Kabar

Gegara Cari Muka Mereka Nyaris Baku Pukul. Untung Mukanya Hilang

Ilustrasi/Ist.

Persoalan sepele terkadang jadi pemicu perselisihan yang akibatnya tidak sepele. Terutama soal kesalahan atau kelalaian dalam berbicara. Meskipun itu disampaikan tidak sengaja, apalagi memang disengaja, acap kali menjadi bibit-bibit permusuhan yang berujung perpecahan. Oleh karena itu, sangat tepat jika ada kalimat bijak yang berbunyi, “Keselamatan manusia terletak pada penjagaan lisannya.”

Masih seputar pentingnya menjaga lisan dari perkataan yang tidak semestinya, bahkan kita disarankan diam jika berbicara tidak ada manfaatnya. Kaidah lain menyebutkan, “Barangsiapa banyak bicara, maka (kemungkinan) ia akan banyak salahnya.” Merujuk pada kaidah ini, tidak heran jika kemudian banyak kasus tindak pidana kekerasan bahkan pembunuhan yang berawal dari kesalahan bicara akibat kesalahfahaman.

Membahas soal kesalahfahaman dalam pembicaraan ternyata juga terjadi pada dua orang sahabat, Mattasim dan Mattamir. Dua orang sahabat karib yang beda profesi ini melalui sambungan video call terlibat percakapan hangat. Kangen-kangenan, karena memang sudah lama tidak bertemu akibat terhalang suasana wabah.

“Kok kayaknya sampean jadi lemes gitu Mas. Ada apa memang?” Tanya Mattasim pada sahabatnya, Mattamir yang di kalangan mahasiswi di kampusnya lebih akrab disapa Mas Amir.

“Tahulah Cak. Lama-lama jadi bosen juga saya di tempat kerja. Ingin keluar saja rasanya cari suasana baru,” jawab Amir dengan nada bicara pelan setelah sebelumnya penuh hangat saling sapa dan canda.

“Memang ada apa Mas di tempat kerja sampean?” Selidik Mattasim.

“Dapat teguran dari kepala sekolah. Udah gitu, yang lain juga pada nyalahin saya Cak. Ya, banyak yang cari muka ke atasan sekarang di tempat saya ngajar Cak,” jawab Amir pelan.

“Bagaimana ceritanya kok bisa begitu?” Selidik Mattasim lagi.

“Begini, tiga hari lalu kami ada pertemuan di sekolah untuk membahas tahun pelajaran baru. Saat akan masuk waktu Dhuhur, saya ke kamar mandi mau wudhu’ ternyata krannya rusak. Air ngucur terus, saya putar krannya, nggak bisa-bisa. Ya udah, saya copot krannya sekalian saya inisiatif beli kran yang baru. Sebab, sudah mau masuk waktu Dhuhur, kepala sekolah pasti akan ke kamar mandi juga. Kalau tahu kran rusak, beliau bisa murka. Maka itu, saya segera inisiatif beli kran baru. Nah, ketika kran baru itu saya pasang, ternyata air masih ngucur dari sela-sela drat-nya. Saya kencengin, malah ujung kran posisinya terbalik. Airnya jadi mancur ke atas,” jelas Amir yang ditukas oleh Mattasim.

“Terus apa masalahnya, Mas?”

“Saat saya usaha betulin kran yang baru itu tahu-tahu kepala sekolah datang mau wudhu’ juga mungkin. Tahu kran itu rusak, ia malah marahin saya. Ngomel-ngomel nggak karuan. Malah saya yang dituduh merusak kran, dan macam-macamlah pokoknya. Teman-teman guru, tahu sendiri deh, pada belain kepala sekolah, nyalahin saya, dasar pada cari muka semua… Menurut Cak Mat gimana?” Jelas Amir lalu bertanya.

“Kalau menurut saya, sampean yang salah.”

“Kok bisa? Saya mau betulin kran yang rusak, malahan saya sampai beliin kran baru. Dan itu pakai uang saya sendiri, nggak minta ke kas sekolah, kok bisa saya yang salah?” Jawab Amir dengan suara meninggi dan segera dipotong oleh Mattasim.

“Bukan hanya salah, tapi sampean juga yang cari muka….”

“Jangan asal ngomong Cak,” sergah Amir.

“Loh kok sampean sewot, santai aja Mas… Dengerin dulu saya ngomong. Sekarang saya mau tanya, sampean di sekolah itu tugas utamanya apa?”

“Ngajar,” jawab Amir mulai mereda.

“Bagian perawatan sekolah ada ndak?” Tanya Mattasim lagi.

“Ada,” jawab Amir.

“Nah, iya kan? Sudah tahu di sekolah itu ada yang ditugasi untuk perawatan sekolah, kok sampean yang ditugasi ngajar malah ambil tugas orang….” jawab Mattasim yang segera dipotong oleh Amir.

