Anekdot

Ditanya Soal Tarawih Online; Mattasim Jawab Tidak Sah

Seusai shalat Tarawih berjamaah di langgarnya, kali ini Mattasim tidak ikut ‘darusan’ bersama saudara-saudaranya. Setelah turun dari langgar dia langsung menuju dapur. Rupanya dia tidak tahan asem; buat kopi lansung ‘ngudud’ di pojok teras. Tidak lama kemudian, HP-nya berdering. Gampang ditebak, kalau ada bunyi HP setelah Tarawih, itu pasti dari sahabat karibnya, Amir, yang kini terjebak PSBB di Jakarta, tidak bisa mudik.

Setelah sedikit basa-basi agak serius, dalam pembicaraan lewat udara itu Amir bertanya tentang suatu hukum kepada Mattasim.

“Cak Mat, bagaimana menurut sampean hukumnya shalat sunnat Tarawih berjamaah secara online?”

“Maksudnya shalat Tarawih berjamaah online itu yang bagaimana ya Mas?” Mattasim menjawab pertanyaan Amir dengan pertanyaan juga.

“Walah Cak.. Aku ini nanya, kok malah sampean balik nanya. Jawab dulu pertanyaan saya, baru sampean nanya ke saya,” jawab Amir yang spontan dijawab oleh Mattasim.

“Siap!”

“Siap, maksudnya apa Cak?” Tanya Amir.

“Ya itu jawaban saya. Sekarang giliran saya bertanya. Maksudnya Tarawih online itu yang kayak apa sih, Mas?”

“Shalat Tarawih online itu, sama kayak yang biasa, tapi cara berjamaahnya secara online; pakai aplikasi video conference. Saat ini yang lagi trendi, itu pakai aplikasi Zoom. Walaupun kata Menkominfo, Zoom itu tidak aman. Malahan kata berita, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme alias BNPT melarang pegawainya pakai Zoom, karena secara teori IT wajah penggunanya bisa dibajak sebagai password….,” urai Amir yang segera dipotong oleh Mattasim.

“Jangan panjang-panjang, Mas. Aku tambah ndak nyambung. Sampean bilang Sum… Sum, itu maksudnya Sumiatun, tukang warkop sebelah kontrakan?”

“Bukan Cak Mat. Kalau itu mah, si Sum yang suka diutangin rokok sama Mas Agung. Ini bukan Sum, nggak pakai ‘es’. Tapi pakai ‘zed’ : Zoom. Ejaannya: ‘Ze Oo Oo Em.’ Zoom itu adalah aplikasi virtual. Keren dan mudah, makanya langsung membludak pemakainya. Dengan aplikasi ini, kita kayak benar-benar berhadapan, Cak.”

“Oo, itu maksudnya? Terus apa pertanyaan sampean ke saya tentang Zoom itu?” Tanya Mattasim lagi.

“Ya itu tadi… Bagaimana menurut sampean hukumnya shalat sunnat Tarawih berjamaah secara online? Misalnya dengan menggunakan aplikasi Zoom.”

“Kalau sampean tanya hukumnya menurut saya, jawaban saya ndak sah!” Tukas Mattasim mantap.

“Loh, kok bisa?” Kejar Amir.

“Ya, karena saya ndak bisa,” jawab Mattasim.

“Apa alasan sampean?” Kejar Amir lagi.

“Ya, karena saya ndak punya alasan,” jawab Mattasim yang membuat Amir tambah penasaran.

“Maksudnya bagaimana toh Cak? Apa yang saya tanyakan ini adalah hal yang serius. Ini adalah hasil telaah, bukan ngarang dewek. Lengkap, ada dasar Hadits shahihnya. Dan, beliau yang menelaah lalu mengusulkan adanya Tarawih online, itu seorang ulama. Ini bukan untuk heboh-hebohan, Cak… Ini sebagai solusi bagi mereka yang ingin tetap Tarawih berjamaah tetapi terbentur peraturan pemerintah dalam upaya memutus mata rantai sebaran Covid Siji Sanga.. Terus, sampean dasarnya apa tiba-tiba bilang tidak sah? Coba jelasin ke saya…,” jawab Amir dengan nada bicara mulai meninggi.

“Loh, sampean ini gimana sih, Mas? Udah tahu itu persoalan ilmu tingkat tinggi, kok nanyanya sama saya. Ya, ndak sah saya memberikan jawaban. Sebab, saya ndak punya ilmunya,” jawab Mattasim enteng.

“Jadi, yang sampean maksud tidak sah, itu kalau sampean yang ngasih jawaban?”

“Iya,” tukas Mattasim sambil misem.

“Oo… Tak kirain, Cak…?!!” Timpal Amir yang kemudian mereka tertawa bareng.

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Amir maulana

    7 Mei 2020 at 6:13 am

    Owaaalllahhh mattasiiim mattasiim…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top