ utama itu ialah akal, kalbu, nafsu dan ruh.

Keempat organ tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Kalbu berperan sebagai pimpinan atau pemegang kendali dan penentu kebijakan. Keempatnya selalu saling berkomunikasi, saling mempengaruhi, saling memberi saran dan nasihat, hingga menghasilkan satu keputusan yang diputuskan oleh kalbu.

Akal sebagai sang bijak selalu memberi nasihat yang logis dan mengandung maslahat bagi diri manusia meski terasa pahit dan berat dalam pelaksanaanya.
Sedangkan nafsu selalu membisikkan dan mengajukan saran yang asyik dan menyenangkan untuk dilakukan namun mengandung mudharat yang membahayakan dan mencelakakan bagi diri manusia. Adapun ruh tiada yang dibisikkan kecuali ajaran dan pesan-pesan kebenaran yang bersumber dari pesan Alquran dan hadis atau langsung dari Allah swt. Tinggal kalbu yang menentukan, apakah ia akan memilih saran akal, nafsu atau saran ruh.

Yang pasti, saran yang diajukan oleh akal kebanyakan senada dengan saran ruh karena keduanya berada di pihak kebenaran, hanya bedanya bisikan ruh murni bersumber dari Allah swt., sedangkan akal hanya berdasarkan akal sehat. Meski keduanya jarang berseberangan, namun bukan berarti akal dan ruh selamanya akan senada, terkadang juga akal dan ruh berseberangan.

Bukankah ketika seseorang akan bersedekah, terkadang akal menahan dan berbisik kepada hati bahwa dengan bersedekah harta akan berkurang? Sementara ruh menyuruh kalbu untuk bersedekah. Tapi akal yang sering berseberangan dengan ruh adalah akal yang sudah terpengaruh atau “terhipnotis” oleh nafsu. Ini karena nafsu sebagai pihak yang selalu agresi dalam menikmati sesuatu meski berbahaya, selalu berusaha mempengaruhi kalbu dan akal agar menerima nasihat dan sarannya demi menggapai keinginannya. Kekuatan nafsu menggoda dan mempengaruhi kalbu dan akal akan semakin kuat apabila ia sudah “berkoalisi” dengan setan.

Karena itu, sangat penting bagi seorang hamba untuk selalu membentengi kalbu dan akalnya dari pengaruh nafsu dan setan. Caranya ialah menguatkan hubungan ruh dengan Allah swt, atau dengan kata lain perbanyak ibadah yang mendekatkan diri dengan Allah swt. Ruh yang memiliki hubungan dekat dengan Allah swt, akan memiliki kekuatan untuk membentengi kalbu dari pengaruh nafsu dan setan. Jika kalbu sudah mampu mengendalikan atau menundukkan nafsu, maka kekuatan nafsu akan tidak berdaya, lalu kalbu berkoalisi dengan ruh, maka kalbu akan diliputi oleh keinginan dan kekuatan untuk mendekat atau terhubung dengan Allah swt.

Jika kalbu sudah merasakan kedekatan dengan Allah, maka ia merasakan kenikmatan berzikir dan ibadah lainnya. Jika kalbu sudah mampu melanggengkan zikir dan ibadah-ibadah yang menghubungkan ia dengan Allah swt., maka setan akan mundur (khanas) atau bahkan lari bersembunyi. Namun, setan tidak akan pergi, ia akan tetap bersembunyi sambil mengintip dan berjaga-jaga kapan kalbu lalai dari zikirnya. Ketika kalbu mulai lalai dari zikirnya kepada Allah, setan kembali datang menyerang. Demikian seterusnya.

Karena itu, pertempuran antara kubu nafsu dan setan melawan kubu akal dan ruh akan terus berlangsung di dalam diri manusia, siapa yang menang dalam pertempuran itu, maka dialah yang akan menguasai dan mempengaruhi kalbu. Jika ia sudah menguasai kalbu, maka ia akan bebas “menyetir” kalbu dan memerintahkan sesuai keinginanannya.

Penjelasan detail tentang pertempuran ini akan dibahas lebih panjang dan rinci pada artikel-artikel berikutnya. Ini hanya gambaran umum saja. Mohon doanya dari para pembaca semoga kajian kita akan terus istiqamah dan bisa semakin mendalam.

———
Penulis: Ust. Muhammad Saharuddin Mangngasa, SQ, M.Ag, adalah Imam dan Khatib Masjid Besar Kota Ruwais, Abu Dhabi, UEA

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top