Kabar

Sosok Ini Ungkap Realitas Tujuan Migrasi Hadrami ke Nusantara

Padasuka.id – Depok. Dari tahun ke tahun di negeri ini selalu saja muncul peristiwa yang menghebohkan yang dilakukan oleh sejumlah orang yang bergelar Habib. Kehebohan terjadi antara lain karena kelompok masyarakat yang satu ini terkesan sebagai sosok yang ekslusif –walau tidak semua– yang selalu dikait-kaitkan dengan Nabi Muhammad SAW. Sehingga, kalau ada seorang habib terkenal bermasalah dengan hukum maka umumnya akan dibarengi dengan kabar bahwa telah terjadi kezaliman terhadap cucu Nabi SAW dan sebagainya. Padahal, selain habib tentu banyak masyarakat bahkan tokoh yang melanggar hukum lalu diproses di pengadilan kemudian dijebloskan ke dalam tahanan. Tetapi sejauh ini tidak ada kehebohan mereka itu sebagai cucu siapa?

Saat Umar Assegaf mendorong keras anggota Satpol PP yang kemudian terjadi aksi saling pukul (Tangkapan layar dari video yang beredar)

Contoh kecil yang baru saja terjadi adalah pelanggaran yang berujung perlawanan oleh Habib Umar Assegas asal Bangil, Jawa Timur, terhdap sejumlah aparat yang sedang bertugas dalam pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terkait wabah Covid-19 di Surabaya, Jawa Timur. Dalam video yang beredar tampak jelas habib ini melanggar PSBB bahkan dialah yang memulai melakukan penyerangan dengan mendorong keras seorang anggota polisi juga terhadap seorang anggota Satpol PP sehingga kemudian terjadi aksi saling pukul.

Dalam rilis di beberapa situs media online juga diterangkan hasil wawancara dengan pihak Polda Jawa Timur tentang kronologi peristiwa itu, yang dinyatakan bahwa habib tersebut telah melakukan sejumlah pelanggaran. Namun di media online yang lainnya lagi dan di media sosial peristiwa viral itu dibalik cerita dengan menyudutkan pihak aparat dan membawa-bawa istilah “Cucu Nabi” dan sebagainya. Penyudutan terhadap pihak aparat yang sedang mengemban tugas negara di tengah merebaknya wabah itu rupanya disampaikan pula oleh Pengurus MUI Jawa Timur dan MUI Pusat.

Kemudian, dalam beberapa situs berita online dikabarkan bahwa pihak petugas yang jadi sasaran arogansi habib ini akan melaporkan peristiwa itu ke pihak yang berwajib. Namun yang terjadi sebaliknya. Selang beberapa hari anggota Satpol PP malah yang datang meminta maaf ke Habib Umar dengan didampingi sejumlah petugas. Entah, apakah anggota polisi yang dalam video viral itu, setidaknya dua kali didorong paksa oleh si habib, akan tetap melaporkan atau bagaimana, belum ada kabar lanjutan.

Berkenaan tentang siapa, sejak kapan, dan tujuan dari leluhur para habib itu dulu datang ke Nusantara, Senin (25/5/2020) PADASUKA TV melakukan shoting dengan Muhammad AR, seorag pengurus di sejumlah Badan Otonom dan Lembaga Nahdlatul Ulama yang aktif pula di Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA).

Walau tidak sepenuhnya, wawancara dalam shooting yang dilakukan di daerah Depok, Jawa Barat, itu ada gambaran yang berkolerasi dengan contoh kasus yang terjadi di Surabaya seperti disitir di atas.

Hasil shooting yang akan ditayangkan melalui kanal Youtube PADASUKA TV itu antara lain Muhammad menjelaskan, apa yang ia sampaikan bertujuan sebagai pelurusan realitas sejarah yang ia harapkan dapat menjadi penyadaran bagi anak-anak bangsa di negeri ini khususnya.

