Kabar

Peran Orang Mongol dalam Sebaran Islam di Jawa di Awal Majapahit

Padasuka.id – Sarang. Pola sebaran Islam di Nusantara sangat variatif dan beragam caranya. Dalam naskah China disebutkan pada sekitar abad ke-7 Masehi sudah ada orang-orang Islam yang masuk ke Nusantara. Begitu pula pada abad-abad setelah itu, umumnya disebutkan mereka berdagang sambil berdakwah. Bahkan, pada abad ke-13 M, di Aceh sudah berdiri Kerajaan Samudera Pasai yang dipimpin sultan muslim, Malik al-Shaleh. Namun demikian, secara umum diketahui sebaran Islam yang terbilang merata dan tersistem terjadi pada masa abad ke-15 M, yakni di masa Wali Songo yang digerakkan dari Pulau Jawa.

Walaupun di Jawa umumnya sangat lekat dengan islamisasi oleh Wali Songo, namun sebelumnya sudah banyak daerah yang masyaraktanya memeluk agama Islam. Satu di antaranya adalah daerah Sarang, wilayah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sebaran Islam di Sarang atas jasa orang-orang Mongol jauh sebelum era Wali Songo.

Mengenai kisah tersebut di atas diungkap oleh almarhum KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) saat menyampaikan sambutan dalam acara ‘Silaturahim ‘Alim Ulama Nusantara’ yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Kamis, 16 Maret 2017 yang lalu.

Mbah Moen dalam acara Silaturrahim Ulama Nusantara di PP Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jateng, 16 Maret 2017. (Dok. PP Al-Anwar)

Dalam acara di pesantren asuhannya itu Mbah Moen menyampaikan kisah masuknya Islam di Sarang yang menurutnya berasal dari pendakwah asal Bangka Belitung.

“Jadi sampainya Islam di Sarang ini pada masa Majapahit, lebih dahulu sebelum datang para Wali Songo; bukan dari Demak atau negeri-negeri Islam lainnya di Nusantara ini tetapi dari pendakwah Islam dari Bangka Belitung,” ungkap Mbah Moen saat itu.

Kisah tersebut menurut Mbah Moen diketahui dari ayahnya, KH Zubair Dahlan, yang didapat dari kakeknya secara berantai sampai ke buyut-buyutnya.

Diceritakan oleh Mbah Moen, ketika Khubilai Khan (Kaisar Mongol, cucu Jenghis Khan) menguasai China (mendirikan Dinasti Yuan) ia mengirim utusan ke Jawa (Singhasari) –agar rajanya mengakui kekuasaan Khubilai Khan– tetapi utusan itu malah dirusak wajahnya oleh Raja Singhasari, Kertanegera, lalu disuruh kembali ke negaranya.

Tidak terima atas perlakuan Kertanegara kemudian Khubilai Khan mengirim pasukan untuk menyerang Singhasari. Namun ketika sampai di Jawa, kerajaan Singhasari sudah runtuh dan diganti oleh raja baru, Jayakatwang. Kedatangan pasukan Mongol (ada yang menyebut pasukan Tartar) itu dimanfaatkan oleh Raden Wijaya, menantu Kertanegara yang sedang membangun hutan Tarik (cikal bakal Kerajaan Majapahit) untuk menumpas kekuasaan Jayakatwang yang telah meruntuhkan kekuasaan mertuanya. Ketika pasukan Jayakatwang kalah dan ia sendiri tertangkap, Raden Wijaya dan pasukannya balik menyerang pasukan Mongol. Singkat cerita, pasukan Mongol yang tidak menyangka akan diserbu oleh bekas sekutunya itu kalah dan dipukul mundur. Sebagian ada yang berhasil lari ke kapalnya dan kembali ke negara asalnya, sebagian yang lain ada yang lari ke berbagai daerah di Jawa dan sekitarnya.

Menurut Mbah Moen sebagian dari pasukan Khubilai Khan tersebut ada yang muslim. Prajurit yang muslim itu setelah lari dari Jawa lantas ada yang bersandar di Bangka Belitung dan menetap di sana. Kemudian, mereka berubah profesi menjadi petani dan ada juga yang berdakwah hingga sampai ke Sarang.

“Cerita ini saya dengar dari abah saya. Abah saya dari kakek saya. Kakek saya dari buyut saya. Buyut saya itu dulu mengajinya di Belitung, napak tilas ke pendakwah asal Belitung. Makanya di Kecamatan Sarang ada Desa Blitung,” terang Mbah Moen.

Disampaikan pula, untuk mengenang sejarah tersebut Mbah Moen membangun pintu gerbang sebagai prasasti di jalam masuk menuju Masjid Blitung di Dusun Blitung, Desa Kalipang –sekitat 4 km arah barat Desa Sarang, bertuliskan “MASJID JAMI’ WALI BLITUNG”. Di belakang masjid tersebut ungkapnya lagi terdapat makam Wali Blitung.

Mbah Moen menambahkan, Kiai-kia Sarang terdahulu mengaji di Blitung. Antara lain disebutkan, Kiai Umar Ibn Harun, kerabat dekat Kyai Cholil, dulu mengaji di Blitung. Bahkan kitab-kitab untuk mengaji dulu pun dari Blitung.

