Kolom

Memaknai Nuzulul Quran dalam Perspektif Tasawuf

Ilustrasi/Ist.

Oleh: Muh. Saharuddin Mangngasa

Salah satu keunggulan dan kemuliaan bulan suci Ramadan ialah karena di dalamnya diturunkan Alquran, شهررمضان الذي أنزل فيه القرأن “bulan Ramadan ialah bulan yang didalamnya diturunkan Alquran”, demikian Alquran menyebutkan.

Malam turunnya Alquran di bulan Ramadan itu dikenal dengan istilah malam Nuzulul Quran (Turunnya Alquran) atau Lailatul Qadr (Malam Kemuliaan). Para ulama berbeda pendapat tentang waktu turunnya Alquran di bulan Ramadan, mayoritas berpendapat bahwa waktunya ialah tanggal 17 Ramadan, sebagian lagi berpendapat tanggal 21 Ramadan, dan sebagian lagi ada yang berpendapat tanggal 27 Ramadan, bahkan terdapat pendapat lagi selain itu. Namun, sepertinya kita tidak perlu memperpanjang perdebatan dan perbedaan itu karena tidak begitu urgen.

Selain mengenai tanggal, perbedaan pendapat juga terjadi dalam memahami tentang proses turunnya Alquran di bulan Ramadan. Sebagian ulama berpendapat bahwa Alquran yang turun pada Lailatul Qadr di bulan Ramadan itu hanya awalnya saja, yakni surah al-‘Alaq ayat 1-5, selebihnya turun secara berangsur-angsur di luar Ramadan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa yang turun pada malam itu adalah seluruh isi Alquran sekaligus namun hanya sampai di langit bumi (baitu -izzah), dan dari langit bumi selanjutnya turun secara berangsur-angsur kepada Rasulullah saw. Keterangan mengenai ini dibahas panjang lebar di dalam kitab-kitab ‘Ulûm al-Quran seperti al-Itqân, al-Burhân dan yang lainnya juga dalam kitab-kitab tafsir, bagi pembaca yang ingin mendalami silakan membaca kitab-kitab itu.

Yang perlu kita renungkan di sini ialah bagaimana seharusnya memaknai momen nuzulul quran ini. Salah satunya ialah kita renungkan bagaimana persiapan yang dilakukan oleh Rasulullah saw menjelang atau menjemput turunnya Alquran, dimana beliau melakukan perenungan panjang (khalwat), berdiam diri atau bersemedi di gura Hira. Beliau menjauhi hiruk pikuk duniawi lalu memfokuskan diri menghadap kepada Allah swt seraya membersihkan pikiran dan kalbunya dari segala sesuatu selain-Nya.

Inilah yang perlu kita renungkan dan amalkan saat ini, bahwa untuk menerima dan memasukkan Alquran ke dalam kalbu, perlu ada upaya perenungan (tafakkur) walau tidak dalam waktu yang lama. Dalam tafakkur ini kita sejenak menyendiri atau mengasingkan diri dari keramaian dan kesibukan duniawi yang melalaikan itu, seraya memusatkan ingatan kita hanya tertuju kepada Allah swt. Kita terus-menerus “mengelap” atau mengosongkan kalbu dari hal-hal duniawi yang selama ini bergelantungan di kalbu. Termasuk berjuang keras melawan dan mengobati penyakit-penyakit kalbu.

Dengan begitu, sedikit demi sedikit kalbu kita akan mulai bersih, dan mengkilap hingga akhirnya akan terang dan bercahaya. Nah, jika kalbu seorang mukmin sudah bersih dan bercahaya, maka tentu saja Alquran akan mudah “nuzul” atau turun dan masuk kepadanya. Dalam kondisi seperti itu, kalbu akan menjadi lebih terang lagi karena tersinari oleh cahaya Alquran. Bukankah Allah sendiri yang mengatakan bahwa Alquran adalah nur (cahaya)?

Kalbu seorang mukmin yang sudah tersinari oleh cahaya Alquran, maka cahaya itu akan tembus keluar dan menghiasi lahir dan batinnya. Setiap langkahnya akan selalu dituntun oleh hidayah Alquran. Pandangannya akan selalu terjaga oleh Alquran. Tingkah lakunya akan selalu sesuai dengan nilai-nilai Alquran. Ucapannya pun akan diliputi oleh pesan dan nilai Alquran. Dan semua itu telah dicapai oleh Rasulullah saw. Bukankan Ibunda Sayyidah Aisyah telah mengatakan bahwa akhlak Rasulullah saw adalah Alquran? Mengapa beliau mampu sampai kepada derajat itu? Jangan lupa, diantara yang beliau lakukan sebelum Alquran turun kepadanya ialah melakukan tafakkur dan perenungan, sehingga kalbunya benar-benar bersih dan siap menerima Alquran.

Memang kita sebagai umatnya tidak akan menerima wahyu sebagaimana Rasulullah saw., tetapi bukankah Alquran diturunkan bukan hanya untuk beliau, melainkan juga untuk seluruh umatnya bahkan semua umat manusia? Karena itu, bagaimana pun, kita harus mempersiapkan diri untuk “dinuzuli” oleh Alquran agar ia benar-benar menjadi petunjuk dalam hidup kita.

Bagaimana mungkin kita akan mengikuti ajaran Alquran dan berakhlak dengan akhlak Alquran, jika Alquran tidak hadir di dalam hati, bahkan jauh dari kita? Dan bagaimana ia akan mendekat dan masuk ke dalam hati kita, sementara hati kita tertutup oleh gelapnya dosa-dosa dan cinta dunia?

Wallâhu A’lam
Hasbunallâh

____
Penulis, Ust. Muhammad Saharuddin Mangngasa, SQ, M.Ag, adalah imam dan khatib di Masjid Besar Kota Ruwais, Abu Dhabi, United Arab Emirates

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top