Selain mendorong anggota polisi dengan tangannya, Umar Assegaf juga berkata kasar yang disertai dengan gaya tangan terkepal (Tangkapan layar dari video yang beredar)

Kalau saya melihat kejadian di Surabaya, misalnya, itulah yang hampir sama, terjadi pula di Hadramaut sendiri beberapa abad silam setelah kelompok Sayyid atau di kita disebut Habib itu berhasil menyebarkan pengaruhnya di sana antara lain dengan klaim sebagai cucu Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyidah Fatimah. Ini bukan mengungkit-ungkit, hanya sebagai gambaran yang semoga pula menjadi penyadaran bagi kita semua. Tentu saya tidak menggebyah uyah seperti itu semua, pasti ada dari beliau-beliau itu yang alim dan shaleh. Tetapi ini adalah gambaran umumnya saja yang tercatat dalam lembaran sejarah,” tutur Muhammad.

Ia menjelaskan, apa yang disampaikannya bukan hasil karangan sendiri melainkan hasil penelitian yang dilakukan di masanya serta diterbitkan di masanya pula. Yakni sebuah riset yang dilakukan seorang sarjana Belanda pada tahun 1885 yang dirangkum dalam satu buku dan diterbitkan pada 1886.

Jadi apa yang saya sampaikan ini bukan karangan saya sendiri, tetapi hasil tilikan atau penelitian dari seorang sarjana Belanda bernama Lodewijk Willem Christiaan van Den Berg selama kurang lebih satu tahun pada 1885 yang saat penelitian ia juga ditemani oleh sejumlah sayyid atau habib. Kemudian, hasil penelitiaanya diterbitkan dalam bentuk buku berjudul ‘Le Hadhramout Et. Les Colonies Arabes Dans L’ Archipel Indien,’ dalam bahasa Prancis. Sabab pada masa itu katantnya bahasa internasional adalah Bahasa Prancis, belum Inggris. Buku ini belakangan yakni pada tahun 1980-an diterbitkan dalam edisi Bahasa Indonesia oleh INIS atau ‘Indonesian Netherlands Coorperation in Islamic Studies.’ Intinya, saya hanya mengungkap peristiwa yang ditelaah di masanya dan dibukukan di masanya juga,” terang Muhmmad sesaat setelah pengambilan gambar.

Selain sisi vieodalis yang diurai, yang menarik pula di sini, Muhammad mengungkap bahwa kedatangan orang-orang Arab di Nusantara pada saat itu dibagi dua; Arab Mekkah dan Arab Hadramaut atau yang kerab disebut Hadrami. Untuk Hadrami sendiri dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:

1-Kelompok Sayyid (Habaib)
2-Kelompok Pribumi Asli Hadramaut
3-Kelompok Menengah
4-Kelompok Pembantu dan Budak

Keempat kelompok Hadrami ini umumnya datang ke Nusantara pada tahun-tahun akhir abad ke-18 Masehi dan membludak sejak awal abad ke-19 Masehi melalui pelabuhan di Singapura yang menjadi jajahan Inggris saat itu. Adapun tujuan utama kedatangan mereka bukan untuk berdakwah apalgi menyebarkan Islam, melainkan untuk mencari kehidupan yang lebih baik dari sisi ekonomi yang mereka istilahkan dengan “Mencari Cincin Nabi Sulaiman.”

Saat pengambilan gambar shooting PADASUKA TV, Senin (25/5/2020)

Jadi ternyata cincin Nabi Sulaiman itu adanya di Nusantara bukan di mana-mana. Itu buktinya mereka beramai-ramai datang dari Hadramaut mencarinya ke sini, hahaha… Sekali lagi saya sampaikan, apa yang saya katakan ini berdasar sumber yang juga digunakan oleh banyak sejarawan; bukan asal-asalan. Dan, tentu pula bukan untuk merendahkan, tetapi untuk penyadaran. Karena mereka sekarang sudah menjadi warga negara Indonesia ya berlakulah sebagaimana umumnya bangsa Indonesia. Kita pererat persaudaraan, bukan malah mengekslusifkan diri apalagi di mana-mana mengaku kerap menyebut diri sebagai ini dan itu yang berujung pada kultus individual yang akan menjadi bibit pengkotak-kotakan,” tandasnya.

Seperti apa hasil wawancaranya? Saksikan saja di kanal Youtube PADASUKA TV.

Editor : M.A.R & Anuro

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Amir Maulana

    31 Mei 2020 at 8:33 am

    Banyak org yg tidak tahu asal muasal nama ‘habib’ di Indonesia,,,semoga padasuka segera mengangangkat tema ‘habib palsu’ yg merusak sejarah NKRI ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top