Kisah Mbah Moen tentang masuknya Islam ke Sarang juga ditulis oleh Muhammad Asif, seorang dosen dan peneliti. Dalam artikel yang dimuat di Kompasiana (5/2/2019) itu, ia memberi judul, “Kyai Maimun Zubair, Ahok (BTP), dan Islam Ahok.” Antara lain Asif menulis:

“Sebelum muncul polemik masalah Ahok dan munculnya “gerakan 212″, Mbah Moen dalam salah satu ceramahnya pada 2016 di Pesantren Al-Anwar 3, Sarang, Rembang, bercerita tentang Ahok. Cerita ini juga disampaikan ketika beliau mengisi ceramah pada acara Konsultasi Publik tentang Terjemah Al-Qur’an Kemenag RI yang diselenggarakan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Balitbang Kementerian Agama di Pesantren Al-Anwar 3 Sarang pada 14 Februari 2017.”

Diungkpakan oleh Asif, dalam ceramahnya Mbah Moen menceritajan pernah beberapa kali bertemu dengan Ahok dalam acara-acara tertentu. Suatu ketika dalam sebuah acara Ahok duduk tidk jauh dari Mbah Moen.

“Saya ceritaken ke Ahok bahwa Islam di Sarang itu Islam Bangka. Islam di Sarang itu berasal dari daerah Bangka. Maka Islam di sini itu Islamnya Ahok, haha,” ungkap Mbah Moen ke mantan Gubernur DKI Jakarta itu seperti ditulis oleh Asif.

Gerbang menuju Masjid Wali Blitung, Rembang (Foto: Istimewa)

Mengenai bukti lain kedatangan muslim Mongol yang tinggal di Bangka Belitung dan mengajarkan Islam ke Sarang, sama dengan uraian di atas. Yakni, adanya desa bernama Blitung yang identik dengan kata Belitung serta adanya Masjid Wali Blitung.
———-

Menilik dari catatan sejarah, seperti yang ditulis Slamet Muljana, serangan pasukan Mongol yang dipukul mundur oleh pasukan pendiri Kerajaan Majapahit, terjadi pada tahun 1293 atau pada akhir abad ke-13 Masehi. Terkait angka tahun ini, dalam paparannya, Mbah Moen tidak menjelaskan pada tahun berapa pasukan Mongol muslim yang menetap di Bangka Belitung kemudian jadi pendakwah itu datang ke Sarang untuk berdakwah. Atau, mungkin saja generasi dari bekas tentara Mongol tersebut.

Mengenai adanya pasukan Mongol yang beragama Islam banyak diungkap dalam catatan sejarah, bahkan sejak masa Jengis Khan. Serbuan Mongol atas negara-negara Islam yang membuat hal itu terjadi. Baik orang Mongol yang kemudian masuk Islam, atau orang-orang Islam yang diangkat menjadi pegawai dan tentara Kekaisaran Mongol. Sebagai kaisar, Jengis Khan tidak melarang hal itu, begitu pula dengan cucunya, Khubilai Khan.

Muhammad Tohir dalam “Sejarah Islam dari Andalus Sampai Indus” (1981) menjelaskan, orang-orang Mongol di Persia yang tiap hari bersentuhan dengan ummat Islam di sana lama-lama tertarik lalu masuk Islam. Sedangkan Khubilai Khan, pada saat itu banyak mengangkat muslim Iran menjadi pegawainya.

Sementara Agus Sunyoto dalam “Atlas Wali Songo” (2011) mengungkapkan, saat Khubilai Khan berkuasa pada 1275 M ia memberi semacam kebebasan dan kepercayaan kepada orang-orang Islam dari Turkestan di Asia Tengah untuk keluar masuk China. Orang-orang Turk Islam asal Balkh, Bukhara, dan Samarkand yang dipercaya, selain mendapat kedudukan yang cukup baik, ada pula yang diangkat menjadi menteri. Orang-orang asal Turkestan inilah, tulis Agus, yang mengembangkan Islam di wilayah-wilayah kekuasaan Khubilai Khan termasuk di Champa. (SM)

——
Keterangan
Foto utama: Ilustrasi yang menggambarkan Khubilai Khan menunggangi 4 gajah dalam pertempuran. (Dok. ancestryimages.com)

Editor : M.A.R & Anuro

4 Comments

4 Comments

  1. Avatar

    R. Syarif Rahmat RA

    11 Juni 2020 at 7:47 pm

    Hingga kini Belitung masih banyak warga keturunan China beragama Islam bahkan keislaman mereka sangat kuat.

  2. Avatar

    awang bachtiar

    11 Juni 2020 at 10:57 pm

    Alhamdulilah jadi nambah wawasan, semoga Padasuka. id semakin bermanfaat

  3. Avatar

    Amir maulana

    12 Juni 2020 at 8:14 am

    Sekarang banyak versi tentang bagmna islam pertama masuk ke Indonesia….klo saya pribadi lebih merasa apa yg disampaikan Alm Mbah Meon lebih masuk akal…

  4. Avatar

    budisus

    21 Juni 2020 at 9:54 pm

    Tambah lagi ilmu sejarah Islam NUsantara

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top