Anekdot

Dari Tarawih Online Mattasim Ngajak Bukber Online

Di tengah hari bolong saat tidur lagi empuk-empuknya, telepon genggam alias TG-nya Amir berdering. Dapat ditebak, mendengar suara TG tentu sangat berbeda dengan mendengar suara adzan. Segera ia beranjak dari bantal dan langsung meraih alat komunikasi jarak jauh buatan negaranya Jackie Chan itu.

Setelah diangkat, tiada lain yang menelepon Amir, dialah Mattasim, sahabat dekatnya.

“Ada apa Cak, siang-siang gini telepon?”

“Mau tanya Mas, yang waktu itu sampean tanya ke saya… Soal itu… apa itu… ya itu.. Itu tuh… Tarawih Online. Nah itu maksud saya…” tanya Mattasim yang dijawab oleh Amir.

“Terus apanya yang mau ditanyakan? Kalau tanya soal hukumnya Tarawih online ke saya, jawaban saya tidak sah. Gitu kan maksudnya sampean, Cak?”

“Lah iya itu… Tapi bukan itu… Maksud saya yang itu tuh…”

“Apa sih Cak? Kebanyakan ita itu dari tadi, potong Amir rada kesal.

“Maklum Mas, THR ndak cair-cair nih, jadi saya kayak bule ngomongnya…”

“Bulepotan, maksudnya?”

“Iya, hahaha…,” jawab Mattasim sambil tertawa.

“Iya itu Mas, apa ada kelanjutan tentang bahasan Tarawih online itu menurut para ahlinya. Kalau ada, seperti apa hasilnya, Mas?” Tanya Mattasim lagi.

“Belum ada kayaknya, Cak. Saya belum dapat kabar lagi,” jawab Amir.

“Oh ya sudah… Nah, kata sampean waktu itu, ada yang namanya Zoom itu… Kalau alat itu bisa buat Tarawih online, nah itu bisa juga ndak kalau buat bukber online, gitu…?” Tanya Mattasim lagi.

“Ya pasti bisalah Cak,” jawab Amir.

Mereka kemudian sepakat untuk buka bersama (bukber) online di sore itu juga. Cara bagaimana menggunakan aplikasi yang dimaksud, Mattasim diajari oleh Amir. Singkat cerita, Mattasim akhirnya bisa mengoperasikan aplikasi terbarukan yang biasa dipakai untuk video rapat jarak jauh, alias video confence tersebut.

Waktu Maghrib kurang sekitar 15 menit, Amir dan Mattasim sudah sama-sama duduk di depan layar aplikasi.

“Wah mantap juga ya Mas. Benar kata sampean, kita udah kayak berada dalam satu ruangan,” ungkap Mattasim membuka perbincangan lalu bertanya.

“Mas Amir di situ sendirian? Mas Agung ndak ikutan bukber online juga, ke mana dia?”

“Agung lagi ke pondok. Biasa, tiap sore ada pengajian online,” jawab Amir yang ditimpali oleh Mattasim.

“Wah, mas Agung hebat ya sekarang? Di bulan puasa ini jadi rajin ngaji dia. Berarti tiap sore mas Agung ngaji terus ya, Mas..?”

“Nggak juga…,” jawab Amir.

“Loh, kok?” Tanya Mattasim.

“Agung cuma jadi operator,” jawab Amir.

“Kalau Kang Yusuf ndak diajak bukber online juga, Mas? Tanya Mattasim lagi.

“Pak Yusuf sudah lama nggak ke sini-sini, sejak musim kararona. Dia sedang isolasi mandiri alias lockdown…,” terang Amir yang dipotong oleh Mattasim.

“Oh iya ya, dia kan orang Sunda, senengannya lauk daon…”

“Bukan lauk daon Cak, tapi lockdown,” terang Amir.

“Ya itulah pokoknya,” jawab Mattasim.

Maghrib kurang sekitar lima menit Mattasim mulai gelisah. Karena bayangan dia, dalam bukber online itu ada makanan untuk buka puasa yang diantarkan oleh jasa pengiriman paket online. Tapi sudah 10 menit dia ngobrol secara virtual dengan Amir, paket yang diharapkan tidak datang-datang juga.

“Mas Amir, sebentar lagi Maghrib nih, kok makanan untuk buka puasanya belum datang? Apa emang kita cukup ngobrol gini aja kalau bukber online?” Tanya Mattasim penasaran.

“Lah iya Cak. Makanan buka puasanya ya dewek-dewek, tapi kita makannya bareng-bareng, sambil lihat-lihatan kayak ini….”

‘Yaaah… Saya kira ada makanan online-nya juga. Soalnya waktu itu, mas Agung pernah nraktir saya. Katanya, dia pesan online. Tapi, benar ada itu makanannya, diantar sama tukang ojek….”

“Beda Cak… Itu namanya pesan paket melalui jasa online, maka pesanannya diantar oleh ojek online. Nah, kita sekarang bukber online; makanannya dewek-dewek, tapi makannya bareng-bareng secara online,” terang Amir yang dijawab oleh Mattasim.

“Et dah… Kena saya…”

“Jangan-jangan THR sampean sudah cair, Cak… Tapi ya onliene juga. Alias cuma gambarnya aja yang dikirim,” seloroh Amir yang kemudian mereka berdua tertawa bareng.

4 Comments

4 Comments

  1. Avatar

    Amir maulana

    20 Mei 2020 at 4:28 am

    Cerita ringan yg menjengkelkan penuh keceriaan…

  2. Avatar

    Adit Bandit

    20 Mei 2020 at 6:37 am

    Bhinneka Tunggal Ika nya bangsa kita ada mattasim story

  3. Avatar

    Adit Bandit

    20 Mei 2020 at 6:38 am

    Amir dan mattasim kembar tapi beda, seperti Jono dan lono

  4. Avatar

    Muhammad Nasir

    20 Mei 2020 at 1:03 pm

    Ceritanya lucu juga. 😅

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top