Kabar

Dari Hadramaut ke Nusantara Mereka Nyari Cincin Nabi Sulaiman

Padasuka.id – Depok. Sejak beberapa tahun terakhir ini ada anggapan bahwa sebaran Islam di Nusantara dilakukan oleh para ulama asal Hadramaut, Yaman. Setidaknya klaim serupa ini dapat dijumpai dalam beberapa artikel yang tersebar di media sosial atau dalam beberapa ceramah di panggung-panggung pengajian umum. Meskipun pengakuan serupa ini tidak dibarengi dengan data yang memadai atau bukti-bukti material sebagai alat pendukung, namun tidak sedikit orang yang mempercayainya. Pertama, mungkin karena ketidaktahuan mereka tentang sejarah. Kedua, karena yang menyampaikan adalah seseorang yang ditokohkan.

Uraian di atas adalah salah satu materi yang disampaikan Muhammad AR, seorang penulis yang juga pecinta sejarah, Senin (25/5/2020) yang lalu, sesaat setelah pengambilan gambar untuk mengupas persoalan tersebut yang akan ditayangkan di kanal Youtube PADASUKA TV.

Dari berbagai data sejarah yang ditelaah, menurutnya, sebaran Islam di Nusantara sudah terjadi ratusan tahun sebelum kedatangan imigran asal Hadramaut. Ia lalu memberi contoh, pada abad ke-13 Masehi di Aceh sudah ada Kerajaan Islam yang dipimpin oleh Malik As-Shaleh yang dikatakan sebagai pribumi Nusantara. Pemerintahan Malik As-Shaleh kemudian dilanjutkan oleh puteranya, Malik Az-Zahir. Di mana, pada masa ini seorang pengelana dunia asal Maroko bernama Ibnu Bathuthah sempat singgah di Aceh –sebelum ke China. Dalam ‘Rihlah’-nya, Ibnu Bàhuthah mencatat Malik Az-Zahir adalah Sultan Jawa yang bermadzhab Syafi’i.

Kiri, keturunan Arab di Tegal bersama pembantunya (Foto: Istimewa)

Namun demikian, lanjut Muhammad, secara umum sebaran Islam di seluruh Nusantara saat itu belum merata. Adapun meratanya sebaran Islam terjadi di masa Wali Songo pada abad ke-15 M. Terutama setelah murid-murid para wali itu membentuk kantong-kantong dakwah hampir di seluruh daerah di Nusantara.

Gerakan dakwah Islamiyah Wali Songo sudah terjadi bahkan sudah mulai masif pada abad 15 Masehi. Sedangkan imigran asal Hadramaut datang ke Nusantara pada tahun-tahun akhir abad ke-18 Masehi. Ramainya kedatangan mereka pada abad ke-19 Masehi –yang dari sini nanti terbentuk koloni-koloni Arab Hadramaut di beberapa daerah di Nusantara. Secara hitungan abad, berbeda tiga abad atau sekitar 300 tahunan. Bayangkan saja lama jeda masanya,” urai Muhammad lalu melanjutkan.

Kenyataan bahwa kedatangan imigran asal Hadramaut ke Nusantara terjadi pada akhir abad ke-18 dan membludak pada abad ke -19, antara lain dapat dilacak dari hasil penelitian seorang sarjana Belanda bernama Lodewijk Willem Christiaan van Den Berg. Yang mana, selama kurang lebih satu tahun, yakni pada 1885 ia melakukan penelitian khusus tentang kedatangan dan mencatat adanya koloni Arab Hadramaut di Nusantara. Kemudian, hasil penelitiaanya itu diterbitkan dalam bentuk buku berjudul ‘Le Hadhramout Et. Les Colonies Arabes Dans L’ Archipel Indien,’ dalam bahasa Prancis. Sabab pada masa itu katantnya bahasa internasional adalah Bahasa Prancis, belum Inggris. Buku ini belakangan yakni pada tahun 1980-an diterbitkan dalam edisi Bahasa Indonesia oleh INIS atau ‘Indonesian Netherlands Coorperation in Islamic Studies.’ Intinya, terkait hal ini saya mengungkap peristiwa yang ditelaah di masanya dan dibukukan di masanya juga,” terang Muhmmad.

Diungkapkan pula, dalam bukunya, dijelaskan oleh Van Den Berg bahwa kedatangan orang-orang Arab di Nusantara pada saat itu dibagi dua kelompok umum; Arab Mekah dan Arab Hadramaut atau yang kerab disebut Hadrami. Untuk Hadrami sendiri dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:

1-Kelompok Sayyid (Habaib)
2-Kelompok Pribumi Hadramaut
3-Kelompok Menengah
4-Kelompok Pembantu dan Budak

Disampaikan pula, adapun tujuan utama kedatangan mereka bukan untuk berdakwah apalgi menyebarkan Islam, melainkan untuk mencari kehidupan yang lebih baik dari sisi ekonomi yang mereka istilahkan dengan “Mencari Cincin Nabi Sulaiman.”