“Tapi Cak, apa cuma mau betulin kran rusak saja saya harus panggil bagian perbaikan, harus rapat dulu, gitu. Sedangkan waktu Dhuhur sudah sebentar lagi…”

“Lah iya Mas,” potong Mattasim lalu melanjutkan.

“Rusaknya kran itu karena apa, kan sampean ndak tahu. Atau, jangan-jangan malah ndak rusak, tapi sengaja airnya dikucurkan terus karena mau dikuras. Tapi karena sampean terlalu kenceng muter krannya, malah jadi rusak. Bisa juga kan seperti itu? Di lain pihak, sudah ada orang yang punya bagian kok sampean ambil bagian orang. Memang bagian yang ditugaskan ke sampean sudah beres semua? Sebaiknya sampean panggil orang yang punya tugas, biar jelas. Sampean juga ingin cari muka ke atasan sih, jadinya begini. Ndak bisa dipaksakan, jadinya malah berantakan,” terang Mattasim panjang lebar.

“Terus salah saya apa?” Tanya Amir dengan suara kembali meninggi.

“Banyak! Pertama, merasa bisa padahal belum biasa. Kedua, tugas orang sampean ambil begitu saja. Ketiga, sampean merasa peduli, padahal ingin dipuji. Keempat, ndak proporsional. Orang itu harus profesional dan proporsional. Saya ini sadar sebagai penjual sate, ketika ada orang yang minta batuan saya jual Monas, saya ndak mau, karena itu bukan porsi saya, Mas….”

“Kamu kok jadi nyalahin saya Cak, maumu apa?” Tukas Amir semakin merasa tersudut.

“Ya, memang sampean yang salah kok. Sampean ngeluh dimarahi atasan dan dicibir teman-teman, kan karena sampean gagal betulin kran? Kalau umpama sukses, sampean bisa saja merasa berjasa dan menganggap diri sebagai pahlawan kran. Orang lain dibilang cari muka, padahal sampean sendiri ndak paham kondisi dan tidak sesuai porsi. Nah, yang kayak inilah ciri-ciri orang cari muka…”

“Sudah, sudah, nggak usah nyeramahin saya, stock ceramah di Youtube masih banyak. Saya yang usaha betulin kran agar kepala sekolah kalau mau wudhu’ biar enak, kok malah saya yang dibilang cari muka,” jawab Amir tampak semakin kesal.

“Nah itu buktinya, sampean betulin kran karena kepala sekolah kan? Coba sampean sadar diri, urusan kran sudah ada bagiannya, panggil saja yang punya bagian. Karena sampean ingin cari muka ke atasan, bukan bagiannya dan ndak bisa pula, dibisa-bisain. Karena gagal, akibatnya begitu, coba sukses, sampean merasa berjasa, merasa jadi pahlawan kran, hahaha…,” jawab Mattasim sambil tertawa.

Sementara itu Amir merasa dikuliti oleh temannya sendiri. Ia semakin tersulut emosi. Sebagai guru olahraga, agaknya ia pun piawai ilmu bela diri. Kaki kanan ia tarik ke belakang agak ke bawah, kaki kiri sedikit menekuk, tangannya segera mengepal dengan sikap sempurna. Ya, Amir pasang kuda-kuda sebagai isyarat menantang duel sahabatnya. Dengan lantang ia pun menantang.

“Ayo Cak. Maumu apa? Dari tadi kamu mojokin saya terus, kalau memang jantan jangan banyak bacot, ayo kita duel. Satu lawan satu,” teriak Amir.

Sedangkan di tempat berbeda Mattasim kebingungan. Karena gambar di layar HP-nya tiba-tiba gelap. Kalau sebelumnya dalam layar HP-nya tergambar wajah Amir, sekarang jadi gelap, hanya terdengar suara Amir samar-samar.

“Mas… Mas… Mas Amir, mukamu di mana? Kok mukamu tiba-tiba hilang. Wooiii… Mas… Mukamu di mana? Aku lagi nyari muka sampean nih, di mana muka sampean? Wooiii…”

Mungkin karena tersulut emosi, Amir lupa kalau ia dengan Mattasim hanya berhadapan lewat HP. Maka, ketika ia pasang kuda-kuda otomatias HP miliknya ia genggam sehingga gambar di layar HP Mattasim hanya tampak gelap. Sementara Mattasim tidak tahu apa yang sedang dilakukan Amir, yang ia tahu layar HP-nya jadi hitam dan wajah sahabatnya tiba-tiba menghilang.

“Woiii…!!!  Mas, mukamu di mana?””

2 Comments

2 Comments

  1. Avatar

    Amir maulana

    29 Juni 2020 at 6:33 am

    Pesan yg luar biasa…terimakasih mattasim dan mattamir yg sdh memberikan ‘joke’ yg penuh syarat makna…ditunggu ‘joke’ berikutnya…

  2. Avatar

    Budisus

    30 Juni 2020 at 9:55 pm

    Mak jleb yang suka cari muka…..

    Cerita yang mengispirasi dengan gaya sabtu dan kocak…

    🤣🤣

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top