Kolom

Beginilah Cara Menyambut Lailatul Qadr

Ilustrasi

Oleh: Muhammad Saharuddin Mangngasa

Sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan memiliki nilai dan keutamaan yang sangat spesial. Selain karena merupakan saat-saat terakhir Ramadan, juga karena disebutkan dalam banyak hadis bahwa Rasulullah saw menyebutkan kemuliaan sepuluh malam terakhir Ramadan yang dibuktikan dengan keseriusan beliau hingga “menyingsingkan bajunya” atau dalam bahasa hadisnya “mengeratkan sarungnya” yang berarti memaksimalkan ibadah kepada Allah swt.

Selain itu, malam-malam terakhir Ramadan khususnya malam-malam ganjil menjadi lebih istimewa karena kehadiran malam yang “termulia” dari semua malam, bahkan lebih mulia dari seribu bulan ((خير من ألف شهر, demikian kata Alquran. Malam itu ialah malam kemuliaan, Alquran menyebutnya “Lailatul Qadr”. Berdasarkan berbagai sumber terpercaya, Alquran pertama kali diturunkan pada malam kemuliaan ini atau Lailatul Qadr. Dan dalam hadis-hadis juga disebutkan bahwa Lailatul Qadr terjadi setiap tahun pada bulan Ramadan yang waktunya tidak pasti malam ke berapa, hanya saja disebutkan bahwa biasanya terjadi pada malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir. Rasulullah saw bersabda: “Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir.” (HR. Al-Bukhari).

Lalu apa makna Lailatul Qadr itu? Dan bagaimana seharusnya seorang hamba memuliakan dan memaknainya? Serta bagaimana cara menggapainya? Seperti disebutkan sebelumnya bahwa malam kemuliaan itu adalah waktu turunnya Alquran. Sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya Kami menurunkan (Alquran) pada malam kemuliaan.” (Qs. al-Qadr:1). Dengan demikian, Lailatul Qadr merupakan malam atau “saat-saat kesunyian dimana Alquran turun dan masuk kedalam kalbu Rasulullah saw.” Dengan kata lain, Lailatul Qadr identik dengan momen turunnya Alquran ke dalam kalbu seorang hamba, dan itu terjadi di tengah kesunyian malam.

Dengan demikian, memaknai Lailatul Qadr mestinya dengan melakukan perenungan seraya merenungi dan meresapi makna dari ayat-ayat Alquran, lalu merasakan pesan dan makna-makna itu perlahan masuk menembus relung-relung hati, hingga melahirkan ketenangan batin yang hakiki yang terasa sangat menenteramkan alam batin, yang keindahan dan ketenteramannya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Pada saat itulah seorang hamba merasakan kebahagiaan dan ketenangan yang hakiki, karena hatinya tersirami butiran-butiran embun kesejukan yang dibawa oleh Alquran.

Jika sudah demikian, maka sang hamba akan mudah memahami pesan Alquran dan mudah pula mengamalkannya dalam kehidupannya, ia akan berjalan di atas jalan Alquran, langkahnya akan selalu sejalan dengan pesan dan nilai Alquran, hari-harinya akan selalu bermandikan cahaya dan keberkahan Alquran.

Itulah buah dari Lailatul Qadr yang sesungguhnya. Itulah ciri orang yang telah menggapai Lailatul Qadr. Sekali lagi, menjemput Lailatu Qadr bukan sekedar begadang di malam hari, tetapi perenungan yang mendalam seraya mengosongkan hati dan “mempersilakan” Alquran masuk ke dalamnya.

Tentu saja untuk sampai kepada kondisi tersebut, dibutuhkan suasana yang tenang dan kondusif yakni harus berada di tengah kesunyian. Maka untuk menempuhnya sebaiknya dilakukan di tengah malam. Itulah mengapa Alquran turun di malam hari. Makanya dinamakan Lailah.

Walau demikian, kesunyian tidak selalu dan tidak selamanya hanya bisa didapatkan di malam hari, kesunyian bisa diciptakan oleh seorang hamba meski di siang hari dengan cara menyendiri di tempat sepi yang jauh dari keramaian manusia, misalnya di dalam kamar atau di musala pribadinya.

Mengapa perlu menciptakan kesunyian? Karena organ batin manusia hanya akan aktif (hidup) ketika panca indera lahiriah tidak aktif, dan panca indera lahiriah hanya bisa non-aktif jika berada dalam kesunyian. Turunnya Lailatul Qadr adalah peristiwa batin, dan hanya bisa dialami dan dirasakan oleh organ batin.

Hasbunallah

Penulis, Ust. Muhammad Saharuddin Mangngasa, SQ, M.Ag, adalah imam dan khatib di Masjid Besar Kota Ruwais, Abu Dhabi, United Arab Emirates

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Amir maulana

    23 Mei 2020 at 4:52 am

    Semoga kita bisa menyambut dan mendapatkan lailatul qodar tahun ini..amiiinn

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top