Anekdot

Top! Sosok Ini Bocorkan Teori Agar Selamat Mendarat di Matahari

Menurut NASA dalam ‘How Round is the Sun?’ (2008) matahari adalah bintang di pusat tata surya. Bentuknya nyaris bulat dan terdiri dari plasma panas bercampur medan magnet. Diameternya sekitar 1.392.684 km, atau sekitar 109 kali diameter bumi.

Sementara itu, ‘Live Science’ (23/2/2016) merilis bahwa suhu matahari berbeda-beda, tergantung lapisannya. Suhu paling tinggi terdapat di intinya, sedangkan suhu terendah berada di lapisan terluarnya. Diungkapkan, pada bagian inti matahari, berhasil menyebabkan tekanan yang intens dan membuat suhu melonjak hingga 15 juta derajat celcius. Hal ini menghasilkan fusi yang bertanggung jawab pada energi matahari. Energi itu kemudian memancar keluar pada zona radiasi di matahari yang tidak memiliki panas dan menyebabkan fusi. Di zona tersebut, suhu berkurang hingga 7 juta derajat celcius. Lapisan berikutnya adalah photosphere, di sinilah tempat terbentuknya cahaya matahari yang sampai ke bumi. Bintik matahari di lapisan ini terlihat hitam di sekitarnya. Di pusat tempat matahari suhunya 4.000 derajat celcius.

Uraian di atas adalah teori ilmiah hasil penelitian para ahli dari lembaga khusus. Namun pandangan seperti itu agaknya tidak begitu berlaku bagi sosok yang satu ini. Dialah Mattasim sahabat dekat Mattamir yang di kalangan mahasiswi di kampusnya lebih populer dengan sapaan Mas Amir.

“Apa kabar Mas, kondisi Jakarta saat-saat mau lebaran ini?” Tanya Mattasim membuka perbincangan melalui TG-nya.

“Kabarnya kabur Cak… Ruwet, ruwet, ruwet…!! Mau ke mana-mana susah, THR pun tiada yang cair,” jawab Amir seraya ngedumel.

“Wah, berarti Jakarta ketat banget ya Mas, sampai mau ke mana-mana aja susah begitu. Seketat apa sih Mas?” Selidik Mattasim.

“Bukan masalah ketatnya, Cak,” jawab Amir.

“Nah terus masalah apa?” Kejar Mattasim.

“Masalah penghematan doku, Cak. Kalau nggak perlu-perlu banget mending di rumah, lumayan ngirit. Namanya juga PSBB alias Penghematan Seirit-iritnya Bahan Bakar,” jawab Amir yang diiringi tawa mereka berdua.

“Tahulah Cak, orang-orang di luar negeri sudah mendarat di bulan, malahan ada yang berniat mau buat pemukiman di bulan, nah di kita kok masih mikirin kebutuhan hidup dari bulan ke bulan,” lanjut Amir yang dijawab santai oleh Mattasim.

‘Ya sabar Mas. Kan sampean sering nasehati saya agar bersabar. Masak sampean sendiri ndak bisa sabar. Rajin dan pinter nasehati orang lain tapi kok ndak bisa jalani sendiri… Lagian apa sih hebatnya orang bisa ke bulan? Menurut saya itu biasa aja. Kalau ada yang bisa ke matahari, itu baru hebat. Kalau ke bulan kan sebelumnya sudah pernah ada. Jadi, biasa…”

“Gila aja kamu, Cak. Gimana orang bisa mendarat di matahari. Bisa gosong sebelum sampai. Itu panasnya a’udzu billah. Matahari itu adalah objek terbesar di tata surya. Jaraknya dari bumi mencapai 93 juta mil, panasnya masih terasa banget, apalagi kalau manusia ke sana. Selain itu, cahaya matahari hanya butuh 8 menit untuk mencapai permukaan bumi,” jawab Amir yang dipotong oleh Mattasim.

“Wah sampean hebat juga ternyata, Mas. Ndak ragu saya kalau sampean ngaku anak kuliahan. Pemahamannya tentang matahari mantrap trap. Tapi… Itu kan teori mereka, Mas. Biar aja itu apa kata mereka. Kita ndak usah ikut-ikutan. Kita buat teori yang menurut kita aja…”

“Nah, menurut Cak Mat, bagaimana teorinya agar supaya orang bisa selamat mendarat di matahari?” Selidik Amir yang langsung dijawab oleh Mattasim.

“Gampang, Mas. Itu kan karena persoalan panasnya saja yang ditakuti. Hmm gampang soal itu Mas.”

“Iya. Gampangnya itu yang bagaimana Cak?” Kejar Amir tambah penasaran.

“Agar terhindar dari panas matahari yang kata sampean panasnya a’udzu billah itu, caranya begini. Pertama, tentu harus ada roketnya dong. Kedua, astronotnya yang memang handal dan senior, bukan yang baru-baru. Ini bukan untuk kelas astronot magang Mas. Ini urusan serius. Maka semuanya ya harus serius….,” terang Mattasim yang dipotong oleh Amir.

“Walah kesuwen Cak. Intinya aja bagaimana teori sampean?”

“Begini Mas. Agar terhindar dari panasnya matahari sehingga manusia bisa selamat sampai di sana, kita harus tahu waktu yang tepat saat berangkat. Dan, waktu yang tepat itu adalah: dari bumi kita meluncur ke matahari setelah shalat Maghrib. Di sana ndak usah terlalu lama. Setelah shalat Subuh kita turun lagi ke bumi. Yakinlah pasti selamat dari panas matahari,” jawab Mattasim yang langsung dijawab oleh Amir.

“Wah benar juga kamu, Cak. Kalau waktunya dari Maghrib sampai Subuh, suasananya kan masih adem ya Cak…?”

“Nah itu dia? Makanya, saya bilang apa?” Jawab Mattasim yang disambut tawa mereka berdua.

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Amir maulana

    23 Mei 2020 at 4:36 am

    Semoga mattasim dan mattamir bisa mendarat ke matahari dgn selamat dan kembalinya ke bumi tdk gosong….

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top