Kabar

Mengenali Kalbu Lebih Dekat

Oleh: Muh. Saharuddin Mangngasa

Bertebaran ayat-ayat di dalam Alquran yang menunjukkan secara langsung keistimewaan manusia dibanding makhluk-makhluk Allah yang lain, misalnya: “Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Qs. at-Tîn: 4), atau “Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (Qs. al-Isrâ:70). Bahkan terdapat ayat yang mengisyaratkan keistimewaan yang sangat tinggi akan kedudukan manusia disebabkan ruh yang ditiupkan ke dalam dirinya adalah ruh yang dinisbatkan langsung kepada Allah swt., sebagaimana firman-Nya: “Dan setelah Aku sempurnakan kejadiannya dan telah Ku-tiupkan dari ruh-Ku ke dalamnya, maka berikanlah penghormatan dengan bersujud kepadanya.” (Qs. al-Hijr: 29). Ayat-ayat ini memberikan isyarat yang jelas dan langsung akan kemuliaan dan ketinggian derajat manusia dibanding makhluk Allah lainnya.

Selain ayat yang berisi isyarat langsung, juga terdapat sejumlah ayat yang mengandung isyarat tidak langsung namun juga menunjukkan kemuliaan manusia, misalnya ayat-ayat yang menjelaskan bahwa seluruh makhluk Allah yang terhampar di alam raya, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi semuanya ditundukkan untuk melayani manusia. Dr. Said Ramadhan al-Buthi dalam kitabnya “Al-Hubb fî al-Quran”, mengatakan bahwa ayat-ayat yang menjelaskan tentang penundukan alam raya untuk melayani manusia menunjukkan bahwa Allah swt mencintai manusia atau mahabbah Allah kepada hamba-Nya, dan ini tentu kemuliaan yang istimewa sekali. Dan keistimewaan lain yang tak kalah “keren”-nya yang diberikan Allah kepada manusia ialah hati atau kalbu.

Karena itu, Imam al-Ghazali membuka pembahasan mengenai keajaiban kalbu (‘Ajâ’ib al-Qalb) di dalam kitab Ihyâ’-nya dengan mengatakan: “Kemuliaan manusia yang menjadikannya lebih mulia dari seluruh makhluk Tuhan yang lainnya ialah kemampuan dan kesiapannya (isti’dâd) untuk mengenal (ber-makrifat) kepada Allah swt. Kemampuan (isti’dâd) untuk mengenal Allah itu merupakan keindahan, kesempurnaan dan kebanggaannya manusia di dunia, serta bekal dan simpanan mereka di akhirat kelak.”

Lalu, bagaimana cara dan organ apa yang digunakan manusia untuk mengenal (ber-makrifat) kepada Allah swt? Imam al-Ghazali melanjutkan: “Adapun alat atau organ yang dipakai manusia untuk ber-makrifat (mengenal) Allah swt adalah kalbu (hati). Bukan organ yang lainnya. Hati-lah yang bisa mengetahui Allah swt, mendekat kepada-Nya, beramal karena-Nya, berjalan menuju-Nya, bahkan mampu meraih mukâsyafah (penyingkapan).”

Dengan kata lain, hati adalah juru bicaranya manusia yang akan dan selalu berhubungan langsung dengan Allah swt. Hati adalah obyek taklif (yang dituntut syariat), sekaligus dialah yang akan merasakan balasan berupa nikmat surga atau siksa neraka. Artinya jika Allah swt berbicara kepada manusia maka yang Allah tuju dari pembicaraan-Nya ialah kalbu, sehingga jika ada wahyu yang mengandung perintah melakukan atau larangan untuk melakukan sesuatu, maka yang dituju dari perintah dan larangan itu ialah kalbu, bukan yang lain.

Kalbu benar-benar menjadi inti dan penentu. Baik dan buruknya, dekat dengan Allah atau jauhnya, selamat atau celaka, mulia atau hina, semua tergantung pada kalbu. Mengapa? Karena sebagaimana telah disinggung pada tulisan sebelumnya bahwa kalbu adalah raja alias penentu kebijakan. Kalbulah yang menentukan mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak. Dan jika kalbu sudah menentukan, maka seluruh anggota badan lainnya akan tunduk dan patuh kepadanya termasuk kaki, tangan, panca indera mata yang terdiri dari telinga, hidung, lidah, kulit dan yang lainnya. Dengan demikian, semua perbuatan yang telah dilakukan oleh manusia bersumber dari keinginan dan perintah kalbu. Maka wajar jika yang harus bertanggung jawab dari akibat semua perbuatan adalah kalbu.

Karena itu, membersihkan dan menjaga kalbu dari pengaruh nafsu dan setan sangatlah penting. Jika kalbu bersih dan selamat dari dua pengaruh itu, maka ia akan bebas bergerak dan melangkah, ruh akan mudah berhubungan dengannya, dan jika sudah terhubung dengan ruh -dimana ruh selalu terhubung dengan Allah swt, maka cahaya dari Allah akan tembus ke dalam kalbu hingga membuat kalbu bercahaya. Dan jika kalbu sudah tersinari oleh cahaya Ilahi, maka ia akan menetapkan segala sesuatu sesuai dengan keinginan dan syariat Allah swt., hingga sang hamba berjalan di atas jalan Allah yang lurus. Ia tidak akan terlena dengan apapun selain Allah. Jika sudah demikian, maka kalbu akan terus merasakan kehadiran Allah swt. dalam setiap langkahnya seraya merasakan kebahagiaan yang hakiki yang tidak akan pernah berakhir. Inilah kondisi kalbu yang bersih yang akan selalu merasakan ketenangan dan akan meraih kemenangan.

Imam al-Ghazali melanjutkan: “Hati-lah yang akan diterima oleh Allah swt apabila bersih dari segala sesuatu selain-Nya, tetapi ia juga yang akan terhijab (terhalang) dari-Nya ketika ia tenggelam dan terlena dengan makhluk-makhluk selain Allah swt. Hati-lah yang menerima tuntutan dari Allah, menjadi lawan bicara (dialog) dengan-Nya, serta menjadi sasaran teguran dan kritik. Hati akan merasakan kebahagiaan ketika dekat dengan Allah swt. Ia akan meraih kemenangan jika ia dibersihkan, dan mengalami kerugian dan merasakan siksaan jika dikotori.”

Hasbunallâh

___
Penulis: Ust. Muhuhammad Saharuddin Mangngasa, SQ, M.Ag. adalah Imam dan Khatib di Masjid Besar Kota Ruwais, Abu Dabi, Uni Arab Emirates

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top