Anekdot

Skak Mat! Soal Gubernur Shaleh Pria Ini Tak Berkutik

Foto : Istimewa

Fanatisme seseorang terhadap idolanya kerap membuat tidak berimbang dalam berfikir atau menelaah suatu keadaan atas orang yang diidolakannya. Asal mengidolakan, kerap lupa bahwa idolanya itu adalah manusia biasa yang dalam istilah anak pesantren disebut sebagai “mahallul khatha’i wa nisyan,” alias tempat salah dan lupa. Karena fanatisme berlebihan hingga melupakan fitrah manusia yang “mahallul khatha’i…,” maka seseorang cendrung “mahallul qiyam.” Alias segera berdiri untuk pasang pembelaan jika ada yang tidak sejalan dengan idolanya tersebut.

Di suatu sore yang indah seusai hari raya yang kurang raya dua sahabat saling bertukar informasi mengenai kondisi ‘new normal’ di sela-sela penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Di Jakarta sudah Nyok Normal katanya ya Mas?” Tanya Mattasim kepada Mattamir, sahabtanya, melalui sambungam TG.

“Bukan Nyok Normal, Cak. Tapi New Normal. New: En Ee We, bacaaannya Nyiu bukan Nyok. Arti lengkapnya: Normal Baru. Kalau Nyok itu Bahasa Betawi dari kata Yuk,” jawab Mas Amir sapaan populernya di kalangan mahasiswi di kampusnya.

“Alaah…!! Sama ajalah, Mas. Masak gitu aja pakai Tajwid segala mengeja bacaannya. Lagian kok artinya Normal Baru, memang ada Normal Lama. Kayak dawuh-nya Imam Syafi’i aja, ada Qaul Qadim dan Qaul Jadid,” jawab Mattasim.

“Bukan gitu Cak. Saya ngasih tahu pelafalan bacaan yang benar itu biar sampean nggak diketawain orang….,” timpal Amir yang langsung dipotong oleh Mattasim.

“Orang bule aja Bahasa Indonesianya belepotan malah jadi tenar dan sering ditiru sama sampean. Masak saya ndak boleh belepotan pakai bahasanya bule. Lagi pula, adanya virus Kak Rona itu telah menjajah kedaulatan Bahasa Indonesia. Banyak banget istilah yang pakai bahasa asing. Apa itu, ada tancing, ada tazer, ada plet-plet, sekarang muncul lagi nyiu-nyiu. Lama-lama kosa kata Bahasa Indonesia nganggur, lapuk, terus hilang karena kelamaan ndak dipakai.”

“Ini kan penyesuaian Cak. Karena wabah ini bersifat internasional, maka banyak istilah yang dipakai juga yang berstandar internasional. Itu virus, namanya Korona, bukan Kak Rona, Cak,” jawab Amir.

“Lah yang benar itu Kak Rona, Mas. Kata Pak RT saya di kampung yang dia baca di tulisan penggede, virus itu sudah ada sejak sekitar 200 tahun sebelum Yesus lahir. Maka pantas kalau saya panggil ‘Kak’ alias ‘Kakak’ karena dia jauh lebih tua dari saya.”

“Owalah… Itu toh maksud sampean. Terus bagaimana kondisi di kampung, Cak?” Jawab Amir seraya bertanya.

“Alhamdulillah selama ini aman-aman saja, Mas. Kehidupan tetap normal, cuma uangnya nih yang mulai ndak normal, kelamaan di kampung,” jawab Mattasim.

“Ya sabar, Cak. Tunggu kondisi benar-benar normal,” jawab Amir.

“Kalau sampean kan tinggal di Jakarta, enak Mas. Bantuan dari Pak Gubernur jos banget tuh. Selain sembako, ada lauk pauknya juga. Pakai daging lagi, mantaplah itu….” jawab Mattasim yang dipotong oleh Amir.