Jadi ternyata cincin Nabi Sulaiman itu adanya di Nusantara bukan di mana-mana. Itu buktinya pada awal abad ke-19 mereka beramai-ramai datang dari Hadramaut mencarinya ke sini, hahaha… Sekali lagi saya sampaikan, apa yang saya katakan ini berdasar sumber yang juga digunakan oleh banyak sejarawan; bukan asal-asalan. Dan, tentu pula bukan untuk merendahkan, tetapi untuk penyadaran. Karena (anak keturunan) mereka sekarang sudah menjadi warga negara Indonesia ya berlakulah sebagaimana umumnya bangsa Indonesia. Kita pererat persaudaraan, bukan malah mengekslusifkan diri apalagi di mana-mana kerap menyebut diri sebagai ini dan itu yang berujung pada kultus individual yang akan menjadi bibit pengkotak-kotakan,” tandasnya.

Saat ditanya, bukankah di antara imigran asal Hadramaut itu ada juga yang ulama dan menulis kitab serta membuka majelis pengajian serta mendirikan masjid? Muhammad menjawab.

Soal itu iya, walau jumlahnya kecil saat itu. Tetapi di sini kita harus pilah antara istilah ‘menyebarkan Islam’ dengan ‘mengajar pelajaran tentang keislaman.’ Kalau dikatakan menyebarkan Islam, berarti kepada penduduk non Islam agar masuk Islam. Sedangkan secara umum, pada abad ke-15 Mesehi saja ajaran Islam sudah mulai masif. Bahkan di Pulau Jawa; setelah Kerajaan Islam Demak, Cirebon dan Banten, pada fase berikutnya berdiri kerajaan-kerajaan yang sudah berlabel Islam. Misalkan, Mataram Islam dan kerajaan-kerajaan bawahan Mataram Islam serta yang laininya.

Muhammad menambahkan, sesuai data yang diteliti oleh Van Den Berg yang melibatkan sejumlah sayyid atau habib, termasuk Sayyid Utsman bin Yahya, dalam buku tersebut dicatat adanya sebagian pendatang asal Hadramaut yang mengajar pelajaran tentang keislaman di Batavia, yang awalnya hanya sebatas di lingkungan komunitas Arab saja. Dan, itu pun juga berawal dari peralihan minat, bukan tujuan utama kedatangan mereka.

Pada umumnya orang mengira bahwa sejak berabad-abad, orang Arab mengunjungi Nusantara lebih sebagai dai daripada sebagai pedagang. Apapun yang mendorong perpindahan bangsa Arab di abad-abad yang silam, tidak bisa disebutkan secara pasti, namun saya dapat menegaskan bahwa sejak 15 tahun terakhir ini (dari 1885), tak seorang Arab pun tiba di Batavia hanya menyebarkan agama. Tak terkecuali beberapa orang Arab di Nusantara yang menggeluti ilmu atau yang melaksanakan tugas keagamaan. Semua yang datang dengan tujuan lain, kemudian karena keadaan, berganti minat ke bidang agama seperti rekan mereka yang seagama. Pemuka agama yang sedikit jumlahnya yang diundang dari Hadramaut untuk menjadi pengurus mesjid di Nusantara, di wilayah (koloni) Arab, menerima tawaran itu demi upahnya, dan bukan demi pengabdiannya sebagai dai,” demikian seperti ditulis oleh Van den Berg pada Bab III dalam bukunya, yang dibaca oleh Muhammad di hadapan Padasuka.id dan Padasuka TV.

Proses shooting Padasuka TV dengan materi terkait di kawasan Depok, Jawa Barat (25/5/2020)

Bukan hanya orang-orang Arab Hadramaut, orang-orang Arab yang lain pun juga begitu. Muhammad kemudian melanjutkan uraian dalam buku tulisan Van den Berg tersebut.

Pendatang Arab yang datang dari daerah lain di luar Hadramaut, juga mempunyai tujuan yang serupa. Bahkan mereka yang sama sekali tidak berniat untuk bermukim di Nusantara, hanya datang untuk memenuhi kantong mereka. Mereka memang mencoba untuk mencapai tujuan itu dengan cara yang berbeda dengan orang Arab Hadramaut, yaitu memanfaatkan kebodohan penduduk pribumi, namun tak pernah seorang pun di antaranya yang mengajarkan isi Quran kepada orang kafir yang masih banyak jumlahnya di Timur Jauh.

Lantas, seperti apa hasil wawancara lengkapnya? Saksikan di kanal Youtube PADASUKA TV.

______
Keterangan
Foto / ilustrasi utama adalah ‘Hadhrami immigrants at Surabaya 1920.” Sumber foto: Wikimedia Commons.

Editor : M.A.R & Anuro

4 Comments

4 Comments

  1. Avatar

    Tri joni susanto

    1 Juni 2020 at 2:43 pm

    Jelas sudah para pendatang hanya akan mengambil atau membeli hasil bumi nusantara … Memang negara indonesia kaya akan hasil buminya akan tetapi kita sendiri menjadi budak dan tenaga pekerja mungkin mainsite yg harus dirubah bagaimana cara hasil bumi kita kelola di bumi nusantara …

  2. Avatar

    Amir maulana

    1 Juni 2020 at 5:31 pm

    Berarti selama ini org yg ngaku ‘ngarab’ sebenarnya adalah penjajah berkedok agama…harus diungkap sejelas-jelasnya

  3. Avatar

    Ridwan Fajar

    1 Juni 2020 at 6:44 pm

    Menunggu vedeonya dari redaksi, semoga ungkapan sejarah ini bermanfaat

  4. Avatar

    Budisus

    2 Juni 2020 at 11:48 pm

    Semangat Gus AR menulis sejarah islam NUsantara ….
    Sedikit2.dan pasti kebenaran menemukan jalannya…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top