Kolom

Yang Tak Kunjung Nuzul

Foto : Istimewa

Oleh: Muhammad Saharuddin Mangngasa

Peristiwa turunnya Alquran atau Nuzulul Quran merupakan peristiwa agung yang selalu diperingati dan dikenang oleh umat Islam pada bulan Ramadan, khususnya pada malam ke-17 Ramadan, meski terdapat pendapat lain tentang tanggal itu.

Sayangnya peristiwa yang agung ini jarang diresapi dan dimaknai secara mendalam, sehingga peringatannya tak jauh beda dengan perayaan dan peringatan-peringatan yang lain. Dengan kata lain, peringatan agung tersebut seolah hambar dan hampa. Padahal, peristiwa yang agung dan monumental itu mengandung pesan yang sangat dahsyat.

Untuk bisa memaknai secara benar dan mendalam, maka kita harus bisa melihat dan memahami makna atau sisi batin dari perisitiwa tersebut. Nuzulul Quran adalah peristiwa turunnya dan masuknya Alquran ke dalam kalbu Rasulullah saw melalui perantaraan Malaikat Jibril. Kita tidak akan membahas lebih jauh tentang bagaimana proses Alquran diwahyukan kepada beliau, karena uraian mengenai hal ini sangat panjang. Yang akan kita uraikan di sini hanyalah makna yang dapat dipetik dari peristiwa agung itu.

Ketika Alquran “nuzul” ke dalam kalbu Rasulullah saw, tentu saja kalbu beliau akan bersinar dengan cahaya Alquran. Cahaya itu selain menyinari relung-relung kalbu beliau, juga terpancar keluar melalui wajah dan panca indera lahiriahnya. Alquran yang mengalir dan menyelimuti sekujur tubuh beliau akan membuat beliau laksana “Alquran yang berjalan”. Inilah makna ungkapan Ibunda Aisya ra.: كان خلفه القرأن “Akhlak beliau adalah Alquran.” Nilai dan pesan Alquran yang dipenuhi oleh cinta dan kasih sayang benar-benar tampak dan terefleksi dalam akhlak kesehariannya. Itulah mengapa sifat kasih sayang dan cinta bagai butiran mutiara yang selalu tertabur keluar dari lisan beliau.

Alquran yang dipenuhi oleh pesan cinta akan membuat kalbu manusia yang “di-nuzuli-nya” akan tersinari oleh pancaran cahaya cintanya, sehingga hamba tersebut akan tersirami dan terselimuti oleh cinta dan kasih sayang karena ia telah bermandikan cahaya Alquran. Maka, semua ucapan dan gerak-geriknya akan selalu diliputi oleh rasa cinta dan kasih sayang.

Pertanyaannya kini, mengapa di antara kita atau mungkin diri kita sendiri, tindakannya masih sering tercampuri bahkan dipenuhi oleh rasa benci? Jangan-jangan ruang kalbu kita memang masih terpenuhi oleh nafsu dan rasa benci? Kalaupun kita merasa mencintai, jangan-jangan itu hanyalah jelmaan hawa nafsu yang ngaku-ngaku sebagai cinta.

Bukankah cinta dan benci tidak akan menyatu dan tinggal dalam satu hati? Lalu kemana gerangan pancaran cinta yang dibawa oleh Alquran? Atau jangan-jangan hingga kini Alquran memang belum nuzul ke dalam kalbu kita. Maka kemana gerangan pesan nuzulul quran yang kita peringati setiap tahun? Lalu sampai kapan Alquran tidak turun ke dalam kalbu kita? Akankah kita biarkan kalbu ini berada dalam kegelapan yang tak kunjung tersinari oleh cahaya Alquran? Renungkanlah duhai diriku dan saudaraku!

Hasbunallah

__
Penulis, Ust. Muhammad Saharuddin Mangngasa, SQ, M.Ag, adalah imam dan khatib di Masjid Besar Kota Ruwais, Abu Dhabi, United Arab Emirates

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Amir maulana

    23 Mei 2020 at 4:25 am

    Semoga kita semua mendapatkan mlm lailatur qodar…amiiinn

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top