Kabar

Menurut Naskah Ini Sunan Kalijaga Berdarah Tiongkok (3)

Padasuka.id – Jakarta. Pada edisi sebelumnya telah diurai tentang seorang tokoh asal Tiongkok (China) yang bertugas di Filipina lalu dipindah tugas ke Tuban (Jawa Timur)  bernama Haji Gang Eng Cu, memiliki nama lain Aria Teja (ada yang menulis Arya Tejo). Merujuk pada naskah-naskah tradisi seperti Babad dan Serat, Aria Teja (ada yang menulis Arya Tejalaku, Raden Aryo Tejo III, dan lain-lain) yang merupakan ayah dari Nyai Ageng Manila dan menjadi mertua Sunan Ampel, maka dapat dikatakan tokoh ini adalah ayah Tumenggung Wilatikta, Adipati Tuban yang tak lain adalah ayah Sunan Kalijaga.

Maka, jika catatan dalam naskah yang disebut Kronik Sam Po Kong itu benar, berarti Raden Sahid (ada yang menulis Raden Mas Said) alias Sunan Kalijaga adalah tokoh ulama penyebar Islam berdarah Tiongkok dari garis kakeknya yang bernama China, Haji Gang Eng Cu.

Buku karya Prof Dr Slamet Muljana (terbitan ulang LKIS: 2005)

Lebih lanjut, dalam buku ‘Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara’ (Prof Dr Slamet Muljana : 1968) disebutkan bahwa Sunan Kalijaga bernama China, Gang Si Cang. Dikatakan pula ia menjadi kapitan China di Semarang (Jawa Tengah).

“Tahun 1481, Gang Si Cang memimpin pembangunan Masjid Demak dengan tukang-tukang kayu dari galangan kapal Semarang. Tiang masjid itu dibangun dengan model konstruksi tiang kapal yang terdiri dari kepingan-kepingan kayu yang tersusun rapi. Tiang itu dianggap lebih kuat menahan angin badai daripada tiang dari kayu yang utuh,” demikian antara lain yang tertera dalam buku itu.

Kisah tersebut tentu sangat berbeda dengan keterangan-keterangan yang terdapat dalam sumber-sumber umum yang beredar. Baik terkait asal-usul Sunan Kalijaga atau pun kisah pembangunan Masjid Agung Demak yang terkenal dengan ‘Saka Tatal’-nya seperti disitir di atas. Lantas, dari mana sumber utama penulisan buku Prof Muljana yang disebut berasal dari Kronik Sam Po Kong itu?

Diungkapkan oleh Muljana bahwa sumber utama penulisan bukunya itu berasal dari berita yang ditemukan di Klenteng Sam Po Kong, Semarang, yang diumumkan oleh Ir Mangaraja Onggang Parlindungan dalam bukunya, ‘Tuanku Rao,’ sebagai lampiran ke-31 –dari halaman 650 sampai 672 dengan judul, ‘Peranan Orang-Orang Tionghoa / Islam/ Hanafi di dalam Perkembangan Agama Islam di Pulau Jawa.’

Diungkapkan Muljana, naskah itu diperoleh dari hasil penyelidikan seorang Sinolog, Residen Pootrman, pada 1928. Saat itu Pootrman ditugaskan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk meneliti apakah Raden Patah yang dalam ‘Serat Kanda‘ disebut Panembahan Jimbun (Jin Bun) adalah orang Tionghoa atau bukan. Singkatnya, setelah terjadi penggeledahan di Klenteng Sam Po Kong Semarang pada tahun itu ditemukan tumpukan naskah kuno berumur ratusan tahun, beraksara dan berbahasa Tionghoa yang berisi keterangan tentang Jin Bun. Naskah-naskah itu lalu diteliti oleh Pootrman untuk mengetahui jati diri tentang Jin Bun sebagaimana yang ditugaskan pada dirinya.

Hasil penelitian Residen Pootrman tentang Panembahan Jinbun termuat dalam preambule (pendahuluan) suatu pre-advies (pasaran) kepada Pemerintah Belanda. Pada tahun 1928, Poortman menjadi Acting Adviseur Voor Inlandsche Zaken Van Het Binnenlandsch Bestuur di Batavia, yakni Pejabat Penasehat Urusan Pemerintahan Dalam Negeri di Jakarta. Ia menpunyai jabatan yang sangat penting. Prasaran Poortman kepada pemerintah Belanda diberi tanda GZG, singkatan dari Geheim Zeer Geheim, artinya sangat rahasia,” tulis Muljana dalam bukunya halaman 55.

Karena sangat rahasia maka tidak semua orang dapat membaca prasaran tentang Jin Bun tersebut. Dijelaskan pula bahwa prasaran itu hanya dicetak lima buah yang di antaranya tersimpan di Gedung Negara Rijswijk, Netherland, Belanda. Salah satunya dipegang Poortman sendiri yang setelah ia meninggal dunia diwarisi oleh anaknya.

Nah, sebagai putra dari Sutan Martuaraja, Mangaraja Onggang Parlindungan memiliki kedekatan khusus dengan Poortman. Maka, ketika ia belajar di sekolah tinggi di Delft, Belanda, ia sempat membaca dan mengutip hasil penelitian Poortman dalam preambule tersebut yang tersimpan di Gedung Negara Rijswijk. Hasil dari kutipannya itu kemudian diurai oleh Parlidungan dalam buku ‘Tuanku Rao’ sebagai lampiran ke-31 –yang kemudian dikenal dengan istilah Kronik Sam Po Kong.

Salain mengurai tentang Panembahan Jimbun atau Jin Bun alias Radeh Patah serta Sunam Kalijaga, dalam naskah tersebut juga diurai tentang terbentuknya perkumpulan dakwah yang dipimpin Bong Swi Ho alias Sunan Ampel yang mengerucut pada runtuhnya Kerajaan Majaoahit. Ringkasnya, bahwa Sunan Ampel dikatakan sebagai aktor intelektual yang berada di balik runtuhnya Kerajaan Majapahit yang sudah berusia ratusan tahun tersebut.

Terkait paparan di atas, lengkapnya bisa disaksikan di kanal Youtube PADASUKA TV dengan judul: “Walisongo Dari Cina; Fakata Atau Hoax?”

Dalam video tersebut, Muhammad AR yang diwawancarai Yusuf Mars (Pemimpin Redaksi Padasuka Media), mengurai dengan cukup rinci tentang naskah yang dikutip oleh Prof Slamet Muljana dalam buku, ‘Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara’ yang dielaborasi dengan sumber-sumber lain.

Kemudian, berkenaan dengan pendapat para sejarawan dan keabsahan dari naskah Kronik Sam Pokong, tentunya beragam versi. Ada yang menolak ada juga yang setuju. Bahkan, dalam beberapa ceramah di acara pengajian yang rekamannya beredar di kanal Youtube, penceramahnya mengutip sumber tersebut. Dalam kata lain, sang penceramah meyakini bahwa sebagian ulama yang tergabung dalam Wali Songo berasal dari China, sebagaimana disebutkan dalam Kronik Sam Po Kong. Selanjutnya, ikuti pada edisi mendatang. Bersambung…

Editor : M.A.R & Anuro

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Amir maulana

    29 Juni 2020 at 6:41 am

    To be continued…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top