Kabar

Detak Religiusitas Malam Ramadhan di Pasar Induk Kramat Jati

Padasuka.id – Jakarta. Ketika bulan suci Ramadhan tiba, berbagai jenis buah-buaham yang menjadi ciri khas buka puasa seketika berlimpah baik di lapak-lapak pinggir jalan ataupun di pasar-pasar tradisional. Antara lain seperti di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

Di pasar yang menjadi pusat segala macam perdagangan bahan panganan tersebut, hampir semua jenis buah yang identik dengan menu buka puasa dan hidangan lebaran semuanya tersedia. Terhitung mulai dari timun suri, belewa, labu, hingga buah olahan semisal kolang-kaling, dan lain sebagainya. Namanya juga pasar induk, tentu bahan-bahan itu tersedia dalam jumlah berpuluh-puluh truck yang didatangkan dari berbagai daerah di tanah air.

Deretan lapak timun suri di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur

Walau hiruk-pikuk perdagangan menjadi nafas utama pasar, tetapi denyut religiusitas nyatanya tidak juga ranggas. Termasuk pula religiusitas ibadah ala bulan suci Ramadhan semisal shalat Tarawih dan tadarrus Al-Qur’an. Walau tentu saja pelaksanaannya secara pribadi-pribadi di lapak dagang mereka masing-masing. Secara jumlah memang tidak banyak, tetapi hal itu tetap ada.

Nampaknya, kesibukan mereka sebagai pelaku niaga tidak ingin lepas dari keagungan Ramadhan yang penuh berkah. Mungkin, karena Ramadhan hanya sekali dalam setahun, di antara mereka tidak ingin lewat begitu saja meskipun di sela-sela kesibukan.

Satu dari sekian lapak yang terlihat ada denyut religiusitas ala Ramadhan itu adalah lapak kolang-kaling Bukit PADASUKA. Yang mendatangkan buah kolang-kaling secara langsung dari Medan, Sumatera Utara. Secara bergantian pasangan suami istri yang berdagang di lapak ini melaksanakan shalat sunnat Tarawih. Ketika pembeli ada jeda, shalat Tarawih dijalankan. Bahkan, tampak pula sang istri membaca kitab suci Al-Qur’an. Beberapa saat setelah pembeli mulai ramai, kembali mereka meladeni pembeli.

Tampak H Tri Joni sedang shalat Tarawih di lapaknya dan sang istri Hj Iyan Naibaho sedang membaca Al- Quran di antara tumpukan karung kolang-koling dagangannya

Alhamdulillah, di sela-sela berdagang kami masih bisa ibadah. Lumayanlah masih bisa Tarawihan dan baca Al-Qur’an. Mudah-mudahan mendapat keberkahan di bulan penuh berkah ini,” ujar Hj Iyan Naibaho pelapak kolang-kaling Bukit PADASUKA saat ditemui di lapaknya pada malam hari, belum lama ini.

Memang, sesibuk apapun jika beribadah menjadi kenikmatan hidup seseorang, maka terasa indah dijalankan. Walau dalam suasana yang penuh hiruk-pikuk perniagaan, jika diwarnai dengan laku ibadah jiwa akan terasa tenteram.

Pada dasarnya dalam kondisi apapun ritual ibadah tidak menjadi halangan untuk tetap istikomah dijalankan. Dengan demikian, keseimbangan antara usaha duniawi dan ukhrowi dalam meniti kehidupan untuk menggapai ridho Ilahi akan tetap terpenuhi. Lantas, bagaimana dengan kita? (AF)

Editor : M.A.R & Anuro

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Amir maulana

    23 Mei 2020 at 4:32 am

    Kebanyakan org kalo sdh di pasar ‘lupa’ kewajiban sholat…alhamdulillah H joni n keluarga bisa sebagai contoh pedagang lapak yg lain…semoga selalu istiqomah..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top