“Boro-boro danging, Cak… Wong beras aja baru dapat nih, pas mau lebaran kemarin. Itu pun saya nggak tahu dari siapa? Pokoknya petugas RT nganterin beras lima kilo, ada mie instannya lima, dan satu kaleng sarden. Dari dulu yang katanya mau dikasih bantuan, baru tujuh hari yang lalu saya kebagian, Cak ” jawab Amir agak menggerutu.

“Ya sabar, Mas. Nunggu kondisi benar-benar normal. Ya siapa tahu…”

“Sabar, sabar gimana, Cak, kondisi kayak gini. Pemasukan nggak jelas, pengeluaran sudah pasti. Honor saya sebagai juri pun malah belum turun-turun… Mesti sabar yang kayak apa lagi,” potong Amir.

“Ya sabar, Mas. Nunggu kondisi benar-benar normal. Siapa tahu kalau kondisi normal Pak Gubernur ngasihnya juga normal seperti yang disampaikannya sendiri pada Aa’ Gim yang pidionya spiral itu,” jawab Mattasim santai.

“Jangan bawa-bawa Pak Gunernur, dong Cak. Bagaimanapun beliau adalah gubernur shaleh. Bisa saja perincian awalnya memang seperti itu, tapi karena kondisi di lapangan jadi berubah. Atau bisa saja ada bawahannya yang…..,” jawab Amir dengan suara agak meninggi dan langsung dipotong oleh Mattasim.

“Loh gimana sampean ini, Mas? Tadi ngedumel, sekarang belain gubernur?” Jawab Mattasim.

“Saya ngedumel pada kenyataan, bukan pada Pak Gubernur saya. Bagaimana pun beliau gubenrur shaleh,” timpal Amir.

“Iya deh… Gubernur shaleh. Jangankan bantuan ya Mas? Lah, banjir ana di DKI nunggu hari libur… Bayangkan itu? Walaupun ndak lama kemudian malah banjirnya yang ndak mau libur-libur, hahaha…,” jawab Mattasim sambil tertawa yang disambut tawa pula oleh Amir. Jadilah mereka tertawa ngakak berdua.

“Eh, Cak. Kalau gubernur saya, bagaimana pun beliau sudah pernah dapat julukan sebagai gubernur shaleh. Ketimbang gubernur sampean… Nggak akan pernah jadi gubernur shaleh. Buktikan saja nanti. Sampai akhir jabatannya, beliau nggak akan pernah jadi gubernur shaleh,” tukas Amir berbalik nyandain Mattasim.

“Ndak bisa gitu Mas. Gubernur Jawa Timur itu, ibu nyai. Pernah jadi menteri, pengalaman di organisasi; sukses jadi Ketua Muslimat NU. Kalau saat ini hasil kerja beliau belum begitu terlihat, maklumlah, kan masih baru aja menjabat,” jawab Mattasim membela.

“Tetap aja Cak. Bagaimanapun hebatnya gubernur Jawa Timur yang sekarang, nggak bakal dapat predikat gubernur shaleh,” jawab Amir santai.

“Loh kok bisa? Tunggu dulu dong…,” jawab Mattasim.

“Tetap nggak bakal bisa Cak dapat predikat gubernur shaleh. Sebab beliau itu….,” jawab Amir dan langsung dipotong oleh Mattasim.

“Terus apa alasan sampean kok bisa langsung vonis begitu?” Tanya Mattasim dengan suara yang mulai meninggi.

“Ya iyalah, Cak. Kalau toh umpamanya beliau hebat, membela kepentingan rakyat, dan berhasil dalam memimpin selama lima tahun ke depan, pastinya nggak akan disebut sebagai gubernur shaleh. Sebab beliau itu perempuan. Mana mungkin disebut gubernur shaleh. Yang paling mungkin ya disebut gubernur shalehah…”

“Oh iya ya..?” Jawab Mattasim mesem lalu mereka tertawa bareng.

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Amir maulana

    2 Juni 2020 at 6:28 pm

    Perdebatan kata yg renyah…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top