Kabar

Ada Makam  “Waliyullah” di Gilimanuk, Sayang Kondisinya Menyedihkan !

Gilimanuk, Padasuka.id.- Jika Anda bertandang ke Bali lewat jalan darat, maka Anda kan melewati Pelabuhan Gilimanuk. Menurut cerita masyarajat sekitar, Pelabuhan Gilimanuk pada tahun 1920 masih berupa  hamparan hutan belantara, dihuni  oleh berbagai jenis marga satwa, seperti burung  Jalak Putih, Perkutut dan lainnya.

Orang dari Jawa pada saat itu menyebut Gilimanuk dengan nama Tanjung Selat.  Sedangkan orang Bali menamai daerah itu dengan nama Ujung. Sampailah pada suatu cerita  ada perahu dari Madura yang melintasi Selat Bali dihantam angin kencang dan gelombang besar sehingga mengalami kerusakan pada perahunya dan terdampar pada suatu Teluk. Oleh orang Madura pulau kecil itu disebut dengan nama GILI, sedangkan burungnya mereka sebut dengan nama MANUK (dalam bahasa Madura GILI : Pulau dan MANUK : Burung ).

Nah, di pelabuhan Gilmanuk ini ternyata ada “mutiara terpendam” yakni makam  keramat yang diyakini sebagai waliyullah oleh masyarajat sekitar. Tepatnya berada di dekat Kantor Polisi Militer. Masyarakat sekitar menyebutnya makam Mbah Gilimanuk. Sosok Mbah Gilimanuk ini diyakini sebagai penyebar Islam dan pendiri mushola pertama di daerah tersebut. Salah satu keberhasilan beliau dalam berdakwah adalah mampu mendamaikan antara pemeluk agama Islam dan Hindu  hidup secara damai dan saling berdampingan.

“Itu salah satu keberhasilan dakwah beliau menurut cerita orang tua kami,” ungkap ustadz Salam, salah satu tokoh masyarakat di sekitar makam Mbah Gilimanuk.

Adalah Ki Eko Satrio, penggiat PADASUKA BALI yang di akhir ramadhan lalu berkunjung dan berziarah ke makam Mbah Gilimanuk. “Dari Bali saya sengaja mampir ke  Majelis Munajat Tombo Ati Gilimanuk. Alhamdulillah kami bisa bersilaturrahim dengan jamaah PADASUKA  Gilimanuk.  Kami pun bisa secara berjama’ah membacakan do’a-do’a dari Kitab Munajat di majelis tersebut. Usai membaca Munajat, seakan-akan  ada vibrasi yang menarik kami untuk berziarah  ke makam itu,” ungkap Ki Eko Satrio.

Esok harinya, kata Ki Eko, ia dan penggiat PADASUKA Gilimanuk, Ibnu, Sinyo, ustad Salam, Dayat serta mbah Budiman, langsung berziarah ke makam Mbah Gilimanuk.

“Ternyata keadan makam tersebut sangat menyedihkan. Cat makam yang sudah usang,  banyak tumbuh ilalang dan pohon besar di sekelilingnya. Diperparah lagi  banyak orang berziarah dengan niat yang salah, meminta pesugihan, nomor togel dan hal-hal yang berbau mudharat.Kami pun langsung bergotong royong membersihkan area makam dan memperbaharui warna Cat. Usai membersihkan makam tersebut, malam harinya kami dapat informasi detail tentang Mbah Gilimanuk dari sesepuh kampung tersebut.  Ia mngatakan bahwa Mbah Gilimanuk adalah tokoh penyebar Islam yang mendirikan Mushola pertama di daerah tersebut. Kemudian nasibnya tragis karena dibunuh oleh Belanda,” ungkap Ki Eko Satrio.

Adapun asal-usul Mbah Gilimanuk tak banyak yag tahu secara pasti.  Tapi ada yang mengatakan bahwa beliau  adalah salah satu murid dari uama besar  Banyuwangi, Malik Ibrahim. Ada pula yang mengatakan bahwa beliau  adalah ulama yang datang dari daerah Lombok.

Namun, siapapun beliau, warisannya bisa dinikmati oleh generasi kini, dimana pemeluk agama Islam dan Hindu serta agama lainnya bisa hidup berdampingan secara damai.

2 Comments

2 Comments

  1. Avatar

    R. Syarif Rahmat RA

    2 Juni 2020 at 1:51 pm

    Akan lebih baik jika ditelusuri sejarahnya melalui para sesepuh yg masih ada, di samping pendukung lainnya.

  2. Avatar

    Amir maulana

    2 Juni 2020 at 6:32 pm

    Semoga bisa mampir suatu saat jika lewat sana…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top