Kabar

Ceria Mereka Mengantre Air Perut Bumi di Tengah Pandemi

Padasuka.id – Wonigiri. Di saat dunia sedang jengah dengan isu wabah dan sebagian orang sibuk mempersiapkan kebutuhan lebaran serta sebagian yang lain sedang resah menunggu antrean pemabgian sembako sebagai kompensasi dampak pandemi, di kampung ini sejumlah orang tengah sibuk mengantre air bersih untuk keperluan sehari-hari. Saat pagi sedang menyapa hari, mereka sudah berada di tengah kampung di sebuah desa terpencil berpagar bukit-bukit kapur. Mereka berdiri berjejer dengan tertib bergantian menadahkan wadah di bawah kran air yang berada di tepi jalan di kampung itu. Mereka adalah warga Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Suasana pagi (Rabu, 20/5/2020) di Dusun Ngejring Desa Gendayakan saat warga antre mengambil air hasil eksplorasi yang disalurkan dari tandon distribusi ke kran di tengah kampung

Walau dalam suasana mengantre tampak wajah-wajah mereka cerah ceria. Sesekali diselingi canda gurau sesama para pengantre. Maklum saja, keceriaan itu tampak karena saat ini mereka mengantre air yang sudah tersedia. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang harus mencari air sampai ke daerah di luar desa mereka. Atau, harus menjual ternak untuk membeli air tanki berukuran 6000 liter dengan kisaran harga Rp. 170.000 dan rata-rata hanya bisa dipakai selama tiga minggu. Saat ini mereka tinggal datang ke tengah kampung lalu memutar kran, air pun deras mengucur. Ya, itulah air yang merupakan kekayaan daerah ini yang tersimpan di bawah buminya.

Air perut bumi itu berasal dari dalam Goa Jomblang Ngejring Desa Gendayakan pada kedalaman sekitar 180 meter yang pertama kali berhasil diangkat, Senin 7 Oktober 2019, beberapa saat setelah adzan Subuh berkumandang. Upaya pengangkatan air tersebut diinisiasi oleh Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) dengan melibatkan tim teknis dari Mapala Gapadri Institùt Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY) serta dibantu oleh kelompok masyarakat desa setempat (Pokmas Suka Tirta). Dalam pendanaannya dibantu oleh para donatur serta dari Djarum Foundation.

Posisi tandon dengan total 8000 liter yang berada di lereng bukit sebelah utara Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, Kec. Paranggupito, Kab. Wonogiri

Sejak sekitar dua bulan lalu (Maret 2020) di daerah ini hanya beberapa kali turun hujan. Dan, sejak dua minggu terakhir ini sama sekali belum pernah turun hujan. Maka, sebagai daerah yang berada di bentang karst bukit kapur yang tidak memiliki kandungan air dangkal, warga di daerah ini mengandalkan air hujan untuk keperluan sehari-hari, termasuk untuk minum ternak peliharaan mereka. Sehingga, dengan adanya upaya pengangkatan air sungai bawah tanah di Goa Jomblang Ngejring tersebut mereka sangat terbantukan.

Dalam beberapa minggu ini menurut keterangan Suwarno, Pengurus Pokmas Suka Tirta, yang mengangkut air tersebut bukan hanya warga Desa Gendayakan, melainkan juga warga dari tetangga desa. Dari sini dapat dilihat bahwa sebagian desa di wilayah Kecamatan Paranggupito, Wonogiri sudah mulai mengalami kekurangan ketersediaan air di daerah mereka.

Pada intinya, menurut Suwarno, saat ini masyarakat merasa terbantukan dengan adanya pengangkatan air (eksplorasi) perut bumi di Goa Jomblang Ngejring tersebut. Walaupun air belum mengalir langsung melalui paralon ke rumah-rumah waga tetapi setidaknya mereka tidak kesulitan lagi mencari air bersih untuk keperluan sehari-hari. Bahkan, tetangga desanya pun dapat pula merasakan manfaat hasil eksplorasi air tersebut.

Bak penampungan di sisi Goa Jomblang Ngejring. Tanda panah, ke arah posisi mulut goa

Dari pantauan di lokasi, tampak mereka yang mengangkut air ada yang hanya membawa jerigen dan galon serta ada pula yang mengangkut menggunakan sepeda motor.

Sementara itu, menurut keterangan penanggung jawab eksplorasi air tersebut, Kiai Mohammad Wiyanto, saat ini dalam 24 jam telah tersedia 24.000 liter air yang bisa dimanfaatkan oleh warga masyarakat. Ketua PADASUKA DPW Jawa Tengah ini juga menuturkan bahwa pihaknya kini tengah mengkaji kemungkinan peningkatan kapasitas pemompaan sehingga ketersediaan air di tandon distribusi lebih optimal lagi.

Kami, Tim Tanggap Darurat Bencana (T2DB) PADASUKA, Tim Mapala Gapadri ITNY, dan Tim Teknik Djarum sedang mengkaji kemungkinan peningkatan kapasitas pemompaan, karena masih ada sisa debit 0,75 liter perdetik yang dapat dipompakan ke permukaan,” ungkap Gus Yayan, sapan akrabnya, kepada Padasuka.id melalui leterangan tertulis, Minggu (17/5/2020).

Editor : M.A.R & Anuro

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Amir maulana

    23 Mei 2020 at 4:50 am

    Di daerah daerah lain org tdk memperhatikan anjuran pemerintah tentang hindari kerumunan yaitu antre di pusat2 perbelanjaan,,tetapi,di daerah wonogiri tepatnya paranggupito org dengan ceria antre utk ‘kebutuhan’ hidup, karena kekayaan air di daerah tersebut sdh berhasil ditemukan oleh Padasuka dan dikerjakan oleh gapadri itny dan dilanjutkan oleh djarum foundation. Semoga kita semua bisa ikut ceria seperti yg mereka rasakan saat ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top